Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka

Tak Sekadar Berkumpul, Lailatul Ijtima di Sumenep Diisi Kajian Kitab Kuning

Tak Sekadar Berkumpul, Lailatul Ijtima di Sumenep Diisi Kajian Kitab Kuning
Lailatul ijtima di MWCNU Bluto Sumenep juga diisi kajian kitab kuning. (Foto: NOJ/Habib)
Lailatul ijtima di MWCNU Bluto Sumenep juga diisi kajian kitab kuning. (Foto: NOJ/Habib)

Sumenep, NU Online Jatim

Kajian kitab kuning merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan di kalangan Nahdliyin. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk merawat warisan ulama terdahulu. Juga sebagai upaya menambah ilmu pengetahuan terkait khazanah Islam berupa kitab kuning.

 

Seperti yang dilakukan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bluto, Sumenep, Rabu (16/9/2020) malam. Kajian kitab kuning digelar di kediaman Ustadz Mosa, Pekandangan Sangrah, Bluto dengan diikuti pengurus harian dan lembaga MWCNU Bluto serta badan otonom.

 

Kali ini kitab yang dikaji adalah Nashaihud Diniyyah wal Washaya al-Imaniyah karya Asy-Syeikh Abdullah bin Alawi al-Haddad. Kajian kitab klasik yang ditulis pada tahun 1089 H kali  ini dipimpin Rais MWCNU Bluto, Kiai Marham Syuja'ie.

 

Kiai Marham, sapaannya, memberikan keterangan bahwa kitab ini mengulas beragam tema dalam perspektif tasawuf. Di antaranya taqwa, qulub, amal, ilmu, shalat, zakat, puasa, dan haji. Selain itu juga membahas terkait tilawat al-Qur'an, al-adzkar wad daawat, al-amru bil ma'ruf, nahy anil munkar, al-jihad, al-walayat wal huquq huquq.

 

"Bahkan juga ada pembahasan terkait al-muhlikat, muqarabah al-qalb wal jawarih, al-munjiyat," ujarnya.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Gingging ini pun menambahkan, bahwa di akhir juga ada uraian akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tujuh hadits yang berkaitan dengan jamaah dan nasihat yang bermanfaat.

 

"Dan hal inilah yang menjadi kelebihan dari kitab ini, " ujarnya sesaat setelah kajian kitab berlangsung.

 

Ustadz Musa menuturkan, bahwa kajian kitab dan doa bersama termasuk dari kegiatan rutinan lailatul ijtima yang diadakan setiap setengah bulan oleh pengurus MWCNU Bluto.

 

"Pelaksanaannya setiap Rabu malam, dengan berpindah-pindah tempat, sesuai dengan jamaah yang bersedia menjadi tuan rumah," ujarnya.

 

Ketua MWCNU Bluto ini menambahkan, bahwa rutinan merupakan media silaturahim antar pengurus MWCNU Bluto di tiap tingkatan. Selain  itu sebagai bentuk merawat tradisi yang pernah dilakukan ulama terdahulu.

 

"Bahkan, juga untuk melestarikan khazanah ilmu pengetahuan yang pernah dikarang oleh ulama-ulama terdahulu," pungkasnya.

 

Sebelum kajian kitab digelar, dilakukan doa bersama yang dipimpin KH Fathorrahman. Sedang pembacaan Surat Yasin dan al-Mulk dipimpin Kiai Mohammad Ali Wardi. Dan terakhir, doa dipimpin oleh KH Ruhamu.

 

Editor: Syaifullah

 

PWNU Jatim Harlah