• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 18 Agustus 2022

Metropolis

Kesaksian Sahabat, KH Nur Muhammad Iskandar Istiqamah Puasa Daud dan Dermawan

Kesaksian Sahabat, KH Nur Muhammad Iskandar Istiqamah Puasa Daud dan Dermawan
KH Nur Muhammad Iskandar semasa hidupnya. (Foto: Istimewa).
KH Nur Muhammad Iskandar semasa hidupnya. (Foto: Istimewa).

Surabaya, NU Online Jatim

KH Nur Muhammad Iskandar, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah diketahui wafat hari ini, Ahad (13/12/2020). Selama 65 tahun perjalanan hidup Kiai Nur tentu banyak yang mengenalnya. Sebab sosok Kiai Nur bukan orang biasa, melainkan tokoh besar.

 

Sehingga lumrah ketika banyak orang yang pernah berinteraksi atau bergaul dengan Kiai Nur. Salah satunya KH A Fahrur Rozi Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang, Jawa Timur.

 

Wakil Sekjen MUI ini menceritakan kisahnya selama bersama Kiai Nur. KH Fahrur Rozi mengatakan, kiai kelahiran Banyuwangi itu merupakan sosok yang istiqamah berpuasa sunah daud, salat tahajud, serta kuat mengamalkan amalannya.

 

“Menurut saya adalah pribadi kiai yang sangat unik.  Meskipun dia telah sukses membangun pesantren dan berdakwah di Jakarta,  hidup berkecukupan bahkan  kaya-raya. Namun beliau tetap saja istiqamah menjalankan  puasa sunah dawud yakni sehari berpuasa dan sehari tidak yang telah dilakoninya semenjak puluhan tahun hingga akhir hayatnya meskipun dalam keadaan sakit,” kata KH Fahrur Rozi dalam keterangan tertulis yang diterima NU Online Jatm.

 

Berikut tulisan lengkap KH A Fahrur Rozi Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang, Jawa Timur tentang sosok Kiai Nur Muhammad Iskandar:

 

Pertama kali saya mengenal  baik Kiai Nur Muhammad Iskandar ketika bersama-sama  menjadi pengurus koperasi  pondok pesantren se-Indonesia  pasca munas RMI PBNU tahun 1996 di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang dikenal dengan   "Munas Salaman Genggong". Kegiatan tersebut  mempertemukan alm KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Suharto yang menandai cairnya ketegangan antara Gus Dur dan Presiden Suharto kala itu. 

 

Kiai Nur - demikian kami memanggil beliau - menjadi Ketua Induk Koperasi Pondok Pesantren se-Indonesia (Inkopontren).  Dan saya menjadi Wakil Sekretaris  Puskopontren  Jawa Timur yang diketuai oleh KH Mutawakkil Alallah,  Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo  menjadi tuan rumah kegiatan Munas RMI.

 

Selanjutnya kita sering bertemu dalam upaya pemasaran dua produk kerjasama Inkopontren dan RMI   saat itu berupa mie  instan   Barokah dan pembalut wanita merk Ramisoft, yang konon merupakan singkatan dari RMI Softex. Meskipun pada akhirnya kedua produk ini gagal bertahan di pasaran. Namun kegigihan beliau telah menginsipirasi banyak Gus dan Kiai muda tentang wirausaha pesantren.

 

Pada tahun 1998, Kiai Nur  berkenan hadir di Pesantren  kami  memberikan ceramah dalam rangka haul  kakek saya KH Anwar Nur Pendiri Pondok Pesantren An Nur Bululawang Malang. Saat itu sedang heboh-hebohnya pemberitaan media massa tentang insiden percobaan pembunuhan dan  penembakan mobil Pajero Yang ditumpangi beliau  di jalan tol oleh orang yang tidak dikenal. 

 

Ketika saya tanya siapa dan  kenapa dia ditembak? Beliau menyebut satu nama   yang pernah mengancamnya karena  menolak untuk bergabung membantu partai penguasa dan sikap kritisnya terhadap pemerintah saat itu.

 

Setelah Muktamar NU di Pesantren Lirboyo Kediri  tahun 1999 hubungan kami semakin dekat karena guru kami alm RKH Idris Marzuki diangkat menjadi Rais Syuriah PBNU dan mempunyai kedekatan khusus dengan presiden Gus Dur sebagai salah satu kiai khos "Forum Langitan".  

