Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Terpilih menjadi Waliyullah lantaran Berpenampilan Keren saat Maulid

Terpilih menjadi Waliyullah lantaran Berpenampilan Keren saat Maulid
Dengan berpenampilan perlente saat maulid, akhuirnya menjadi orang terpilih. (Foto: NU Online)
Dengan berpenampilan perlente saat maulid, akhuirnya menjadi orang terpilih. (Foto: NU Online)

Dalam kitab I‘anatut Thalibin karya Sayid Bakri bin Sayid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, terbitan Darul Fikr, Beirut, tahun 2005 M/1425-1426 H, juz III, halaman 414 ada sebuah cerita bagaimana cara ulama menggelar maulid. Betapa dengan perlakukan istimewa tersebut membuatnya menjadi kekasih Allah SWT.
 

Syahdan, suatu masa hidup seorang muda pada zaman amirul mukminin Harun Ar-Rasyid berkuasa. Pemuda ini berperangai buruk. Banyak perilakunya tidak menarik simpati penduduk Bashrah. Ia bukanlah pemuda idaman masyarakat. Penduduk kota tersebut kehilangan empati terhadapnya. Karena perilakunya yang tidak terpuji dan banyaknya maksiat terang-terangan itu, ia kehilangan wibawa di tengah masyarakat. Penduduk memandang rendah kepadanya. Tak seorang pun anggota masyarakat peduli kepadanya.

 

 

Namun demikian seorang muda ini selalu tampil lebih baik saat bulan Rabi‘ul Awal tiba. Ia berdandan perlente, mencuci pakaian yang dikenakan. Ia mengenakan wangi-wangian pada pakaian yang dikenalkan. Rambutnya disisir dengan rapi. Ia bercermin untuk memastikan penampilannya yang terbaik. Apakah yang dilakukan pemuda ini selanjutnya? Di luar dugaan masyarakat, ia mengadakan jamuan kenduri.

 

Di tengah jamuan itu ia meminta sejumlah penduduk untuk membacakan maulid atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perjamuan kenduri semacam ini dilakukan sepanjang usianya setiap kali bulan Rabi‘ul Awal tiba.

 

Setiap kali bulan maulid tiba, setiap kali itu juga ia berhias, berpakaian rapi, mengenakan parfum, menyisir rambut, menjamu penduduk, dan tentu saja meminta salah satu dari mereka untuk membacakan riwayat kelahiran Rasulullah SAW.

 

Meski demikian, penduduk tidak mengubah pandangannya terhadap pemuda yang beralih senja. Mereka tetap memandang hina salah satu anggotanya ini. Hingga pada giliran Allah mencabut nyawanya, penduduk masih saja membencinya. Penduduk dengan enggan dan berat hati mengurus jenazahnya.

 

 

Tetapi alangkah terkejutnya penduduk Bashrah. Ketika orang ini wafat, mereka mendengar suara tanpa bentuk (hatif) yang menggema di atas langit Bashrah.

 

“Hai sekalian penduduk Bashrah, saksikanlah jenazah salah seorang waliyullah. Ia adalah seorang yang mulia di sisiku,” kata suara tersebut.

 

Penduduk Bashrah lalu berduyun-duyun menyaksikan jenazah orang tersebut. Mereka mengurus jenazah itu dengan sebaik-baiknya. Mereka menggelar upacara pemakamannya.

 

Dalam mimpi mereka melihat orang yang baru dimakamkan mengenakan pakaian berbahan sutra halus dan sutra tebal berlungsin emas. Mereka melihat almarhum berjalan penuh wibawa dengan pakaian indahnya.

 

“Dengan apa kau mendapatkan kehormatan seperti ini? tanya mereka. “Berkat penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW,” jawab waliyullah tersebut.

 

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad.


 


Editor:
F1 Bank Jatim