Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Ustadz dan Petugas Upacara HUT RI di Ponpes Ini Kenakan Ragam Pakaian Adat

Ustadz dan Petugas Upacara HUT RI di Ponpes Ini Kenakan Ragam Pakaian Adat
Salah satu petugas upacara HUT RI di Pesantren Al-Arief mengenakan pakaian adat saat melaksanakan tugas. (Foto : NOJ/ Istimewa)
Salah satu petugas upacara HUT RI di Pesantren Al-Arief mengenakan pakaian adat saat melaksanakan tugas. (Foto : NOJ/ Istimewa)

Sumenep, NU Online Jatim

Upacara dalam rangka memperingati HUT RI di Pondok Pesantren sudah banyak dan biasa bagi santri atau ustadz mengenakan sarung dan baju koko. Namun, justru berbeda dengan suasana di Pondok Pesantren Al-Arief Jate Giliraja, Desa Jate, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep saat melaksanakan Upacara HUT RI ke-75 hari ini, Senin (17/ 08/ 2020).

 

Para ustadz-ustadzah, pengurus pondok, serta petugas upacara di Ponpes Al-Arief mengenakan berbagai pakaian adat. Mayoritas diantaranya mengenakan pakaian adat jawa yang khas dengan keraton. Bahkan ada yang mengenakan semacam pakaian khas keraton Songenep (Sumenep).

 

Kemasan acara dengan mengenakan baju adat ini bukan tanpa tujuan. Santri dibawah naungan Yayasan Al-Arief Jate yang menjadi peserta upacara diharapkan mengenal keberagaman termasuk pakaian yang ada di nusantara.

 

“Bangsa kita ini beragam. Termasuk pakaian adatnya, dan inilah yang ingin kami kenalkan kepada para santri, tentang ragam kekayaan (adat) nusantara. Santri atau orang pesantren bagi kami juga punya hak melestarikan kekayaan nusantara. Sehingga panitia memutuskan mengemas acara, para ustadz dan petugas upacara mengenakan baju adat saat upacara,” kata Zainal Arifin, Pengurus Yayasan Al-Arief Jate Giliraja.

 

Menurutnya, menghormati jasa pahlawan kemerdekaan juga harus dengan menjaga keragaman kekayaan bangsa. Bukan justru melupakan kekayaan pakaian adat, budaya atau tradisi.

 

“Semangat nasionalisme tidak cukup hanya dengan ucapan. Tapi kami mencoba untuk berkampanye tentang semangat nasionalisme melalui pelestarian kekayaan nusantara. Momentumnya baik, yaitu upacara HUT RI. Dan sebenarnya ini juga hampir sama dengan kemasan upacara HUT RI yang biasanya dilaksanakan di istana Negara. Biasanya yang hadir disana mengenakan pakaian adat,” jelas Arif.

 

Ia berharap, dengan selalu membuat kemasan upacara HUT RI yang berbeda setiap tahunnya bisa membuat para santri semangatnya tinggi untuk ikut serta.

 

“Ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Dan kami memang selalu berusaha mengemas upacaranya selalu lebih menarik disbanding tahun-tahun sebelumnya. Menarik dan bermakna, karena kami ada di lembaga pendidikan harus memberikan pembelajaran dari acara yang kami laksanakan. Terutama kepada para santri,” ungkap Arif.

PWNU Jatim