Di Balik Rahasia Cepat Baca Kitab Kuning Metode Amtsilati

  • 25 Jan 2020
Di Balik Rahasia Cepat Baca Kitab Kuning Metode Amtsilati
KH Muhammad Sholeh Qosim dan KH Taufiqul Hakim selaku penulis kitab Aqidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah. (Foto: NOJ/Mukhzamilah)

Sidoarjo, NU Online Jatim
Saat ini telah ditemukan sejumlah cara agar mampu membaca dan memahami kitab kuning dengan cara cepat. Hal tersebut sebagai ikhiar agar mampu menguak pesan yang ada dalam khazanah para ulama terdahulu yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.

 

Salah satunya yang dilakukan Pengurus Cabang (PC) Aswaja NU Center Sidoarjo, Jawa Timur yang meluncurkan kitab Aqidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah di Masjid Agung Sidoarjo, Sabtu (25/1).

 

Kegiatan ini dihadiri ribuan jamaah yang merupakan perwakilan dari lembaga, badan otonom NU, guru dan santri TPQ dari Sidoarjo. Bahkan tidak sedikit peserta yang berasasal dari luar kota. 

 

Acara dibuka oleh KH Muhammad Sholeh Qosim selaku Ketua PC Aswaja NU Center Sidoarjo.

 

Kiai Sholeh Qosim menjelaskan bahwa pada kesempatan ini merupakan waktu yang sangat istimewa karena menghadirkan KH Taufiqul Hakim selaku penulis kitab Aqidah Ahlis Sunnah Wal Jamaah.

 

“Beliaulah penemu dan pencetus metode cepat baca kitab kuning Amtsilati yang juga santri almaghfurlah KH Sahal Mahfudz sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Putra dan Putri Daruh Falah, Jepara,” katanya. 

 

Metode Amtsilati merupakan terobosan untuk memahami ilmu nahwu dan sharaf sebagai jembatan untuk mengkaji sumber referensi otentik dalam khazanah keislaman berupa kitab kuning. 

 

KH Taufiq menjelaskan bahwa metode Amtsilati merupakan hasil dari riyadhah dan istikharah yang berawal dari keprihatinannya atas tingkat kesulitan yang tinggi dalam mempelajari ilmu nahwu. 

 

“Kata Amtsilati secara etimologi berasal dari kata amtsilati atau beberapa contoh dari saya dan akhiran ti adalah ittiba’ pada qiraati,” kata Kiai Taufiq, sapaan akrabnya.  

 


Dia juga menjelaskan bahwa mujahadah melalui doa khusus sebagaimana ajaran dalam tarekat yang dipelajari dimulai tanggal 27 Rajab, 2001 M. 

 

“Dalam ikhtiar tersebut, saya sering berdoa di makbarah Mbah Ahmad Mutamakin dan kadang berjumpa dengan Syekh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandiyyah serta Imam Ibnu Malik dalam keadaan setengah sadar,” ungkapnya. 

 

Dalam pandangannya, hal tersebut seolah mendapatkan restu dari muallif atau pengarang kitab Alfiyah sebagai babon nahwu. Dan dalam kurun waktu antara 17 sampai 27 Ramadlan, Kiai Taufiq mempunyai dorongan kuat untuk menulis. 

 

“Dan tertulislah Amtsilati dalam kurun waktu 10 hari berbentuk tulisan tangan,” kenangnya. 

 

Kaidah sulit dalam nahwu diejawantahkan dalam bentuk syair yang membuat hafalan tidak membosankan dan mudah dipelajari. 

 

“Hal ini sesuai dengan prinsip neuroscience yang dipakai dalam motode ini bahwa materi bahan ajar akan lebih mudah diingat oleh alam bawah sadar dalam kondisi relaksasi atau santai dan repitisi yakni berulang,” tandasnya. 

 

Kontributor: Mukhzamilah
Editor: Syaifullah