Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Teladan Nyai Chasinah Masduqi Mahfudz: Keluarga Tak Tahu Kapan Berhalangan Puasa

Teladan Nyai Chasinah Masduqi Mahfudz: Keluarga Tak Tahu Kapan Berhalangan Puasa
KH Masduqi Mahfudz dan Nyai Chasinah. (Foto: NOJ/Ist)
KH Masduqi Mahfudz dan Nyai Chasinah. (Foto: NOJ/Ist)

Malang, NU Online Jatim

Perempuan merupakan makhluk istimewa. Salah satu hal yang menjadi indikasi adalah adanya masa menstruasi sebagai sebuah mekanisme biologis pada tubuh yang tidak dialami pria. Keluarnya darah kotor tersebut tak jarang menjadi penghalang untuk mengerjakan ibadah tertentu. Salah satunya tidak berpuasa di bulan Ramadlan. Sehingga bila sedang datang bulan, tidak sedikit perempuan yang memanfaatkan masa haid tersebut untuk makan dan minum di siang hari.

 

Berbeda cerita dengan Nyai Chasinah, istri dari KH Masduqi Mahfudz yang juga pernah diamanahi sebagai Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

 

Kesaksian kisah Nyai Chasinah ini disampaikan KH Achmad Shampton (Gus Shampton), salah satu putra Kiai Masduqi di akun Facebooknya, Jumat (07/05/2021).

 

“Setiap bulan Ramadlan, tiap kali melihat ibu-ibu, mbak-mbak berjilbab dengan santainya makan di warung, husnudzan saya mungkin mereka sedang uzur. Tapi melihat itu saya selalu teringat umi. Sepanjang hayat, kami putra putrinya tidak pernah tahu kapan umi tidak puasa karena uzur,” tulisnya mengawali kisah.

 

Hal tersebut bukan berarti Nyai Chasinah melakukan puasa Ramadlan saat haid, karena hal ini jelas dilarang agama. Gus Shampton menjelaskan bahwa ibundanya senantiasa menemani keluarga untuk beribadah bersama.

 

“Setiap kali sahur, umi selalu menemani abah, setiap kali lonceng jamaah di mushala berbunyi, umi selalu yang pertama bermukena,” ungkapnya.

 

Putra-putrinya menduga bahwa selama ini, ibunda mereka tidak pernah menunjukkan bahwa sedang uzur (haid) karena senantiasa istikamah dengan kebiasaannya.

 

Setiap kali lonceng jamaah berbunyi, Nyai Chasinah selalu menjadi yang pertama menggelar sajadah di shaf awal. Kecuali pada saat tertentu, bersiap di belakang keluarga.

 

“Kami putra-putrinya menduga jangan-jangan ummi uzur kalau umi ngendikan aku bagian ngunci omah, ayo budhal nang mushala jamaah’ (Saya yang bagian mengunci pintu rumah, ayo berangkat ke mushala berjamaah),” terang Gus Shampton.

 

Tahun-tahun terakhir menjelang wafatnya Nyai Chasinah, Gus Shampton pernah mengonfirmasi hal tersebut kepada ibundanya.

 

“Saat saya konfirmasi hal itu, umi tertawa mengiyakan. Saat saya bertanya kepada beliau, bukankah haram puasa bagi yang udzur? kapan umi membatalkan puasanya?  Beliau menjawab ‘nek wayah masak ngicipi masakan jelang berbuka’ (ketika masak, mencicipi makanan untuk berbuka),” jelas Gus Shampton mengakhiri cerita.

 

Tak heran, apabila dari keistikamahan tersebut, Allah mengaruniai Kiai Masduqi dan Nyai Chasinah sembilan putra-putri nan hebat. Salah satunya adalah KH Isroqunnajah yang saat ini menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang.

 

Kepada KH Masduqi Mahfudz dan Nyai Chasinah, alfatihah.

 

Editor: Syaifullah

F1 Promosi Iklan