• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 3 Oktober 2022

Keislaman

Merenungi Selaksa Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj

Merenungi Selaksa Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj
Masjidil Aqsha menjadi saksi peristiwa Isra' Mi'raj. (Foto: NOJ/SBs)
Masjidil Aqsha menjadi saksi peristiwa Isra' Mi'raj. (Foto: NOJ/SBs)

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam seorang rasul yang diutus Allah sebagai seorang dai, yaitu orang yang menyeru dan mengajak umat manusia agar menuju kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Ajakan atau seruan itu disebut 'dakwah', suatu istilah yang dikenal luas di kalangan masyarakat.

 

Disebut dalam Al-Qur’an:

 

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا،  وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا

 

Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (QS. al-Ahzab, 33: 45-46)

 

 

Sebagai seorang Rasul dan dai, Nabi Muhammad dibekali dengan petunjuk kebenaran yang mengantarkan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Petunjuk kebenaran itu adalah Al-Qur’an dan sunah yang dijadikan pedoman dalam segala kehidupan.

 

Selain wahyu ilahi berupa Al-Qur’an, Nabi dibekali juga dengan berbagai pengalaman kehidupan dan berbagai mukjizat atau keistemewaan. Sebagian dari mukjizat adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang senantiasa diperingati.

 

Makna Isra' Mi'raj

Isra’ pengertiannya menurut etimologi adalah perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah naik ke atas dengan tangga. Yang dimaksud dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad adalah diperjalankannya Nabi Muhammad oleh Allah di malam hari dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerussalem). Sedangkan Mi’raj adalah dinaikkannya Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha (suatu tempat ghaib yang tidak mungkin ditangkap oleh pancaindra).

 

Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa, yang hanya dapat dipercaya mereka yang beriman, karena berada di luar jangkauan kemampuan akal manusia. Karena itu dalam Al-Qur’an ayat yang menjelaskan Isra’ dan Mi’raj dimulai dengan lafadz ‘subhâna’, yang artinya Maha Suci Allah. Kalimat itu biasa digunakan dalam bahasa Al-Qur’an untuk menyebutkan hal-hal yang luar biasa dan sangat menakjubkan.

 

 

Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini Nabi Muhammad dilepaskan dari hukum alam dengan kehendak Allah.

 

Untuk mempelajari dengan jelas, marilah perhatikan salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan peristiwa ini, yaitu:

 

 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

Artinya: Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Isra’, 17:1)

 

Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa di antara tujuan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad adalah Allah memperlihatkan kepadanya (Nabi Muhammad ) tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya. Karena itu dalam peristiwa tersebut Nabi Muhammad melihat berbagai macam tanda keagungan Allah dalam alam semesta, termasuk segala rahasia angkasa luar dan rahasia alam gaib. Disertai juga pengalaman pribadi dan pengalaman rohani dengan berjumpa nabi terdahulu seperti Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, Idris, Yahya dan Isa.

 

Di antara tanda kebesaran Tuhan yang diperlihatkan kepadanya terdapat pelajaran bagi kehidupan manusia. Agar dapat membentuk menjadi manusia bertakwa, gemar berbuat baik dan menjauhi perbuatan tercela.

 

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang jatuh pada 27 Rajab, menjelang Nabi hijrah ke Madinah, sekitar tahun 621 M (usia sekitar 51 tahun) menyimpan pesan penting. Dan hal tersebut hendaknya mendapat perhatian umat Islam, yaitu ditugaskannya Nabi Muhammad dan umatnya untuk mengerjakan shalat lima waktu.

 

Itu adalah perintah langsung dari Allah. Karenanya dalam memperingati Isra’ Mi’raj hendaknya meningkatkan shalat dengan sebaik-baiknya. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah dua kalimah syahadat dan diperintahkan berkali-kali dalam ayat Al-Qur’an.

 

 

Mereka yang mengerjakan shalat dengan khusu serta diikuti gerakan kejiwaan, dapat mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar. Begitu besarnya pengaruh shalat dalam perkembangan kejiwaan seseorang sehingga dapat mengantarkan pada terbentuknya insan kamil.

 

Imam al-Munawi dalam Faidhul Qodir menyebutnya: al-Shalatu Mi’raj al- Mu’minin bahwa shalat merupakan mi’rajnya orang mukmin. Allah secara berulang kali memerintahkan agar mengerjakan shalat dengan baik, memperhatikan syarat dan rukunnya, serta ketentuan lain yang diajarkan Al-Qur’an dan sunah.

 

Banyak sekali hikmah dan mafaat yang diperoleh orang yang mengerjakan shalat. Disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain:

 

Mereka yang mengerjakan shalat secara khusu, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunah, akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat.

 

Dijelaskan dalam Al-Qur’an:

 

 قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

 

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusu dalam shalatnya. (QS. al-Mu’minun, 23: 1-2).

 

Selain mengerjakan shalat yang khusu, mereka juga meninggalkan segala sesuatu yang bersifat sia-sia dan tidak berfaedah bagi dirinya, maupun orang lain. Mereka menunaikan zakat, baik zakat fitrah, maupun zakat mal, yang ketentuannya telah ditetapkan dan diatur oleh tuntunan Rasulullah.

 

Allah berfirman:

 

 وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

 

Artinya: Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, Dan orang-orang yang menunaikan zakat. (QS. al-Mu’minun, 23: 3-4).

 

Mereka yang mendapat kebahagiaan dan kemuliaan, sebagaimana disebutkan di atas, juga harus mampu mengendalikan dorongan seksualnya. Tidak melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Libido seksual hanya disalurkan kepada istri yang sah, sesuai dengan ketentuan syariat.

 

   وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ، إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ، فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

 

Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,  Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-Mu’minun, 23: 5-7).

 

Bagi mereka yang tidak bisa mengendalikan libido seksualnya, sehingga melakukan perzinahan atau melakukan deviasi seksual (kelainan seks), seperti homo seksual, lesbian, sodomi, dan deviasi lainnya, termasuk berdosa besar dan melakukan kesalahan yang melampaui batas. 

 

Selanjutnya, mereka yang melaksanakan shalat dengan khusu, akan mewarisi surga firdaus. Yaitu mereka yang menjaga amanat dan janji, menjaga serta melestarikan shalat dengan baik.

 

 وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ، أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ، الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Artinya: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang ditugaskan kepadanya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga firdaus. mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Mu’minun, 23: 8-11).

 

Bahwa orang yang mengerjakan shalat akan terhindar dari sikap keluh kesah, resah, gelisah dan terhindar dari kegoncangan jiwa. Yaitu mereka yang terus menerus melestarikan shalatnya. Mereka juga menginfakkan sebagian hartanya kepada yang miskin, baik mereka yang meminta, ataupun orang-orang miskin yang memiliki harga diri, sehingga tidak mau meminta atau mengemis kepada orang lain.

 

Orang miskin dalam kategori ini, harus mendapat perhatian yang lebih dari kaum muslimin. Mereka juga mempercayai hari pembalasan.

 

 إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا، إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا، وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا، إِلَّا الْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ، وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ، لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ، وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ  

 

Artinya: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. (QS. al-Ma’arij, 70: 19-26).


Editor:

Keislaman Terbaru