Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Upacara Kemerdekaan Mengingatkan Perjuangan Hadratussyaikh

Upacara Kemerdekaan Mengingatkan Perjuangan Hadratussyaikh
Suasana upacara HUT ke-75 RI di Sekolah Dasar Iskandar Said Surabaya. (Foto: NOJ/Hida)
Suasana upacara HUT ke-75 RI di Sekolah Dasar Iskandar Said Surabaya. (Foto: NOJ/Hida)

Surabaya, NU Online Jatim

Nuansa peringatan hari kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia jelas terlihat berbeda dari kemerdekaan sebelumnya, khsusunya terkait upacara kemerdekaan.

 

Sering kali upacara kemerdekaan menjadi momentum menarik yang diikuti lapisan masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan. Namun akibat dampak pandemi Covid-19, pelaksanaannya pun terbatas, bahkan di Istana negara upacara dilakukan secara virtual.

 

Kendati demikian, pandemi Covid-19 nyatanya tidak menyurutkan semangat. Salah satu di antara lembaga pendidikan yang tetap melaksanakan upacara kemerdekaan adalah Sekolah Dasar Iskandar Said Surabaya. Sekolah ini berada di bawah naungan Nahdhatul Ulama dan beralamat di jalan Kendangsari, Tenggilis Mejoyo Surabaya.

 

Tentu pelaksanaan upacara di tengah pandemi Covid-19 mengakibatkan suasana berbeda. Akan tetapi menariknya dalam pelaksanaan upacara kemerdekaan ini  yang menjadi peserta adalah dewan guru. Sedangkan petugas upacara adalah lima sisiwa terpilih yang dilatih secara khusus. Masing-masing menjadi pemimpin upacara, protokol, dan pengibar bendera merah putih. Adapun petugas yang lain seperti pembaca proklamasi, pembukaan UUD 1945, dan Pancasila adalah guru.

 

"Upacara di tengah pandemi Covid-19 harus dijadikan sebagai momentum dalam mengenang jasa para pahlawan,” kata Maisyaroh, Senin (17/8).

 

Kepala SD Iskandar Said ini mengemukakan bahwa kekuatan, ketekunan, kesabaran, dan rasa tak kenal lelah harus terpatri dalam setiap generasi masa depan.  “Baik siswa maupun guru harus mampu beradaptasi dengan cepat guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Musaiyaroh.

 

Ia menambahkan sebagai sekolah yang mengedepankan Ahlussunah wal Jama'ah harus dapat mencerminkan moderasi, keumatan, dan kebangsaan. Hal itu sebagaimana dicontohkan oleh Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari.

 

“Kita ketahui bahwa saat memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, Hadratussyaikh KH M Hasyim Asyari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad,” jelasnya.

 

Dalam pandangannya, apa yang dilakukan Hadratussyaikh yang akhirnya membuat rakyat secara serentak melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945.  “Akibat fatwa tersebut, meledaklah perang di Surabaya yakni 10 November 1945,” tegasnya.

 

Dikemukakan, sebagai generasi masa kini dan masa depan, semua harus mampu menjiwai semangat juang dari para luluhur. Sehingga cinta tanah air dapat terpatri secara paten dalam kalbu.

 

Musaiyaroh turut menyampaikan dalam situasi seperti ini, semua kekuatan harus bersinergi secara kuat baik siswa, guru, dan orang tua. Peran orang tua menjadi sangat penting.

 

“Kesabaran dan keikhlasan orang tua dapat memacu semangat anak-anak dalam melakukan pembelajaran secara daring,” pungkasnya.

PWNU Jatim