Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Tantangan Pesantren sebagai Spirit Dakwah Nahdlatul Ulama

Tantangan Pesantren sebagai Spirit Dakwah Nahdlatul Ulama
Dakwah santri zaman now harus memanfaatkan teknologi. (Foto: NOJ/ASg)
Dakwah santri zaman now harus memanfaatkan teknologi. (Foto: NOJ/ASg)

Di dalam ilmu ushul fiqih, ada satu bab yang bernama mashadir al-ahkam (sumber-sumber hukum). Menariknya, di kitab ushul fiqih yang lain, bab ini dinamakan dengan adillah al-ahkam (dalil-dalil hukum). Tetapi kedua nama bab tersebut memiliki pembahasan yang sama yaitu tentang dalil-dalil hukum yang dijadikan dasar oleh para ulama untuk menetapkan hukum Islam atau fiqih. Dalil atau sumber itu meliputi al-Qur’an, sunah, ijma’, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, ‘urf, istishab, syar’u man qablana, qaul shahabi, dan syad al-dari’ah.

 

Mengapa dalam bab ini ulama berbeda dalam memberikan nama? Hal ini dikarenakan di dalam bab tersebut mengandung dua substansi pembahasan sekaligus. Al-Qur’an dan sunah bisa dikatakan sebagai mashadir atau sumber karena hukum itu diambil atau digali dari keduanya. Tetapi di sisi lain sumber-sumber tersebut juga mengandung metodologi penggalian hukum seperti pada qiyas, ijma’, istihsan dan seterusnya.

 

Lantas apa hubungannya bab dalam ushul fiqih ini dengan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU)? Yang ingin saya katakan adalah pesantren merupakan mashadir atau adillah bagi NU. Artinya pesantren merupakan sumber bagi NU, sumber kekuatan dan spirit perjuangan. Selain itu pesantren juga merupakan perangkat metodologis bagi NU dalam hal dakwah.

 

Menengok Kiprah Pesantren

Kita tahu bahwa pesantren merupakan rahim yang melahirkan NU. Di tangan syaikhul akbar KH M Hasyim Asy’ari, KH Abd Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri, NU didirikan. Ketiganya adalah kiai yang lahir dan dididik di dalam pesantren. Karenanya, sudah menjadi sebuah keniscayaan value yang dibawa ke dalam tubuh NU oleh para kiai adalah nilai-nilai yang bersumber dari pesantren. 

 

Pesantren adalah kawah candradimuka bagi para kiai yang akan memimpin organisasi terbesar di Indonesia ini. Pesantren merupakan tempat menempa kualitas intelektual maupun spiritual para santri yang suatu saat akan menjadi kiai yang memimpin umat. Oleh karena itu tidak berlebihan jika pesantren disebut sebagai sumber kekuatan dan spirit perjuangan NU.

 

Tidak hanya menjadi sumber, pesantren juga merupakan tempat mendesain dan merancang strategi dakwah ala NU. Hampir semua pendakwah atas nama NU pasti belajar tentang nilai dan strategi dakwanya dari pesantren. Kita tahu bahwa para pendakwah dari kalangan NU hampir seluruhnya adalah alumni pesantren.

 

Nilai dan spirit dakwah yang ramah, penuh kasih sayang dan kelembutan merupakan ciri khas yang melekat pada nilai yang diajarkan di pesantren. Selain itu dakwah ala pesantren juga menyasar pada masyarakat lapisan bawah secara langsung, seperti dakwah antar mushala, masjid, hingga lintas desa.

 

Contoh lain adalah banyak pesantren yang mewajibkan santrinya untuk berdakwah terlebih dahulu sebelum dinyatakan lulus. Para santri dikirim ke pelosok-pelosok desa yang tingkat pengetahuan agamanya masing rendah. Selain itu banyak juga alumni pesantren yang rela hidup sederhana di desa, membuka tempat belajar mengaji bagi anak-anak desa secara gratis. Juga ada yang mengisi pengajian di mushala atau masjid, atau sekadar memenuhi panggilan masyarakat untuk memimpin doa, pembacaan tahlil, dan istighotsah. Dan semua juru dakwah dari pesantren tersebut menegaskan bahwa pesantren merupakan tempat menggodok, meramu, dan meracik strategi dakwah yang dilakukan para kader NU.

 

Tantangan Zaman

Akan tetapi zaman terus berkembang, perubahan sosial menjadi sangat cepat akibat dorongan perkembangan teknologi informasi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi merupakan peluang bagi pesantren untuk mengembangkan diri, tetapi di sisi lain juga merupakan tantangan berat. Karena kehadirannya memberikan dampak negatif yang tidak kalah merusak.

