Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Syaikhona Kholil di Balik Nasionalisme Ulama dan Santri

Syaikhona Kholil di Balik Nasionalisme Ulama dan Santri
Muhaimin, Ketua TP2GD dan tim pengusul Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan nasional saat menjadi pemateri dalam Webinar nasional yang digelar oleh NU Online Jatim, Rabu (03/03/2021).(Foto:Tangkapan layar)
Muhaimin, Ketua TP2GD dan tim pengusul Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan nasional saat menjadi pemateri dalam Webinar nasional yang digelar oleh NU Online Jatim, Rabu (03/03/2021).(Foto:Tangkapan layar)

Surabaya, NU Online Jatim

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kiprah para tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), NU Online Jatim menggelar Webinar nasional yang bertajuk “Meraih Gelar Pahlawan Guru Pendiri NU Syaikhona Kholil Bangkalan”, Rabu (03/03/2021).

 

Seminar tersebut digelar secara virtual dari gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim dengan menghadirkan beberapa pemateri yang dimoderatori oleh Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (INAIFAS) Kencong, Jember.

 

Salah seorang pemateri, Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), Muhaimin memaparkan, kiprah dan kontribusi Syaikhona Kholil Bangkalan dalam jejaring simpul Islam Nusantara. Selain itu, ia juga mengulas jasa Syaikhona Kholil dalam penguatan nasionalisme ulama-santri dalam perjuangan melawan kolonialisme di Indonesia dalam kurun akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

 

Dilatarbelakangi oleh kemunduran dan keruntuhan Turki Usmani, Gerakan Wahabisme di Jazirah Arab membawa perubahan dalam peta geopolitik dunia, membuat khawatir ulama di nusantara. Kemudian Syaikhona Kholil meresponnya dengan memerintahkan ulama dan umat untuk bersikap tenang tidak terpengaruh dalam dinamika geopolitik.

 

“Lalu beliau bersama beberapa ulama menginisiasi membentuk Komite Hijaz kemudian memerintahkan untuk menempuh langkah diplomasi kepada pemerintah Arab terkait eksistensi Islam Ahlussunah wal Jama’ah,” tutur penulis beberapa metodologi penelitian tersebut.

 

Lebih lanjut, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syaikhona Moh Kholil Bangkalan ini menceritakan kiprah Syaikhona Kholil sebagai pemimpin ulama nusantara saat itu, diantaranya adalah secara intensif mengumpulkan ulama di Bangkalan (1920-1926) untuk bermusyawarah memecahkan persoalan umat dan kondisi sosial politik di Indonesia, sampai pada akhirnya terbentuklah Jamiyah Nahdlatul Ulama.

 

“Disini peran dan kiprah Syaikhona Kholil sebagai pemimpin ulama se-Nusantara pada saat itu sangat signifikan dalam konteks membangun komunitas dengan mengumpulkan ulama se-Indonesia pada waktu itu,” katanya.

 

Menurut pandangan Muhaimin, bahwa pemikiran dan gerakan Syaikhona Kholil dalam nasionalisme Indonesia pada akhir abad 19 dan awal abad 20 antara lain mengajak ulama dan santrinya di Makkah agar kembali ke Indonesia untuk memperbaiki kondisi negerinya serta memberantas kolonialisme.

 

“Kalau kita analisis, Syaikhona Kholil itu adalah meneruskan estafet kepemimpinan gerakan nasionalisme pesantren yang sebelumnya dipimpin oleh Syekh Nawawi al-Bantani, dengan melakukan pencerahan pendidikan dan penguatan nasionalisme di kalangan pesantren, beliau juga aktif memberdayakan masyarakat melalui agama, pendidikan, sosial, dan poltik,” tandasnya.

 

Dirinya mengungkapkan, beliau juga sangat aktif menggelorakan semangat nasionalisme melalui mimbar-mimbar pengajian, tim menemukan di dalam manuskrip hubbul wathan minal iman, kitab fikih beliau. Disini kita menemukan bukti otentik bahwa Syaikhona Kholil ikut menanamkan cinta tanah air, menjadi pemantik nasionalisme santri, fakta-fakta sejarah telah membuktikan hal tersebut.

