• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Metropolis

BNPB Sebut Seribu Lebih Rumah Rusak di Jatim akibat Gempa Malang

BNPB Sebut Seribu Lebih Rumah Rusak di Jatim akibat Gempa Malang
Sebuah gedung sekolah atapnya ambrol karena gempa Malang. (Foto: NOJ)
Sebuah gedung sekolah atapnya ambrol karena gempa Malang. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Gempa berkekuatan 6,1 skala richter yang berpusat di Kabupaten Malang, Sabtu siang (10/04/2021), menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Getaran gempa juga menyebabkan lebih dari seribu unit rumah dan bangunan lainnya di 15 kabupaten/kota rusak.

 

Berdasarkan siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Ahad (11/04/2021), dampak kerusakan di sektor pemukiman tercatat di 15 kabupaten/kota di wilayah Jawa Timur. Total rumah rusak dengan kategori berbeda berjumlah 1.189 unit, dengan rincian rusak berat (RB) 85 unit, rusak sedang (RS) 250 unit, dan rusak ringan (RR) 854 unit. Sementara kerusakan fasilitas umum (fasum) sejumlah 150 unit.

 

Hingga saat ini, jumlah korban meninggal dunia masih delapan orang. Rinciannya, lima korban meninggal warga Kabupaten Lumajang, tiga korban meninggal lainnya warga Kabupaten Malang. Adapun korban luka ringan sebanyak 36 orang dan korban luka sedang hingga berat sebanyak tiga orang.

 

Dua di antara korban meninggal dunia asal Lumajang ialah Ahmad Fadholi adalah Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, dan istrinya, Sri Yani. Saat gempa terjadi, Pria yang berdomisili di Desa Tempurejo itu bersama istrinya tengah bepergian mengunjungi keluarganya di kota Lumajang.

 

Keduanya berboncengan menggunakan motor menyusuri jalur lintas selatan. Jalur ini memang dikenal cukup rawan karena melewati pegunungan dengan jalan berliku, bahkan juga terdapat tebing-tebing curam di kanan kiri jalan, dan bukit yang dikepras untuk pelebaran jalan. Jalan ini juga ramai oleh kendaraan angkutan barang, termasuk truk yang lalu lalang mengangkut pasir Lumajang.

 

Saat keduanya melintasi jalur piket nol di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, tiba-tiba terjadi gempa bumi.  Kala itu, Fadholi dan istrinya tengah melewati  jalur yang rawan longsor. Akibat guncangan gempa yang cukup dahsyat, tiba-tiba beberapa batu besar yang berada di perbukitan sisi jalan, dengan posisi cukup  tinggi, jatuh dan menimpa pasangan malang itu. Fadholi meninggal di tempat kejadian, sementara istrinya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

 

“Keadaannya cukup parah, keduanya tertimpa batu besar. Saya dan teman-teman yang ikut mengevakuasi tidak tega melihatnya,” ujar Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kabupaten Lumajang, M Ridwan di Lumajang, Sabtu malam.


Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru