Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Wisata Alam Sumber Maron Malang, Tawarkan Eksotisme Pedesaan yang Sejuk

Wisata Alam Sumber Maron Malang, Tawarkan Eksotisme Pedesaan yang Sejuk
Wisata alam Sumber Maron Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang ramai pengunjung. (Foto: NOJ/ Mukhzamilah).
Wisata alam Sumber Maron Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang ramai pengunjung. (Foto: NOJ/ Mukhzamilah).

Malang, NU Online Jatim

Libur lebaran identik dengan menghabiskan waktu bersama keluarga dan sanak famili. Hal ini merupakan momentum yang tidak patut dilewatkan begitu saja. Ada yang berkumpul di rumah. Ada pula yang berbondong-bondong menikmati wisata alam atau buatan.

 

Salah satu wisata alam yang menjadi primadona wisatawan adalah wisata alam Sumber Maron. Tempat berlibur ini terletak di Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Karena dalam masa pandemi, wisata alam ini tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

 

Selain karena lokasinya yang jauh dari hiruk pikuk suasana kota, di lokasi ini wisatawan akan disuguhi indahnya gemericik air terjun yang jernih dan ‘kintir’, yaitu menghanyutkan diri di air dengan menggunakan ban dalam bekas.

 

Wisata tersebut dibuka setiap hari, sejak pukul 07.00 - 17.00 WIB. Untuk masuk ke lokasi wisata yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) ini, pengunjung dimintai tarif Rp. 5000 per orang. Disediakan pula penyewaan ban bekas dengan harga Rp. 5000, yang bebas dipergunakan tanpa batasan waktu dalam sehari.

 

"Jika sedang masa liburan, omzet penyewaan ban dalam bekas bisa mencapai Rp. 500.000 dalam sehari," ujar Udin kepada NU Online Jatim, Selasa (18/05/2021).

 

Pria berusia 37 tahun yang beristrikan warga setempat itu menyampaikan rasa syukur dengan adanya tempat wisata desa tersebut. Karena mampu membantu perekonomian masyarakat sekitar yang mayoritas sebagai petani. 

 

Sementara itu, Marpuah, salah satu pengelola tempat wisata tersebut menjelaskan, bahwa usaha desa yang telah dikelolanya selama 10 tahun tersebut awalnya memakai tenaga hidrolik sebagai sumber energi listrik kawasan wisata tersebut. 

 

“Namun, dikarenakan fasilitas tersebut memakan waktu yang cukup tinggi, kemudian diputuskan memakai listrik PLN sejak 2016,” ujar Marpuah.

 

Selain itu, pihak pengelola memberikan kesempatan kepada warga sekitar yang ingin berjualan dengan menyediakan lapak dengan biaya Rp. 800.000 per tahun. Warga sekitar juga menawarkan jasa ojek bagi para pengunjung yang ingin ke lokasi.

 

“Hal ini mengingat jarak tempuh dari lokasi parkir ke tempat wisata sekitar satu kilometer dengan tanjakan yang cukup curam,” pungkasnya. 

 

Daya tarik lain dari tempat wisata ini adalah perkebunan pepaya. Lokasinya berada di dekat sumber mata air. Kurang lebih 500 pohon pepaya ditanam di lokasi ini. Di sini, wisatawan bisa memetik pepaya sepuasnya dengan harga murah.  

 

Editor: A Habiburrahman

 


Editor:
F1 Bank Jatim