• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Januari 2023

Metropolis

Awal Rajab 1442 H Jatuh pada Sabtu 13 Februari

Awal Rajab 1442 H Jatuh pada Sabtu 13 Februari
Bulan Rajab jatuh pada Sabtu, 13 Februari 2021. (Foto: NOJ/KKi)
Bulan Rajab jatuh pada Sabtu, 13 Februari 2021. (Foto: NOJ/KKi)

Surabaya, NU Online Jatim

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan bahwa awal Rajab 1442 H jatuh pada Sabtu (13/02/2021) atau Jumat (12/02/2021) malam.

 

"Sebagai tindak lanjutnya maka awal bulan Rajab 1442 H bertepatan dengan Sabtu Kliwon 13 Februari 2021 M (mulai malam Sabtu) atas dasar rukyah," kata Ketua LF PBNU, KH Sirril Wafa melalui siaran tertulis pada Jumat (12/02/2021).

 

Hal itu berdasarkan hasil rukyatul hilal yang berhasil melihat keberadaan bulan. Setidaknya, ada dua lokasi yang berhasil melihat hilal, yakni Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat; dan Tanjung Priok, Jakarta.

 

Sebagai informasi, hilal berada di posisi 7 derajat 19 menit berdasarkan hisab tahqiqy tadqiky ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama dengan markaz Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT). Sementara itu, ijtimak terjadi pada Jumat (12/02/2021) pukul 02:01:26 WIB.

 

Kondisi hilal tersebut sudah memenuhi kriteria imkanurrukyah setidaknya 2 derajat dan ijtimak 15 jam dari waktu terbenamnya matahari.

 

Letak matahari terbenam pada 13 derajat 45 menit 58 detik selatan titik barat, sedangkan letak hilal berada di posisi 14 dedajat 37 menit 53 detik selatan titik barat dengan kedudukannya pada 0º 51’ 55” selatan Matahari dan berposisi miring ke selatan. Hilal dapat terlihat selama 33 menit 23 detik.

 

Memasuki bulan Rajab, masyarakat Muslim dianjurkan untuk membaca doa berikut.

 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 

Allâhumma bârik lanâ fî Rajaba wa Sya‘bâna wa ballighnâ Ramadhânâ.

 

Artinya: Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir).

 

Selain berdzikir dan berdoa, pada bulan Rajab umat Islam juga dianjurkan untuk puasa sebanyak-banyaknya, sebagaimana juga pada bulan haram lain. Sebutan sebagai bulan haram merujuk sejarah dilarangnya umat Islam mengadakan peperangan pada bulan-bulan itu.


Editor:

Metropolis Terbaru