 

“Di langgar-langar (mushalla) dan pesantren inilah Syaikhona Kholil menjadi inisiator gerakan nasionalisme di kalangan ulama santri  dan menjadi pemantik bagi santri untuk berjuang melawan kolonialisme. Setelah para santri keluar atau selesai mondok disana, mereka melakukan pergerakan nasionalisme maupun fisik melawan kolonialisme Belanda,” ungkapnya.

 

Ditegaskannya, tim peneliti melakukan analisis dari perspektif ilmiah, bahwa kiprah Syaikhona Kholil secara tidak langsung menyiratkan kepedulian dengan semangat kelompok yang hendak membangun suatu bangsa  mandiri, dilandasi jiwa, dan kesetiakawan untuk bersatu.

 

“Dalam hal ini, Syaikhona Kholil menerjemahkan apa yang dianalisis oleh Ernest Renan dengan menyatakan bahwa nasionalisme sebagai kehendak untuk bersatu (le desire d’entre ensemble). Kalau kita analisis pertemuan ulama-ulama Indonesia saat itu lebih awal dari Sumpah Pemuda,” tegasnya.

 

Dijelaskannya, bahwa tim peneliti juga menemukan manuskrip, dalam hal ini pemerintah Hindia Belanda berkirim surat ke Syaikhona Kholil, dalam lembaran surat ini Syaikhona Kholil menuliskan doa perampok yang harus dipotong tangan dan kakinya, peneliti menginterpretasi dengan sikap Syaikhona Kholil kepada Belanda yang mengibaratkan sebagai perampok yang harus dipotong kakinya, ini adalah bentuk perlawanan Syaikhona Kholil kepada Hindia Belanda.

 

“Temuan penting penelitian, Syaikhona Kholil menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan para calon pejuang dan pahlawan, hal ini tidak terbantahkan dalam fakta sejarah. Santri-santri Syaikhona Kholil banyak yang menjadi pejuang, bahkan beberapa diantaranya telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional, sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH As’ad Syamsul Arifin,” jelasnya.

 

Jejaring Islam nusantara Syaikhona Kholil menjadi muara jejaring ulama di tanah Jawa dan nusantara. Genealogi intelektual yang saling berhubung dan bersambung ini menjadi kapital besar dalam membangun peradaban termasuk perlawanan kultural kaum santri.

 

“Banyak sejarawan yang mengungkapkan keberadaan Syaikhona Kholil, sebagai puncak tujuan pengembaraan ilmiah di tanah jawa. Catatan Snouck Hurgronje tentang temuannya mengenai ajaran ngetan dan masantren di kalangan masyarakat Sunda. Sedangkan catatan yang sama juga ditulis oleh seorang peneliti dari Jepang yaitu Hiroko Horikhosi saat melakukan penelitian di Garut (1972-1973) yang bermuara pada Syaikhona Kholil,” ujarnya.

 

Ia juga mengemukakan, tim sudah menemukan beberapa manuskrip, diantaranya  manuskrip Syekh Yash Isa Al Padangi tentang Eplesentrum, di dalam manuskrip ini yang menyatakan bahwa Syaikhona Kholil sebagai ulama Jawa dan Indonesia bahkan juga dunia, manuskrip Mbah Soleh Lateng tentang pengakuan ulama Arab terkait kealiman Syaikhona Kholil.

 

 

Mengakhiri pemaparannya, Muhaimin mengemukakan bahwa tim peneliti menemukan manuskrip Kiai Ahmad Qusyairi dari Jember tentang Syaikhona Kholil, di dalam manuskrip ini dikisahkan santri-santri dari Madura, Jawa, Sunda, dan Melayu mondok sekaligus menuntaskan  pengembaraan ilmiahnya dengan belajar kepada Syaikhona Kholil, ditemukan juga di dalam manuskrip Habib Salim bin Jiddan tentang otoritas kealiman Syaikhona Kholil.

 

“Bahkan dalam literatur sejarah, Presiden Sukarno dalam beberapa kesempatan pernah sowan ke pesantren Syaikhona Kholil. Kami berharap  doa dan dukungannya, kami harus bersinergi dengan semua elemen masyarakat dan ormas, khususnya NU untuk menyukseskan Syaikhona Kholil sebagai pahlawan nasional,” pungkasnya.

 

Editor : Romza

Iklan promosi NU Online Jatim