Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Yang Seharusnya Merawat Mayit adalah Keluarga, Bukan Modin

Yang Seharusnya Merawat Mayit adalah Keluarga, Bukan Modin
Yang lebih layak merawat mayit adalah dari unsur keluarga. (Foto: NOJ/LJi)
Yang lebih layak merawat mayit adalah dari unsur keluarga. (Foto: NOJ/LJi)

Apa yang harus dilakukan keluarga ketika ada yang meninggal? Kebanyakan persoalan ini diserahkan kepada modin atau kepala urusan kesejahteraan rakyat (kesra) yang memang memiliki tugas dan keterampilan dalam merawat jenazah.

 

Padahal, yang lebih layak merawat mayit dari mulai memandikan, mengafani hingga menguburkan adalah keluarga sendiri. 

 

Penegasan ini disampaikan Ustadz Ma’ruf Khozin dalam akun Facebooknya belum lama ini. 

 

“Tiap memberi pelatihan perawatan jenazah di Kota Surabaya, selalu saya ingatkan kepada para modin agar mengajak keluarga almarhum saat memandikan, mengafani hingga menguburkan, kecuali jika keluarga tersebut tidak ada yang bisa sama sekali,” kata Ketua Pengurus Wilayah Awsaja NU Center Jawa Timur tersebut.

 

Namun demikian, ada pengecualian yakni bila jenazah mengidap penyakit menular, maka hendaknya ditangani oleh petugas dan ada keluarga yang ikut serta.

 

“Agar tidak salah paham,” tegasnya.

 

Alumni Pesantren Ploso, Kediri ini menjelaskan pengalamannya saat ibundanya meninggal beberapa waktu berselang. 

 

“Alhamdulillah, anak-anaknya dan menantunya yang memulasari jenazahnya. Termasuk saat memasukkan ke liang lahat, di bawah ada saya, kakak dan adik saya,” terangnya.

 

Terkait hal ini, Ustadz Ma’ruf Khozin menyertakan sebuah hadits yang menjadi pegangan atas tindakan tersebut.

 

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ: ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: " ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﻳﺤﻤﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﻳﻐﺴﻠﻪ، ﻭﻣﻦ ﻳﺪﻟﻴﻪ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ " 

 

Artinya: Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: Sungguh mayit tahu orang yang memikulnya, yang memandikan dan memasukkannya ke dalam kuburnya. (HR Ahmad, Thabrani dan Ibnu Abi Dunya).

 

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut tidak menampik kalau ada yang menyatakan bahwa hadis di atas dinilai dlaif atau lemah. 

 

“Tapi menurut Syekh As-Sindi ada hadits sahih yang menjadi syahid atau penguat eksternal,” sergahnya. 

 

Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

 

ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: " ﺇﺫا ﻭﺿﻌﺖ اﻟﺠﻨﺎﺯﺓ، ﻓﺎﺣﺘﻤﻠﻬﺎ اﻟﺮﺟﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻋﻨﺎﻗﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﻗﺪﻣﻮﻧﻲ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻏﻴﺮ ﺻﺎﻟﺤﺔ ﻗﺎﻟﺖ ﻷﻫﻠﻬﺎ: ﻳﺎ ﻭﻳﻠﻬﺎ ﺃﻳﻦ ﻳﺬﻫﺒﻮﻥ ﺑﻬﺎ "

 

Artinya: Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: Bila jenazah sudah diletakkan lalu digotong oleh para lelaki, jika dia jenazah yang baik maka dia berkata: Segeralah hantar aku. Bila jenazah tidak baik dia berkata kepada ke keluarganya: Celaka, mereka bawa kemana jenazahku. (HR Bukhari).

 

Ustadz Ma’ruf Khozin juga menyertakan atsar atau riwayat dari tabiin sebagai berikut:

 

ﻗﺎﻝ ﻣﺠﺎﻫﺪ «ﺇﺫا ﻣﺎﺕ اﻟﻤﻴﺖ ﻓﻤﻠﻚ ﻗﺎﺑﺾ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻤﺎ ﻣﻦ ﺷﻲء ﺇﻻ ﻭﻫﻮ ﻳﺮاﻩ ﻋﻨﺪ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻤﻠﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺼﻴﺮ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ»

 

Artinya: Mujahid berkata: Jika ada orang wafat, maka malaikat memegang ruhnya. Ruh tersebut dapat melihat apapun saat dimandikan, dipikul hingga sampai ke kuburnya. (Ibnu Abi Dunya)


Dirinya turut mengingatkan bahwa setelah dimakamkan, arwah di alam kubur juga masih mengenali para peziarah. Hal ini berdasarkan keterangan Al-Hafidz as-Suyuthi dengan mengutip dari murid Syekh Ibnu Taimiyah:

 

ﻭﻗﺎﻝ ﺇﺑﻦ اﻟﻘﻴﻢ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭاﻵﺛﺎﺭ ﺗﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ اﻟﺰاﺋﺮ ﻣﺘﻰ ﺟﺎء ﻋﻠﻢ ﺑﻪ اﻟﻤﺰﻭﺭ ﻭﺳﻤﻊ ﻛﻼﻣﻪ ﻭﺃﻧﺲ ﺑﻪ ﻭﺭﺩ ﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻫﺬا ﻋﺎﻡ ﻓﻲ ﺣﻖ اﻟﺸﻬﺪاء ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ 


Artinya: Ibnu Qayyim berkata: Dalil-dalil hadits atau atsar riwayat sabahat dan tabiin menunjukkan bahwa peziarah saat datang ke kubur, maka arwah dapat mengetahui, mendengar ucapannya, senang atas kedatangannya dan menjawab salamnya. Ini berlaku untuk orang yang mati syahid dan lainnya. (Syarah Ash-Shudur, juz 1, halaman: 221).


Editor:
F1 PWNU Jatim