• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Metropolis

Gus Miftah: Salah Ideologi Berawal dari Keliru Memilih Guru

Gus Miftah: Salah Ideologi Berawal dari Keliru Memilih Guru
Gus Miftah saat mengisi pengajian umum di Kongres III Pergunu (Foto : NOJ/Boy)
Gus Miftah saat mengisi pengajian umum di Kongres III Pergunu (Foto : NOJ/Boy)

Mojokerto, NU Online Jatim
Dai muda asal Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman menyebutkan orang yang salah ideologi berawal dari kekeliruan memilih  guru atau kiai. Hal itu ia sampaikan saat mengisi pengajian umum pada Kongres III Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Kamis (26/05/2022).


“Sampai kemarin Presiden Jokowi itu  meminta Polri dan TNI supaya mengontrol WhatApp grup istrinya masing-masing. Supaya tidak mengundang ustadz radikal,” katanya.


Pada acara yang digelar di Institut Pesantren KH Abdul Chalim, Pacet, Mojokerto itu, Gus Miftah sapaan akrabnya membenarkan instruksi dari presiden di atas. Namun ia mempertanyakan, apakah suami berani mengawasi gawai istri, justru sebaliknya. 


“Ingat, perempuan itu kalau disakiti tidak pernah lupa. Tetapi kalau menyakiti tidak pernah ingat,” ungkapnya disambut tawa hadirin.


Gus Miftah lantas menyebukan 4 macam tipe keluarga dalam Al-Qur’an. Pertama tipe keluarga  Nabi Nuh yang suaminya shalih namun istrinya nakal. Kedua, keluarga Firaun yang suaminya nakal namun istrinya shalihah. Keluarga Abu Lahab sebagai model ketiga yakni suami dan istri sama-sama nakal. Yang keempat adalah Nabi Ibrahim yang baik suami atau istri shalih dan shalihah.


“Mojokerto banyak guru, punya kiai seperi Kiai Asep, ayo mari kita jaga bersama-sama dengan selalu mendoakan,” ujarnya.


Gus Miftah menyebutkan bahwa menjadi guru di Indonesia membutuhkan ketelatenan, terlebih belum menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Oleh karena itu dirinya meminta kepada hadirin untuk tidak menyia-nyiakan guru.


“Seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mau menjadi budak kepada siapa saja yang telah mengajarnya walau satu huruf,” ungkapnya.


Diharapkan Gus Miftah, seorang murid minimal harus hormat, cinta dan memuliakan guru. Jangan sampai sewenang-wenang dengan guru. Dijelaskan bahwa Imam Syafi’i bisa menjadi ulama besar karena hormatnya kepada gurunya Imam Malik.


“Sampai puncaknya Imam Malik bertemu Nabi Muhammad untuk menitipkan salam kepada Imam Syafii,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru