Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Waspadai Tanda Tangan Orang Madura

Waspadai Tanda Tangan Orang Madura
Pengendara motor kerap tidak memakai lampu sein saat hendak berbelok. (Foto: NOJ/PP)
Pengendara motor kerap tidak memakai lampu sein saat hendak berbelok. (Foto: NOJ/PP)

Nanto kerap melakukan perjalanan luar kota khususnya di Jawa Timur. Menjadi sopir tentu saja memiliki nilai lebih. Salah satunya cukup memahami perangai sebagian besar warga di berbagai kawasan.

 

Yang tidak dilupakan adalah saat mengantarkan pelanggan ke salah satu kawasan di Sampang.

 

Perjalanan harus dilakukan dengan terburu-buru lantaran rombongan yang memesan juga mendadak. Namun, bukan Nanto namanya bila menolak peluang. Yang penting harga cocok, sehingga bisa menambah isi dompet yang kerap kempis diterpa Corona.

 

Saat sampai di sebuah pasar di Bangkalan, dirinya terlihat sedikit emosi karena pengunjung tidak memperhatikan jalan. Jalur utama yang harusnya steril, masih saja banyak pejalan kaki yang lalu lalang sepanjang pasar. Belum lagi kendaraan parkir yang memakan bahu jalan.

 

Di sebuah pertigaan pasar, kejadian tidak dihindari terjadi. Mobilnya menabrak Mathori, warga yang naik motor.

Bruk..... sang pengendara terjatuh.

 

Tahu demikian, Nanto akhirnya turun sekaligus menolong pengendara motor. Apalagi suasana lumayan ramai, maka dirinya harus segera membantu agar tidak ditawur warga.

 

Nanto: Maaf, bapak tidak apa-apa?

Mathori: Sampean bagaimana, nyetir mobil kok ngawur....

Nanto: Bukannya ngawur, tapi sepertinya bapak tadi yang belok mendadak.....

Mathori: Kok bisa, sampean mengatakan saya belok mendadak?

Nanto: Motor bapak kan ada sein kanan dan kirinya. Tapi tadi tidak dinyalakan saat hendak belok.

Mathori: Lho..... riting sepeda montor saya memang mati.....

Nanto: Berarti saya tidak salah, karena bapak tidak menyalakan lampu riting ketika mau belok kanan. Saya kan tidak tahu kalau tadi bapak mau belok? Tiba-tiba saja langsung berubah haluan, jadi saya tidak bisa menghindar sehingga menabrak bapak.

Mathori: Benar sepeda montor saya lampu ritingnya mati. Tapi kan sudah memberikan tanda tangan?

Nanto: Maksudnya, tanda tangan apa pak?

Mathori: Ya, tadi saya kan sudah memberikan tanda tangan kalau mau belok?

Nanto: Tanda tangan mau belok?

Mathori: Ya, tadi tangan kanan saya kan sudah digerak-gerakkan kalau mau belok kanan. Itu kan tanda tangan?

Perhatian saudara-saudara, ternyata memberi aba-aba dengan menggerakkan tangan ketika hendak berbelok, kalau di Madura disebut tanda tangan. Sekian.....

Iklan promosi NU Online Jatim