Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Tanggapi Politisi Demokrat, Gus Miftah Ungkap Fakta-fakta Makam Gus Dur

Tanggapi Politisi Demokrat, Gus Miftah Ungkap Fakta-fakta Makam Gus Dur
Tangkapan layar akun instagram Gus Miftah. (Foto: NOJ/ istimewa).
Tangkapan layar akun instagram Gus Miftah. (Foto: NOJ/ istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

Pernyataan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Rachland Nashidik bahwa makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dibiayai Negara masih menjadi perhatian banyak berbagai kalangan. Keluarga Gus Dur melalui Alissa Wahid sudah memberikan bantahan. Bahkan reaksi dari Barisan Kader (Barikade) Gus Dur juga sudah muncul.

 

Kali ini, KH Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah yang memberikan pernyataan menanggapi tudingan dari Rachland tersebut.  Melalui sebuah video di akun instagramnya, Gus Miftah menyampaikan bahwa membandingkan pembangunan museum di Kabupaten Pacitan untuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan makam Gus Dur yang ada di Jombang itu tidak relevan.

 

“Yang pertama, saya pikir ini perbandingan yang tidak sepadan. Kenapa saya katakan demikian, yang pertama, makamnya Gus Dur, itu satu komplek dengan Mbah Hasyim Asy'ari. Artinya apa,  makam itu sudah ada sejak lama. Dan yang perlu dicatat, Mbah Hasyim Asy'ari adalah pahlawan nasional,” kata Gus Miftah sebagaimana dilihat NU Online Jatim, Selasa (23/02/2021).

 

Ia juga menjelaskan, pemerintah tidak pernah membangun makam Gus Dur yang berada di komplek Pondok Pesantren Tebuireng.

 

“Kemudian yang kedua, dana yang disalurkan pemerintah itu untuk membangun sarana dan pra sarana di sekitar makam Gus Dur. Bukan untuk membangun makam Gus Dur. Kenapa pemerintah harus membangun sarana dan pra sarana yang ada disana, karena begitu banyaknya antusias jamaah yang ingin berziarah ke makam Gus Dur dan ke makamnya Mbah Hasyim Asy'ari. Ribuan saban (setiap) hari,” jelasnya.

 

Gus Miftah juga mengungkapkan, keberadaan makam Gus Dur bisa memperoleh dana ratusan juta yang digunakan untuk membantu masyarakat.

 

“Kemudian yang ketiga, kotak infaq, kotak amal yang ada di makam Gus Dur setiap bulan mampu menyumbang panti asuhan dan dluafa minimal Rp 300 juta. Maka dulu saya pernah pengajian dulu nyumbang 150 juta saya diprotes oleh pengurus makam. Gus bukan lagi Rp 150 juta, tetapi Rp 300 juta. Dan serupiah pun tidak diambil oleh pengurus makam, dan tidak diambil oleh Pondok Pesantren Tebuireng,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut Gus Miftah membeberkan, keberadaan makam Gus Dur sudah memberi manfaat secara ekonomi kepada masyarakat. Sebab bisa membuka lahan penghasilan bagi masyarakat.

 

“Fakta berikutnya, makam Gus Dur mampu menggerakkan ekonomi umat. Semuanya bergerak. Dari bus, perusahaan bus yang laku, kemudian rumah makan yang laku, dan pedagang-pedagang sekitar yang laku,” lanjutnya.

 

 

Secara tegas Gus Miftah juga mengingatkan bahwa oknum politisi yang membandingkan museum di Pacitan dengan makam Gus Dur gagal paham. “Artinya, kalau hari ini ada orang yang memperbandingkan antara pembangunan museum di Pacitan  dengan komplek makam Gus Dur, saya pikir dia gagal paham,” pungkasnya.

PWNU Jatim