• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Metropolis

Rais ‘Aam PBNU Minta Turats Syaikhona Kholil Bangkalan Dihidupkan Kembali

Rais ‘Aam PBNU Minta Turats Syaikhona Kholil Bangkalan Dihidupkan Kembali
KH Miftachul Akhyar​​​​​​, Rais 'Aam PBNU. (Foto: NOJ/Habib).
KH Miftachul Akhyar​​​​​​, Rais 'Aam PBNU. (Foto: NOJ/Habib).

Surabaya, NU Online Jatim

Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar berharap turats atau peninggalan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dihidupkan kembali. Hal tersebut bertujuan untuk mendorong kesadaran generasi saat ini yang memiliki amanat ilmiah.

 

Penegasan ini disampaikan KH Miftachul Akhyar dalam Seminar Nasional ‘Sejarah dan Turats Syaikhona Kholil Bangkalan’ yang disiarkan langsung laman Youtube TVNU, pada Senin (07/06/2021).

 

“Itu amanah tertinggi terutama di era kebingungan dan era ketidakmenentuan ini. Terutama sanad-sanad yang muttashil ulama-ulama nusantara karena ada kesamaan. Kesamaan di dalam transfer ilmu,” tutur Kiai Miftach dilansir NU Online.

 

Dirinya menjelaskan, jika umat Islam Indonesia mampu membedah turats para ulama, termasuk Syaikhona Kholil Bangkalan, maka akan mengetahui dan mudah mengungkap berbagai hal yang disenangi serta dasar-dasar keagamaan yang digunakannya.

 

“Tentu, peninggalan-peninggalan itu berupa tulisan-tulisan manuskrip yang menjadi amanah ilmiah yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita, terutama almarhum almaghfurlah al-waliyyul kabir Sayyidina Kholil Bangkalan,” tutur Kiai Miftach.

 

Berbagai manuskrip yang menjadi peninggalan para ulama terdahulu itu ditulis sebelum adanya percetakan. Namun saat ini, kata Kiai Miftach, berbagai percetakan dan teknologi digital sudah beredar luas sehingga mampu menyimpan berbagai ribuan kitab sebagai upaya menyebarkan ilmu. 

 

“Alhamdulillah sekarang percetakan ada di mana-mana. Ini sebuah hadiah besar bagi generasi saat ini, untuk bisa menggali dan mempelajari makhtutat (tulisan) para ulama. Sehingga bisa menjadi jembatan penghubung antara mutaakhirin dengan mutaqaddimin. Dan akhirnya kita bisa meniru kebaikan para mutaqaddimin,” tandas Kiai Miftach.


Metropolis Terbaru