Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Tahapan Mendidik Anak menurut KH Mustain Syafii

Tahapan Mendidik Anak menurut KH Mustain Syafii
KH Mustain Syafii, Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Jombang. (Foto: NOJ/Yt)
KH Mustain Syafii, Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Jombang. (Foto: NOJ/Yt)

Masalah pendidikan anak di dalam keluarga adalah persoalan yang sangat banyak dibicarakan. Sebagian orang bahkan beranggapan bahwa pendidikan anak yang paling utama bukan di bangku sekolah, namun justru yang paling penting adalah tahapan pendidikan di dalam keluarga. 

 

Namun tidak banyak yang mengetahui bagaimana ajaran Islam mengenai pendidikan anak, khususnya berkenaan dengan cara memberikan pendidikan dalam level usia yang berbeda. Sebab tentu perbedaan usia mempengaruhi pada perbedaan pendekatan dalam melakukan pendidikan pada anak dalam keluarga sebagaimana tuntunan Islam.

 

Dalam hal ini, Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, Jombang KH Ahmad Mustain Syafii menjelaskan beberapa fase berbeda dalam mendidik anak yang sayangnya, tak jarang tahapan fase ini kerap kali tidak dipahami oleh para orang tua sehingga menyebabkan kekeliruan dalam mendidik anak-anaknya.

 

Pembagian tahapan ini sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang tersirat dalam beberapa hadits nabi. Bahwa ada tiga fase secara umum yang dibagi oleh Kiai Mustain yaitu tahap awal 0-7 tahun, tahap dua 7-14 tahun dan tahap tiga 14-21 tahun.

 

Pada tahap pertama, seorang anak akan menghabiskan waktunya untuk bermain. Bahwa saat anak kita berumur 0-7 tahun maka pendidikan yang cocok adalah bermain. Karena pada saat itu fase seorang anak adalah dunia bermain. Namun demikian pada tahap ini seorang anak tetap harus dididik dan dipantau oleh orang dewasa. Seperti Nabi menyuruh mengajari anak salat pada usia 7 tahun.

 

Selanjutnya pakar tafsir Al-Qur’an ini menambahkan, dalam fase kedua yaitu saat anak berumur 7-14 tahun, jenis pendidikan yang cocok untuk seorang anak adalah pengajaran akhlak dan tata karma, bila perlu disertai pemaksaan.

 

Nabi berpesan bahwa jika anak sudah berusia 10 tahun dan tidak shalat, maka diperbolehkan untuk dipukul. Usia ini diajarkan tata krama terhadap Sang Khaliq, kepada orang tua dan manusia.

 

Pada fase berikutnya, yaitu umur 14-21 tahun, cara mendidik anak yaitu dengan pendekatan dialogis. Dalam tahap ini seorang anak diajak dan diajarkan untuk menceritakan tentang masalah yang dihadapinya.

 

Pada tahap ini kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendengarkan cerita anak. Di usia ini, anak-anak lebih butuh perhatian, butuh diakui dan didengarkan pendapatnya. Bila orang tua tidak tanggap maka anak akan lari dan pergi mencari 'pelampiasan' ke pada sesuatu yang lain untuk mendapatkan perhatian yang tidak dia dapatkan dari orang tuanya. Makin menghawatirkan lagi sebab pada saat usia ini, seorang anak mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis.

 

14 tahun ke atas anak adalah teman orang tua. Jadi pendekatannya dialogis. Hal ini sesuai dengan pesan Khalil Gibran: 'Anakmu bukan anakmu. Kamu bisa membuatkan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya'.

 

Terkadang dalam mendidik anak, orang tua seringkali menganggap jika putra-putrinya masih anak-anak. Sehingga diperlakukan kayak anak-anak. Ketika menasihati anak lewat lidah itu rawan menyakiti perasaan, kadang anak merasa bukan anak kecil lagi. Maka doa menjadi senjata utama.

 

Allah mencontohkan orang tua yang mendoakan anak-anaknya. Seperti dalam  al-Qur'an surat Ali Imran ayat 36, ada contoh doa Maryam untuk bayinya. Doa Nabi Ibrahim untuk anak turunnya juga banyak di al-Qur’an. Misalnya Surat Ibrahim ayat 40-41. Sehingga banyak anak turun Nabi Ibrahim yang jadi nabi. Tradisi nabi-nabi adalah mendoakan anak-anaknya.

 

Fase di atas sangat penting diketahui oleh orang tua baik laki-laki dan perempuan karena mereka berdua berperan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Keduanya memegang peranan penting dan strategis dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).

 

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda: Tidak  ada seorang anak Bani Adam, kecuali dilahirkan di atas firtahnya, (jika demikian) maka kedua orang tuanya itulah orang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Majusi ..... (Muttafaqun ‘alaih). Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda: Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau mengerjakannya ketika berusia sepuluh tahun. (HR Abu Daud, Al Turmuzi, Ahmad dan Al Hakim).

 

Makna yang terkandung dalam firman Allah dan hadits di atas sejalan dengan pendapat seorang ahli pendidikan, Dr. Decroly  yang menyatakan bahwa, 70 persen dari anak-anak yang jatuh ke dalam jurang kejahatan itu berasal dari keluarga-keluarga yang rusak kehidupannya. Oleh karena itu, orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk moral kepribadian anak, yaitu melalui pendidikan yang dipraktikkan melalui sikap perbuatan atau teladan dalam kehidupan sehari-hari.​​

 

Iklan Hari Pahlawan