Uwais al-Qarni, Sang Penduduk Langit

Uwais al-Qarni, Sang Penduduk Langit
Meskipun tidak dikenal di dunia, sosok Uwais al-Qarni sangat istimewa. (Foto: NOJ/ITd)
Meskipun tidak dikenal di dunia, sosok Uwais al-Qarni sangat istimewa. (Foto: NOJ/ITd)

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan. Kulitnya kemerahan. Dagunya menempel di dada karena selalu melihat pada tempat sujudnya. Ahli membaca al-Quran dan selalu menangis. Pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut, yang satu untuk penutup badan, dan satunya digunakan sebagai selendang. Tiada orang yang menghiraukan, tidak terkenal di kalangan manusia, namun sangat terkenal di antara penduduk langit. Dia adalah ‘Uwais al-Qarni’ 

 

Tidak banyak yang mengenalnya, apalagi mengambil tahu akan hidupnya. Banyak suara yang menertawakan, mengolok dan mempermainkan hatinya. Tidak kurang juga yang menuduhnya sebagai pembujuk, pencuri serta berbagai macam umpatan, celaan dari orang sekitar.

 

Uwais telah lama yatim. Tidak mempunyai sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk bisa bertahan hidup, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk keperluan harian bersama ibu. Apabila ada uang lebih, digunakan membantu tetangga yang hidup miskin dan serba kekurangan.

 

Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta tidak mempengaruhi kegigihan ibadah. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat saat malam. 
 

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad tiba ke negeri Yaman. Seruan Rasulullah telah mengetuk pintu hatinya untuk menyembah Allah. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui rumah tangga dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang dia sendiri belum bisa.

 

Akhirnya, suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia menyampaikan isi hati dan memohon izin agar diperkenankan pergi ke Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau amat faham hati nurani anaknya, dan berkata: Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.

 

Dengan rasa gembira dia berkemas berangkat. Dia tidak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama pergi. Sesudah siap segala persediaan, ia mencium sang ibu. Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.

 

Saat tiba di Madinah, ia segera menuju rumah Nabi. Diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Sayyidatina ‘Aisyah  sambil menjawab salam Uwais. Namun ternyata baginda tidak berada di rumah melainkan tengah di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang.

 

Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman. “Engkau harus lekas pulang.”

 

Atas ketaatan, pesan sang ibu telah mengalahkan suara hati dan kemauan untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Dia akhirnya dengan terpaksa pulang dan hanya menitipkan salam untuk Nabi dan melangkah pulang dengan hati pilu.

 

Sepulang dari medan perang, Nabi langsung menanyakan kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit dan sangat terkenal di sana. Mendengar perkataan Rasulullah, sayyidatina ‘Aisyah R.A dan para sahabatnya terpegun. Rasulullah bersabda sembari memandang Ali dan Umar R.A: Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi. 

Barakallah.
 

Iklan Medsos