 

Hampir setiap minggu saya mengantar beliau ke Jakarta untuk ngantor di PBNU atau dipanggil untuk bertemu Gus Dur di Istana. Kiai Nur sering menemani Gus Dur ketika  bertemu bersama kiai-kiai.  Kiai Nur  sangat akrab dan didengarkan pendapatnya oleh Gus Dur meskipun seringkali terlihat  hanya seperti guyon-guyon saja. Saat itu beliau juga menjabat sebagai anggota DPR RI dari PKB.

 

Sepuluh tahun lamanya sejak  tahun 1999 sampai 2009 di masa  Kiai Idris  Marzuki  menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU dan Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB. Ada dua mobil yang paling sering saya pinjam untuk dipakai menjemput  kiai Idris ke bandara dan kegiatan kiai selama di Jakarta. Yakni mobil kiai Nur Muhammad dan mobil Gus Saifullah Yusuf.

 

Bahkan  secara khusus Kiai Nur memang pernah berpesan kepada saya  agar memakai mobil miliknya  jika Kiai Idris tiba di Jakarta. Beliau  sangat bahagia setiap kali melayani kedatangan Kiai Idris di Jakarta.

 

Saya melihat Kiai Nur memang tulus hormat takdzim kepada Kiai Idris sebagai guru dan orang tua yang telah mengasuhnya ketika mondok di Pesantren Lirboyo.  Jika Kiai Idris pergi ke Jakarta, beliau  minta saya selalu memberi kabar dan berusaha menemui atau mengajak menginap di rumahnya. 

 

Melihat begitu cintanya beliau pada Kiai Idris. Saat Kiai Idris wafat  keadaan Kiai Nur sendiri  saat itu sedang sakit keras. Saya  tidak  berani memberi tahu  karena menghawatirkan jika beliau  sangat kaget, hingga suatu saat beliau sendiri menelpon saya dengan penuh duka  menanyakannya.

 

Kiai Nur Muhammad  yang hidup bermukim di kota besar  Jakarta. Menurut saya adalah pribadi kiai yang sangat unik.  Meskipun dia telah sukses membangun pesantren dan berdakwah di Jakarta,  hidup berkecukupan bahkan  kaya-raya. Namun beliau tetap saja istiqamah menjalankan  puasa sunah dawud yakni sehari berpuasa dan sehari tidak yang telah dilakoninya semenjak puluhan tahun hingga akhir hayatnya meskipun dalam keadaan sakit. 

 

Saya juga mengetahui bahwa beliau  mempunyai  wirid istiqamah setelah tahajud yang cukup panjang di setiap malam.   Ketika pemilu presiden  tahun 2004,  saya dan Kiai Nur Muhammad sering diajak mendampingi cawapres alm Kyai  Hasyim Muzadi  berkampanye keliling Indonesia.  Seringkali saya dan kyai Nur menginap dalam satu kamar  hotel berdua.   Di situ saya melihat sendiri bagaimana istiqamah kyai Nur muhammad. Meskipun  dalam perjalanan yang sangat jauh beliau tetap mengajak shalat berjamaah , berpuasa Daud dan tidak pernah meninggalkan tahajud beserta wiridnya.

 

Ketika muktamar NU di Makassar tahun 2005,  di sela waktu beliau mengajak saya berolahraga raga berjalan kaki di bawah terik matahari setelah shalat Dzuhur di area pantai Losari Makassar.   Sambil berjalan  saya melirik mulut beliau tetap bisa komat kamit membaca sesuatu. Penasaran saya tanya, "Baca apa, kiai?" Beliau menjawab sedang membaca Surat Yasin 50 kali.

 

 

Kiai Nur yang saya kenal adalah Kiai yang ramah,  humornya cerdas, hangat bersahabat dan dermawan.  Bukan hanya pada saya namun pada semua orang yang pernah  mengenalnya. Saya bangga  pernah mengenal dan menjadi sahabatnya,  sehingga  salah satu anak saya,  saya beri nama Nur Muhammad seperti namanya  disamping secara kebetulan kakek buyut kami juga  memiliki nama serupa.

 

Selamat jalan Kyai. Keberanian, kebaikan dan uswah hasanah  panjenengan abadi di hati kami.

 


Editor:

Metropolis Terbaru