Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Wabah Corona Tak Surutkan Warga Jombang untuk 'Weweh'

Wabah Corona Tak Surutkan Warga Jombang untuk 'Weweh'
Jenis makanan yang dijadikan weweh warga Jombang jelang atau saat lebaran. (Foto: NOJ/KKm)
Jenis makanan yang dijadikan weweh warga Jombang jelang atau saat lebaran. (Foto: NOJ/KKm)

Jombang, NU Online Jatim

Saat lebaran menjadi momentum bagaimana umat Islam dari berbagai daerah mengeluarkan segala kekhasan yang dimiliki. Karenanya, hari raya Idul Fitri identik dengan mudik sekaligus merasakan sensasi yang tidak ditemukan di waktu lain.

 

Salah satu yang khas dalam tradisi Jawa Timur adalah kebiasaan ‘weweh’. Sepekan jelang hari raya, bahkan hingga hari raya ketupat nanti, tradisi ini tetap lestari kendati ancaman wabah Corona mengancam. Ya, asal tetap menjaga protokol kesehatan.

 

Sebenarnya weweh adalah memberikan sedekahan kepada orang lain pada saat hari-hari tertentu, misal menjelang lebaran, acara hajatan nikahan, dan acara-acara tradisi lain pada masyarakat khususnya di Jawa. Barang yang disedekahkan untuk weweh tidak sembarangan, umumnya adalah makanan. Namun, tidak juga sembarang makanan yang bisa diberikan, biasanya masakan khas masyarakat Jawa.


Hingga kini, tradisi weweh masih cukup dijaga warga Jombang. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kekuatan menjaga tradisi dan doktrin yang disampaikan para sesepuh agar kebiasan tetap lestari.

 

“Almarhumah ibu saya berpesan, dalam kondisi apapun, weweh harus tetap saya lakukan,” ungkap Siti Maryati kepada NU Online Jatim, Sabtu (15/05/2021).

 

Dijelaskan warga Segodorejo, Sumobito tersebut bahwa sepekan atau sepertiga Ramadlan terakhir adalah saat yang tepat untuk weweh. Makanan khas Jawa adalah barang yang dikirim, seperti nasi, sambal goreng, ayam kampung, dan bandeng. Mungkin untuk daerah-daerah tertentu bisa tidak hanya itu.

 

Pada saat weweh, biasanya memasak makanan dari setelah sahur sampai siang saat dluhur. Orang yang diberi weweh biasanya kerabat, tetangga atau mereka yang dianggap kurang mampu. Orang yang melakukan weweh adalah orang yang sudah berkeluarga, masih muda dan mampu.

 

Sudah menjadi tradisi di daerah pedesaan jika weweh harus dilakukan untuk menyambut datangnya hari raya. Pada saat lebaran diharapkan orang tua dan orang yang kurang mampu bisa ikut berbahagia menikmati makanan yang enak yang tidak bisa dijumpai setiap hari.

 

Makanan weweh diantarkan setelah dluhur sampai menjelang berbuka. Tradisi mengantarkan dilakukan tidak hanya pada satu desa saja, melainkan juga ke desa-desa lain jika ada keluarga yang jauh. Biasanya yang mengantarkan weweh adalah anak-anak jika hanya dalam satu kampung atau satu desa. Setelah diantar biasanya yang menerima weweh memberikan uang kepada anak. Uang ini biasanya untuk dijadikan tambahan uang saku saat hari raya.

 

“Anak-anak senang jika disuruh mengantarkan weweh karena dapat uang banyak,” ungkap ibu tiga anak ini.

 

Pergeseran Tradisi

Di kawasan perkotaan, tradisi weweh yang dilakukan seperti di atas sekarang jarang sekali dijumpai, bahkan nyaris sudah punah. Tradisi tersebut saat ini mempunyai makna yang bergeser. Jika pada zaman dulu weweh identik dengan mengantarkan makanan yang dimasak dengan menu khas Jawa, maka sekarang sudah berbeda.

 

Kesibukan adalah faktor utama yang menyebabkan weweh berupa makanan olahan tidak lagi dijumpai. Faktor yang lain adalah keluarga yang weweh lokasinya jauh dari orang tua yang diwewehi, jadi harus mudik terlebih dahulu. Tidak mungkin memasak makanan yang dilakukan bukan pada rumahnya sendiri.

 

Saat ini tradisi weweh memang masih ada, namun barang yang dijadikan untuk hantaran berbeda, bukan lagi makanan tradisional, melainkan makanan kaleng seperti kue, roti, minyak goreng, dan minuman kaleng. Selain makanan atau minuman kaleng juga parsel misalnya sarung, mukena, sajadah, barang pecah belah, dan sejenisnya.

 

Meskipun barang berubah, namun dari dulu sampai sekarang tradisi ini tidak berubah. Orang yang sudah berkeluarga seolah-olah wajib melakukan weweh kepada keluarga yang lebih tua. Misal, adik yang sudah berkeluarga kepada kakaknya. Selain itu, keluarga yang lebih muda juga memberikan kepada paman, bibi. Dan, yang tidak boleh ketinggalan adalah untuk orang tua, kakek/nenek, juga kakek maupun nenek buyut jika masih ada.

 

Tradisi saat ini tidak harus dilakukan jelang lebaran, namun pada saat bersilaturahmi di hari raya. Keluarga muda yang bersilaturahim di hari lebaran langsung meletakkan weweh ke belakang, baru ke ruang tamu untuk bermaafan.

 

Betapa luhur para leluhur menanamkan kepedulian kepada saudara yang lebih tua. Tradisi yang memang layak dipertahankan di tengah gempuran hidup serba individualis.

 


Editor:
F1 Bank Jatim