• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 4 Februari 2023

Madura

Lewat Safari Ranting, MWCNU Pragaan Sumenep Kuatkan Jamiyah

Lewat Safari Ranting, MWCNU Pragaan Sumenep Kuatkan Jamiyah
KH A Junaidi Mu'arif memberikan sambutan di acara Safari Ranting PRNU Pekamban Laok, Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH A Junaidi Mu'arif memberikan sambutan di acara Safari Ranting PRNU Pekamban Laok, Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim 

Silaturahim menjadi cara paling efektif untuk menggairahkan kembali semangat berjamiyah. Dengan kerap menggelar pertemuan, maka berbagai persoalan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat. 

 

Hal itu juga yang dilakukan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pragaan, Sumenep. Kali ini yang disapa adalah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Pekamban Laok. Acara dipusatkan di kediaman Kiai Sumaryadi yang dibuka dengan istighotsah dan shalawat Nabi, Jumat (24/7).

 

KH Ahmad Junaidi Mu'arif menegaskan bahwa safari ranting  merupakan program yang diamanatkan dalam konferensi tahun lalu. Dan kehadiran pengurus tidak lain ingin menguatkan kegiatan di tingkat ranting. Baik yang sifatnya diniyah atau keagamaan maupun ijtimaiyah atau sosial kemasyarakatan. 

 

"Kami sangat mengapresiasi kepada pengurus ranting yang mampu istikamah menggerakkan kegiatan santunan anak yatim dan dluafa serta sunatan masal bulan lalu yang sangat dirasakan keberadaannya oleh masyarakat kecil," kata Ketua MWCNU Pragaan ini. 

 

Karenanya, kader muda harus diajak bergabung ke beragam kegiatan NU di tingkat PRNU dan MWCNU. Apalagi Desa Pekamban Laok menjadi sentral atau titik kumpulnya Nahdliyin se-Kecamatan Pragaan.

 

Sosialisasi Program MWCNU
Kiai Subairi Karim menjelaskan sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada tahun 1916 yang menjadi badan ekonomi. Tujuannya memperbaiki ekonomi masyarakat kecil di masa penjajahan.

 

"Lewat wadah inilah yang menjadi embrio lahirnya NU-Care Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadakah Nahdlatul Ulama atau LAZISNU yang mampu membiayai beragam kegiatan dan meringankan beban masyarakat kecil dengan gerakan Koin NU," ujar Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut.

 

Tak sampai di situ, Koin NU yang lahir dari Pendidikan Kader Penggerak (PKPNU) semestinya digalangkan lebih serius, karena kekuatan NU digantungkan pada gerakan ini. 

 

Pembina PRNU Pekamban Laok tersebut juga menceritakan berdirinya Tashwirul Afkar pada tahun 1918. Yakni menjadi wadah forum diskusi untuk merespons berbagai isu aktual yang dihadapi masyarakat, khususnya di Surabaya. 

 

Menurutnya, saat itu Wahabi getol melakukan gerakan anti madzhab, bid'ah, syirik, dan khurafat terhadap praktik keagamaan masyarakat yang berpaham Islam Ahlussunnah Waljamaah di masa penjajahan. 

 

"Wadah yang dikembangkan di Ampel Denta tersebut melahirkan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama atau Lakpesdam NU. Keberadaannya saat ini mengkaji permasalahan sosial keagamaan dan problematika kemasyarakatan yang intinya memerlukan pemecahan dari NU," ungkapnya. 

 

Selanjutnya, seumpama ranting memiliki masalah sosial dan keagamaan, maka Lakpesdam lah yang akan membahas secara mendalam dengan kajian tekstual dan kontekstual.

 

Pembina NU-Care LAZISNU MWCNU Pragaan tersebut mengutarakan bahwa Lakpesdam NU setiap bulan mengadakan kajian qanun asasi yang dijadikan prinsip dasar organisasi. 

 

"Kadang juga mengadakan kajian tekstual yang temanya disesuaikan dengan isu yang viral di berbagai Medsos. Contohnya isu bangkitnya HTI dan PKI yang sengaja diangkat ke permukaan sehingga masyarakat percaya akan keberadaannya di Indonesia," urainya. 

 

Menurutnya, kedua isu tersebut kemarin sudah dikaji dari perspektif sejarah, pemikiran, gerakan, dan lainnya. Dan dari hasil kajian, isu yang beredar tersebut bagian dari gerakan politik yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang semata-mata pro terhadap rakyat. 

 

“Namun di balik itu gerakannya mengerucut pada aksi kudeta yang sama dengan kasus negara yang saat ini luluh lantak akibat perang saudara," ungkapnya. 

 

Pembina Lembaga Kesehatan MWCNU Pragaan tersebut menjelaskan secara historis bahwa Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah merupakan wadah yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan gerakan anti penjajah. 

 

Dalam pandangannya, gerakan ini dikatakan masa kebangkitan bangsa yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah. 

 

"Asbabnya diawali ketika masyarakat berada dalam keterbelakangan akibat tekanan Belanda. Sehingga kiai sepuh mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa melalui lembaga pendidikan," kisahnya.

 

Selanjutnya, di madrasah itulah para kiai mentransfer ilmu pengetahuan sebagai bekal meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. "Gerakan edukasi inilah yang menyebabkan pesantren menentang penjajah dan menyulut api kemarahan," imbuhnya. 

 

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk tersebut menegaskan bahwa Nahdlatul Wathan melahirkan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama yang mengembangkan pendidikan dan pengajaran formal dan non formal.

 

"Selain itu Nahdlatul Wathan juga melahirkan pesantren tangguh seperti Annuqayah yang memiliki sosok kiai kharismatik," tegasnya. 

 

Menurutnya, Nahdlatul Wathan bagian dari lahirnya Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul; Ulama, dan lembaga lainnya yang mampu mewarnai semangat Nahdliyin untuk meneruskan jejak leluhur. 

 

"Lembaga Bahtsul Masail NU pun juga memberi kontribusi kepada masyarakat saat memutuskan hukum tentang masalah maudlu'iyah atau tematik dan waqi'iyah yakni aktual," ujarnya. 

 

KH Asy'ari Khatib menyatakan bahwa semangat yang ditunjukkan oleh kepengurusan periode kali ini adalah gerakan jamiyah. 

 

"NU kuat secara jamaah tapi mohon tunjukkan lewat gerakan jamiyah. Itulah inti dari organisasi," pungkas Wakil Ketua MWCNU Pragaan. 

 

Kontributor: Firdausi
 


Editor:

Madura Terbaru