Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Tanggapan Sejuk NU Jatim soal Libur Tahun Baru Islam Digeser

Tanggapan Sejuk NU Jatim soal Libur Tahun Baru Islam Digeser
Sekretaris PWNU Jatim, Akhmad Muzakki. (Foto: NOJ).
Sekretaris PWNU Jatim, Akhmad Muzakki. (Foto: NOJ).

Surabaya, NU Online Jatim

Dunia maya dihebohkan keputusan pemerintah yang menggeser tanggal merah (hari libur nasional) Tahun Baru Islam 1443 Hijriah dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menyikapi itu, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim berharap masyarakat tidak berpolemik karena keputusan itu didasarkan pada pertimbangan kemaslahan umat.

 

Keputusan mengubah tanggal merah peringatan dua hari besar Islam itu tertuang dalam SK bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menpan RB Nomor  712, 1 dan 3 Tahun 2021. Pemerintah beralasan penggeseran tanggal libur nasional sebagai upaya untuk mengurangi pergerakan orang demi mencegah penularan Covid-19 yang lebih luas.

 

Di SK itu, tanggal merah Tahun Baru Islam yang mestinya jatuh pada Selasa (10/08/2021) digeser ke Rabu (11/08/2021). Sementara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang semestinya jatuh pada 19 Oktober 2021 bergeser satu hari pada 20 Oktober 2021.

 

Segera setelah SK tersebut beredar ke publik, masyarakat pun menanggapinya secara beragam. Dunia maya juga ramai mengobrol itu. Bahkan, pada Selasa ini, di jagat percuitan tanda pagar 'Libur' jadi trending topic teratas Twitter Indonesia. Ragam komentar berseliweran. Ada yang bernada nyinyir, ada yang sepakat dengan keputusan itu, ada pula yang bernada canda.

 

Menyikapi itu, Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki mengatakan, bahwa apa yang diputuskan oleh pemerintah terkait libur 1 Muharram 1443 Hijriah tentu sudah didasarkan pada pertimbangan yang matang dan demi kemaslahatan masyarakat.

 

“Saya kira dasarnya itu adalah kemaslahatan bersama,” katanya dihubungi NU Online Jatim melalui sambungan telepon.

 

Ia menjelaskan, bila hari libur nasional tahun baru Islam tetap diputuskan pada Selasa ini, maka hari Senin dianggap hari kejepit karena hari Ahad dan Sabtu juga libur.

 

“Kalau Seninnya kejepit, ada kecenderungan orang itu untuk melakukan perjalanan karena dianggap itu long weekend. Walau pun perjalanannya tidak harus ke luar kota jauh, tapi kemudian ada proses menginap, juga kerumunan,” ungkap Muzakki.

 

 

Toh demikian, lanjut guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu, libur nasional 1 Muharram juga masih diakomodasi oleh pemerintah, kendati digeser satu hari. Muzakki menilai, hal itu tidak jadi persoalan senyampang tujuannya untuk kemaslahatan.

 

“Jadi, ini berpindah dari kemaslahatan satu ke kemaslahatan yang lain,” pungkasnya.


Editor:
F1 Bank Jatim