 

Di zaman ini menurut hemat saya, ada tantangan besar bagi pesantren sebagai sumber nilai dan spirit perjuangan NU, juga sebagai tempat mendesain strategi dakwah NU. Tantangan besar tersebut adalah kemajuan teknologi. Kehadiran teknologi memang memberikan banyak kemudahan bagi manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Adanya smartphone, internet, dan media sosial, seakan menjadikan dunia berada di genggaman. Kita mau melakukan apa saja tinggal membuka layar handphone dan semua bisa terwujud. Kita bisa belajar, belanja, membeli makanan, ngobrol, atau aktivitas apapun sudah tersedia di layar smartphone.

 

Tetapi yang sering kita luput adalah hadirnya teknologi itu juga membawa seperangkat nilai yang bisa jadi sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di pesantren. Nilai-nilai yang dibawa oleh teknologi itu juga memberikan dampak negatif yang tidak disadari oleh para pengguna teknologi. Misalnya teknologi membawa nilai atau spirit kecepatan, kesegeraan, dan kemudahan.

 

Jika ketiga hal ini dibawa ke dalam proses belajar agama, maka dampak negatifnya akan sangat terasa. Oleh karena itu banyak orang ingin belajar dan paham soal agama dengan cara instan, dengan belajar di internet, lewat google, youtube, atau media sosial. Mereka enggan mencari ilmu kepada orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang jelas seperti kiai atau pesantren, karena dianggap membutuhkan waktu yang lama.

 

Tidak hanya itu, teknologi juga memberikan tantangan baru bagi pesantren dalam hal dakwah. Pesantren yang selama ini tidak membuka akses secara luas dalam penggunaan teknologi tertinggal dalam hal dakwah di dunia maya khususnya media sosial. Dakwah di dunia maya seakan dibanjiri oleh para pendakwah yang di luar kalangan NU. Bahkan para ustadz yang tidak jelas sanad keilmuannya bisa sangat terkenal di media sosial. Mereka memiliki banyak jamaah yang setia menunggu di akun media sosial sang ustadz.

 

Dunia media sosial yang dipenuhi para pendakwah prematur itu akhirnya melahirkan radikalisme. Pemahaman keagamaan yang sempit adalah sebab munculnya radikalisme, sedangkan pemahaman keagamaan yang sempit itu disebabkan para pendakwah yang tidak memiliki kapasitas keilmuan. Hal ini diperparah oleh kalangan politisi yang menggunakan agama untuk meraih keuntungan sesaat. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat saling menyalahkan, bahkan mengafirkan satu sama lain.

 

Kita harus mengakui bahwa mereka lebih dulu memanfaatkan internet khususnya media sosial untuk melakukan dakwah. Mereka sangat lihai menggunakan media sosial untuk mendapatkan jamaah yang setia, walaupun cara yang digunakan kadang melanggar ajaran agama itu sendiri. Contoh kecil adalah dengan membid’ahkan, mengafirkan, mengangkat isu-isu Timur Tengah, atau mengaku bahwa mereka adalah mualaf, mantan pastur dan lain sebagainya. Semua itu hanya bentuk strategi di media sosial untuk menggaet jamaah.

 

Mereka tidak mengindahkan etika dakwah, tidak mempedulikan kedalaman ilmu, kejelasan sanad, dan hal-hal yang substansial lain. Bagi mereka, yang terpenting adalah mendapatkan jamaah sebanyak-banyaknya dan itu berarti pundi-pundi keuangan akan terus bertambah di kantong para ustadz prematur.

 

Oleh karena itu, pesantren harus mulai sadar. Bahwa ada wilayah dakwah yang tidak terjangkau dengan hanya mengadakan pengajian di masjid, mushala, atau pengajian di pelosok desa. Ada jagat maya yang sangat luas menanti dakwah ala pesantren. Dengan memberikan pemahaman keagamaan yang benar dan utuh kepada masyarakat, serta menggunakan pendekatan dakwah yang lebih santun. Tentu saja ujungnya adalah mencerminkan Islam rahmatan lil’alamin.

 

Pesantren sebagai sumber nilai dan tempat meracik strategi dakwah sudah sepatutnya membuka diri untuk masuk ke dalam dunia dakwah dunia maya. Alasannya jelas, pertama agar nilai-nilai negatif dari teknologi itu bisa diimbangi atau digeser dengan nilai positif dari pesantren. Kedua, agar paham keagamaan yang terlalu sempit, radikalisme, atau politisasi agama yang menyebar melalui media sosial bisa diberantas.

 

Dengan demikian pesantren akan tetap menjalankan fungsinya sebagai sumber nilai moderasi dalam memahami ajaran agama ‘ala thariqati Nahdlatil Ulama, juga sebagai pusat pengembangan dakwah yang rahmatan lil’alamin, yang menjadi ciri khas dakwah Nahdlatul Ulama.

 

Selamat Hari Lahir ke-95 Nahdlatul Ulama.

 

Mustaufikin adalah Pengajar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, alumni Pesantren Tremas, Pacitan. 

Iklan promosi NU Online Jatim