Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Syaikhona Kholil Bangkalan, ‘Bapak Pesantren Nasional’

Syaikhona Kholil Bangkalan, ‘Bapak Pesantren Nasional’
KH Abdul Muqsith Ghazali, Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menjadi pembicara dalam acara webinar nasional yang dihelat NU Online Jatim, Rabu (03/03/2021). (Foto: NU Online Jatim).
KH Abdul Muqsith Ghazali, Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menjadi pembicara dalam acara webinar nasional yang dihelat NU Online Jatim, Rabu (03/03/2021). (Foto: NU Online Jatim).

Surabaya, NU Online Jatim

Keberadaan pesantren-pesantren di Indonesia khususnya di tanah Jawa, Kalimantan, dan Sumatera diyakini tidak lepas dari sosok Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Para pendiri pesantren di wilayah-wilayah tersebut patut diduga kuat ada keterkaitan keilmuan dengan Syaikhona Kholil. Sebab, tidak sedikit santri dari Syaikhona Kholil yang tersebar di tiga pulau besar di Indonesia tersebut.

 

Sehingga dinilai tidak berlebihan ketika Syaikhona Kholil disebut atau diberi gelar ‘Bapak Pesantren Nasional’. Bahkan pemberian gelar sebagai tokoh utama pesantren Indonesia dengan sebutan ‘Bapak Pesantren nasional’ itu bukan sekedar usulan. Melainkan juga berdasarkan fakta-fakta sejarah yang mendukung.

 

“Bukti arkeologisnya ada, kenapa kita tidak menyatakan Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai Bapak Pesantren Nasional. Karena kalau diurut mulai tadi itu (pembahasan tentang Syaikhona Kholil), seluruh pesantren itu berjejaring ke Bangkalan. Jadi Bangkalan itu pernah menjadi pusat ilmu,” kata KH Abdul Muqsith Ghazali, Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat menjadi pembicara dalam acara webinar nasional yang dihelat NU Online Jatim, Rabu (03/03/2021).

 

Dalam yang bertajuk ‘Meraih Gelar Pahlawan Guru Pendiri NU Syaikhona Kholil Bangkalan’ ini, Kiai Muqsith juga menyebut sejumlah kiai pendiri pesantren yang merupakan santri dari Syaikhona Kholil. Para pendiri pesantren tersebut diyakini memiliki kemampuan keilmuan karena peran Syaikhona Kholil.

 

“Kalau melihat Syaikhona Kholil Bangkalan yang abul ma’ahid syaikhul masyayikh, rasanya sulit membayangkan ada Lirboyo (Kediri) kalau tidak ada Syaikhona Kholil Bangkalan. Kiai Hasan Genggong misalnya, Kiai As’ad, Kiai Siddiq, Mbah Sepuh Suryalaya, dan seterusnya,” sebutnya.

 

Kemudian, ia juga menyatakan, kelayakan Syaikhona Kholil sebagai ‘Bapak Pensatren Nasional’ justru sudah lebih dari cukup. Itu tidak lain karena peran Syaikhona Kholil dalam eksistensi pesantren di Indonesia. 

 

“Jadi, Syaikhona Kholil ini kalau mau diusulkan sebagai Bapak Pesantren Nasional itu jauh lebih dari cukup untuk menetapkan itu. Kiai Hajar Dewantara saja dengan taman siswanya bisa kita sebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional.  Ini ada Hari Santri, tapi belum punya bapaknya. Nah itu, mungkin bisa dipatenkan. Ini ada undang-undang pesantren, ada hari santri, ini bapaknya siapa? Nah, abul ma’ahid al-islamiyah al-indonesiya itu nggak ada lain, syaikhul masyayikh, gurunya para guru-guru kita, Syaikhona Kholil Bangkalan,” tegas Kiai Muqsith.

 

 

Dalam kesempatan tersebut, Muhaimin sebagai Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) mengungkapkan sejumlah manuskrip tentang Syaikhona Kholil sebagai tokoh pesantren sekaligus tokoh ulama Jawa, Melayu hingga Dunia. Itu tercantum dalam manuskrip Syekh Yash Isa Al-Padangi.

 

Kemudian manuskrip Mbah Soleh Loteng tentang pengakuan ulama Arab terkait kealiman Syaikhona Kholil. Selanjutnya manuskrip Habib Salim bin Jindan tentang otoritas kealiman Syaikhona Kholil. Serta manuskrip-manuskrip lainnya.

Iklan promosi NU Online Jatim