• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Cerita Mahasiswa Indonesia Shalat Id di Malaysia: Khatibnya Santri dari Jatim

Cerita Mahasiswa Indonesia Shalat Id di Malaysia: Khatibnya Santri dari Jatim
Ilustrasi Idul Fitri. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Idul Fitri. (Foto: Istimewa)

Surabaya, NU Online Jatim

Hari raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah menjalani puasa wajib di bulan sakral yang penuh dengan bonus pahala dan keutamaan berlimpah. Tidak sedikit orang yang mendapatkan ketenangan serta keberuntungan pada bulan spesial tersebut (baca: Ramadhan). Bahkan, salah satu keberuntungan itu ialah bertambahnya rezeki dalam bentuk materi.

 

Peningkatan rezeki itu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi orang-orang yang sudah lama terpengaruh perekonomiannya selama pandemi Covid-19. Tidak terkecuali bagi para mahasiswa nonbeasiswa yang mengadu nasib di Malaysia. Terlebih lagi, kesempatan mudik pada Lebaran kali ini sangat sulit terjadi karena adanya syarat yang harus dipatuhi ketika hendak masuk kembali ke tanah Melayu ini.

 

Bukanlah mahasiswa Indonesia jika tidak bisa membuat situasi apapun menjadi asyik dan berarti. Di saat teman yang lain bisa merayakan Lebaran di Tanah Air bersama keluarga masing-masing, masih ada beberapa mahasiswa yang terdampar di Negeri Jiran. Namun demikian, sikap lapang dada serta qana’ah senantiasa tertanam dalam benak mahasiswa Indonesia, sehingga mampu menyikapi kondisi yang ada dengan bijaksana. 

 

Mengutip NU Online, Senin (17/05/2021), Hanif Mudzofar Aktivis PCINU Malaysia, mengabarkan, pada malam takbiran di salah satu lokasi di Kuala Lumpur, yaitu di area Pantai Permai, Pantai Dalam, Bukit Angkasa, dan sekitarnya, beberapa kali terlihat kembang api menghiasi pemandangan malam itu. Suara kembang api itu saling susul-menyusul dan terjadi berulang kali hingga larut malam. Selain itu, suara takbiran yang khas seperti halnya di Indonesia juga terdengar jelas di area rumah.

 

Takbiran dengan pengeras suara ini mulai dilantunkan setelah shalat Maghrib dan berlangsung kurang lebih dua jam saja. Takbir keliling yang biasa diadakan di berbagai wilayah di Tanah Air juga tidak nampak di sini. Di samping karena faktor MCO (Movement Control Order) atau perintah kawalan pergerakan, takbir keliling juga bukan merupakan tradisi yang dilakukan untuk menyambut hari Lebaran di wilayah persekutuan Kuala Lumpur dan Selangor. Namun demikian, suasana malam lebaran tersebut sudah cukup membedakan dari malam-malam biasanya.

 

Shalat Id yang biasa dilakukan di masjid atau lapangan pada tahun ini tidak seperti ketika Lebaran dalam kondisi normal. Hal ini tidak terlepas adanya imbauan dari Kerajaan Malaysia yang menyerukan pembatasan sosial dan patuhi protokol kesehatan.

 

Jumlah jamaah Shalat Id di masjid-masjid sebelumya sudah dikondisikan. Bahkan, agenda shalat Id yang sedianya diselenggarakan di KBRI Kuala Lumpur juga harus dibatalkan karena mengikuti arahan pemerintah setempat.

 

Berkenaan dengan berlakunya lockdown kali kedua di Kuala Lumpur, mahasiswa Indonesia yang tidak pulkam (pulang kampung) berinisiatif mengadakan shalat Id berjamaah di rumah kontrakan.

 

Shalat Id ala mahasiswa Indonesia ini tetap berjalan dengan khidmat. Jamaah terdiri dari beberapa mahasiswa dan PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang merupakan tetangga rumah sebelah.

 

Shalat Id di rumah ini serasa shalat di Masjid Jami’, karena yang menjadi imam adalah seorang penghafal Al-Qur’an alumnus Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Sementara khatibnya alumnus Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo Jawa Timur.

 

Beberapa kawan mahasiswa Indonesia yang lain juga melakukan hal serupa, yakni mengadakan shalat Id di rumah dengan jamaah yang terdiri dari rekan-rekan mahasiswa terdekat.

 

Selain Shalat Id di rumah, kegiatan lainnya ialah Yasinan dan Tawassulan berjamaah kepada Rasulullah SAW, orang tua, para guru, terutama ditujukan untuk arwah keluarga yang sudah mendahului kira. Ini dilakukan sebagai pengganti tradisi ziarah kubur ketika lebaran di Tanah Air.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru