• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Tapal Kuda

Bermodal Celengan, Aktivis NU Ini Bertekad Rutin Berkurban

Bermodal Celengan, Aktivis NU Ini Bertekad Rutin Berkurban
Rijal Mumazziq Z memiliki cara tersendiri untuk dapat berkurban. (Foto: NOJ/istimewa)
Rijal Mumazziq Z memiliki cara tersendiri untuk dapat berkurban. (Foto: NOJ/istimewa)

Jember, NU Online Jatim
Kata KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha, bahwa kewajiban dalam agama Islam sebenarnya murah dan mudah. Yang jadi masalah, kaum Muslimin cenderung mempersulit diri, atau karena memang tidak memiliki pengetahuan maupun kesadaran yang cukup. 

 

Berkurban semisal, pasti akan dianggap sebagai beban lantaran harus mengeluarkan dana setiap tahun antara dua hingga tiga juta rupiah. Itu untuk seekor kambing. Bila hendak berkurban sapi, tentu semakin berat. Namun kalau memiliki pengetahuan dan berbekal ilmu, semua akan mudah dan murah. Hal ini seperti yang disampaikan Rijal Mumazziq Z yang mulai rutin berkurban.

 

“Saya bukan orang tajir yang langsung bisa beli hewan kurban seperti beli telur puyuh. Enteng dan nggak kroso menjebol dompet,” katanya di status Facebooknya, Jumat (31/7). 

 

Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kota Surabaya tersebut kemudian berbagi cara.

 

“Jadi, satu-satunya cara memulai kurban adalah dengan membuat tabungan kurban, bukan di rekening. Melainkan di celengan plastik,” katanya sembari menyertakan gambar dua celengan dimaksud.

 

Dijelaskannya bahwa ada dua celengan yang disediakan. Satu ada di Surabaya, kediamannya selama ini. Satu lagi di Jember, di rumah ibunya. Karena dirinya sering mondar-mandir di dua kota tersebut.

 

“Dua celengan ini saya bikin sejak September tahun lalu dan saya niatkan buat beli hewan kurban tahun ini,” ujar pria yang kini diamanahi sebagai Rektor Inaifas, Kencong, Jember. 

 

Caranya, setiap saat diisi dengan uang receh pecahan Rp100,- sampai Rp1000,-. Bila ada uang di dompet, maka disisihkan. Juga memprioritaskan uang Rp50.000 dan Rp100.000. Bila sedang ada rezeki, maka dimasukkan. 

 

Dirinya menyadari bahwa uang yang dikumpulkan setiap saat tidaklah banyak. Digambarkan bahwa jika dalam satu bulan bisa mengisi Rp100.000,- ke satu celengan, maka setahun sudah terkumpul Rp 1.200.000,-. Jika dua, maka akan terkumpul Rp 2.400.000,-. 

 

“(jumlah itu) Cukup buat beli satu domba atau seekor kambing Jawa,” ungkapnya.

 

Bagaimana hasil dari mengumpulkan uang receh tersebut saat bulan kurban ini? Setelah setahun lebih, dua tabungan tersebut dibuka. 

 

“Total duit merah dan biru terkumpul Rp3.600.000,-, nominal yang lumayan buat beli hewan kurban terbaik,” ungkapnya. 

 

Lalu, bagimana dengan ‘nasib’ uang receh? 

 

“Tidak saya hitung karena saya masukkan celengan plastik lagi buat persiapan kurban tahun mendatang,” sergahnya.

 

Dirinya kemudian mengenang pesan ibundanya. Bahwa kalau sudah berniat ibadah, harus total baik dari sisi tenaga dan biaya. 

 

“Kalau sudah memulai tabungan haji, umrah, atau kurban, ya uangnya jangan diotak-atik. Jangan dibuka tabungannya,” tegasnya. 

 

Dijelaskannya, bahwa semua dana yang terkumpul harus dibiarkan. Dan hal tersebut harus bermodalkan istikamah dan disiplin menjaga diri agar tidak merasa kepepet lalu ‘terpaksa’ memakai fulus yang mau digunakan ibadah. 

 

Dalam pandangannya, ini merupakan latihan disiplin mengumpulkan uang receh, lembar demi lembar, untuk kebaikan. Dan tentu saja, itu juga berkaitan dengan manajemen keuangan. 

 

“Jangan sampai dibrolkan buat kebutuhan konsumtif, harus ada skala prioritas kecil-kecilan,” pungkasnya.


 


Editor:

Tapal Kuda Terbaru