• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 27 Januari 2023

Madura

Di Pesantren Nurul Kholil Bangkalan, Santri Diajarkan Keterampilan dan Mandiri

Di Pesantren Nurul Kholil Bangkalan, Santri Diajarkan Keterampilan dan Mandiri
Pondok Pesantren Nurul Kholil Bangkalan. (Foto: NOJ/Ldn)
Pondok Pesantren Nurul Kholil Bangkalan. (Foto: NOJ/Ldn)

Bangkalan, NU Online Jatim

Pesantren Nurul Kholil Bangkalan mempunyai koperasi pesantren yang mempunyai beragam usaha. Mulai dari mini market, distro, air kemasan, hingga konveksi. Dari sekian usaha itu, konveksi Kopentren Nurul Kholil menjadi daya tarik sendiri. Sebab tak sedikit santri putra yang tertarik di bidang ini, bahkan hasil dari keahlian menjahit mereka bisa membantu membayar biaya pendidikannya.

 

"Alhamdulillah dari konveksi yang dikembangkan Kopontren Nurul Kholil, sudah mampu memberdayakan santri bahkan alumni," ujar Sekretaris Koperasi Pesantren (Kopontren) Nurul Kholil, Abd Malik, Selasa (15/9/2020).

 

Kalau berkunjung ke pesantren ini akan melihat beberapa santri putra yang serius memotong kain, membuat pola, dan menjahit seragam atau baju lainnya. Mulai membuat seragam sekolah, baju sehari-hari santri, hingga pakaian seragam majlis keluarga kiai.

 

"Kami mengakomodir semua kebutuhan pakaian santri. Kalau ada santri ingin menjahit seragam baru bisa kami kerjakan, bahkan bila sarungnya sobek pun bisa dijahit di sini," kata Malik.

 

Sampai saat ini konveksi pesantren telah memberdayakan 7 santri yang terampil dalam menjahit dan membuat pola. Malik berharap jumlah santri semakin bertambah.

 

Oleh karena itu di Pesantren Nurul Kholil dibuka kelas kejuruan tata busana untuk tingkat Madrasah Aliyah (MA). Dibukanya kelas doble tack ini dengan harapan agar semakin meningkatkan keterampilan santri dalam berwirausaha, utamanya di bidang konveksi.

 

Santri yang aktif di kegiatan konveksi ini rata-rata mereka yang duduk di sekolah tingkat MA. Di tingkat ini mereka memang sudah mulai diarahkan untuk mengambil spesialis kejuruan sesuai minat.

 

"Santri yang aktif mengerjakan pesanan konveksi akan memperoleh honor yang bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan pendidikan. Jadi, orang tua mereka teringankan dengan keterampilan anaknya yang bisa menghasikan uang," ucapnya.

 

Ongkos satu potong baju, kata Malik, dihargai Rp 50.000. Namun harga ini menyesuaikan keinginan model baju pemesan. Bila model baju agak rumit, maka harga bisa jadi lebih mahal.

 

"Alhamdulillah per bulan omzet kami bisa mencapai antara Rp3 juta hingga Rp5 juta," ungkapnya.

 

 

Alumni Mandiri

Konveksi Kopontren Nurul Kholil dibuka sejak tiga tahun terakhir. Hingga saat ini sudah melayani berbagai kebutuhan santri dalam hal pakaian dan seragam. Bahkan bila saat tertentu sampai kewalahan mengerjakan pesanan karena saking banyaknya pesanan dan masih kurangnya santri yang mengerjakan.

 

"Untuk mengatasi banyaknya pesanan, kami biasanya meminta bantuan alumni yang sudah mampu berwirausaha sendiri di bidang konveksi. Mereka pun dengan senang hati membantu sehingga berbagi rezeki," tuturnya.

 

Menurut Malik, ada beberapa alumni pesantren ini yang sudah mampu berwirausaha melalui kehalian jahit-menjahit. Mereka membuka jasa jahit di rumahnya dan hasilnya pun mampu menyokong ekonomi mereka.

 

"Jadi, pesantren di sini terbukti tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu keagamaan. Pesantren juga menjadi tempat untuk menggembleng para santri untuk menjadi pribadi mandiri, tangguh dan kreatif," tuturnya.

 

Dengan berwirausaha, santri dituntut untuk menjadi kreatif, inovatif, dan pantan menyerah. Kopontren juga menjadi salah satu solusi bagi permasalahan ketenagakerjaan di wilayah Madura. Tidak meratanya lapangan kerja bagi angakatan kerja usia produktif dapat diatasi dengan membiasakan sedini mungkin orang muda di Madura untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri, salah satunya melalui program koperasi pesantren dengan beragam usahanya.

 

Dirinya juga terbantu dengan program One Pesantren One Produk (OPOP) yang digagas Gubernur Jatim. Karena itu berharap terus mendampingi santri untuk mengantarkan menjadi wirausahawan andal dan produktif. 

 

“Dengan begitu generasi kita tidak hanya kompeten dalam hal religi, namun juga menjadi pribadi yang mandiri baik secara sosal maupun ekonomi,” pungkasnya. 


Editor:

Madura Terbaru