NU-JATIM
Home Metropolis Kajian di Pesantren Mahasiswa UINSA Jelaskan Tingkatan Puasa

Kajian di Pesantren Mahasiswa UINSA Jelaskan Tingkatan Puasa

Syaifullah - Kamis, 13 Februari 2020 49 Views
IMG Puasa memiliki banyak tingkatan. Ragam ibadah ini juga bervariasi.

Surabaya, NU Online Jatim
Dijelaskan dalam kitab Bidayah al-Hidayah bahwa puasa tidak semata menahan dari lapar dan haus seharian. Namun kesempurnaan puasa yakni dengan menjaga seluruh anggota badan dari sesuatu hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. 

 

“Orang berpuasa itu bermacam-macam. Ada shaumul awam, yakni orang yang berpuasa dengan menahan haus dan lapar. Kedua shaumul shalih yaitu orang yang menjaga anggota badannya ketika berpuasa,” kata Holilur Rohman, Rabu (12/2), 

 

Dijelaskan dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya tersebut bahwa menjaga anggota badan maksudnya adalah menjaga mata terhadap sesuatu yang dibenci Allah, menjaga lisan terhadap pengucapan yang tidak penting. Juga menjaga telinga terhadap pendengaran yang diharamkan oleh Allah.

 

“Karena ketika seseorang mendengarkan hal yang tidak baik, maka dosanya sama dengan yang mengucapkan hal tersebut, seperti ghibah,” jelasnya. 

 

Dikemukakan bahwa puasa adalah milik Allah, karenanya Dia-lah yang akan mengganjar siapa yang mengerjakan ibadah tersebut. Apalagi puasa merupakan ibadah yang paling tidak terlihat dari pada ibadah-ibadah lain.

 

“Oleh sebab itu, orang yang gemar melakukan ibadah puasa sunnah memiliki pintu khusus untuk masuk surga, yang dijuluki rayyan,” urainya.

 

Penjelasan ini disampaikan Holilur Rohman pada Kajian Rabu yang diselenggarakan Pusat Ma’had al-Jami’ah UINSA. Kitab yang dijadikan bahan kajian adalah Bidayah al-Hidayah karya Imam Abu Hamid al-Ghazali yang memaparkan bab adab puasa. 

 

Menurut Imam al-Ghazali, puasa bukan berfokus pada yang wajib saja, termasuk juga sunnah. Derajat orang yang gemar berpuasa sunnah akan ditinggikan layaknya bintang di langit. 

 

Puasa sunnah dibagi menjadi tiga sifat berdasarkan periodenya, yakni puasa yang sifatnya tahunan, bulanan, dan minggu. Puasa yang diagungkan, selain Ramadhan antara lain, Arafah pada 9 Dzulhijjah bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji.

 

“Puasa Arafah ini maksudnya yakin atau mengetahui. Karena pada saat itu Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Dsan karena ketulusan dan kepasrahan tersebut,  akhirnya Nabi Ibrahim mendapat julukan khalilullah yang berarti kekasih Allah,” tuturnya.

 

Selain puasa Arafah, ada pula puasa Asyura yang bertepatan 10 Dzulhijjah, dan 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah, Muharram, Rajab, dan Sya’ban. 

 

Puasa sunnah yang bersifat bulanan, yaitu pada awal, pertengahan dan akhir bulan hijriyah serta yumul bidh, tanggal 13, 14, 15 setiap bulan hijriyah.

 

“Dinamakan yaumul bidh yang berati hari putih maksudnya, pada saat itu bulan sedang bersinar. Sedangkan puasa yang bersifat mingguan antara lain puasa sunnah pada hari Senin, Kamis, dan Jumat,” ungkapnya. 

 

 

Kontributor: Dawi FA
Editor: Syaifullah