• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Keislaman

Ini yang Disebut Sahabat Nabi Menurut Ahlussunnah wal Jama'ah

Ini yang Disebut Sahabat Nabi Menurut Ahlussunnah wal Jama'ah
Ilustrasi para sahabat Nabi bermusyawarah (Foto:NOJ/Islamramah.co)
Ilustrasi para sahabat Nabi bermusyawarah (Foto:NOJ/Islamramah.co)

Kesuksesan dakwah Nabi Muhammad tidak bisa dilepaskan oleh dukungan para sahabat di sekitarnya. Seperti terekam dengan jelas dalam Sirah Nabawiyyah, ketika Nabi hendak dibunuh oleh kafir Quraisy, sahabat Ali bin Abi Thalib tanpa ragu bersedia menyamar memakai jubah Rasulullah guna mengelabui algojo yang akan membunuh Rasulullah sebelum hijrah ke Madinah. Ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak peran sahabat untuk membantu Rasulullah Saw menyebarkan agama Islam.
 

Atas perannya yang begitu penting dalam dakwah, Rasulullah menggambarkan para sahabat dalam haditsnya :
 

أصحابي كالنُّجومِ، بأيِّهم اقتَدَيْتم اهتَدَيْتُم
 

Artinya: Sahabat-sahabatku itu adalah seperti bintang di langit, dari mana saja para sahabat itu kamu ikuti, maka dengan sendirinya akan mendapatkan petunjuk, akan mendapatkan hidayah, serta mendapatkan arahan.
 

Dalam perjalanannya, ada perbedaan pendapat terkait siapa yang disebut sahabat Nabi antara Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan Syi’ah. Menurut ulama Aswaja, sahabat adalah mereka yang tidak boleh dicela, mereka yang bertemu dengan Nabi Muhammad pada masa kenabian serta percaya kepada Nabi serta meninggal dalam keadaan muslim. Sedangkan menurut Syiah, seperti yang tertulis dalam Usul al-Kafi karya Al-Kulaini bahwa sahabat adalah mereka yang boleh dicela.
 

Definisi sahabat di atas versi Aswaja dibenarkan oleh pakar tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab: Inilah yang benar menurut Imam Muslim dalam mukaddimah kitab Shahih-nya dan begitu pula menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Abi Abdillah al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, serta ahli hadits lainnya, tulisnya dalam buku Sunnah-Syia’ah bergandengan Tangan.
 

Dalam pandangan ulama Aswaja, seluruh sahabat Nabi memiliki integritas pribadi sehingga mereka tidak mungkin berbohong dengan mengatasnamakan Nabi. Qurasih Shihab mengutip dari gurunya  Almarhum Syekh Abdul Halim Mahmud yang menyatakan ada seratus ribu sahabat yang ikut Nabi ketika beliau melakukan haji wada’ (perpisahan). Sepuluh ribu ditemukan biografinya dalam kitab-kitab sejarah dan ilmu hadits. Semuanya diakui mempunyai integritas kepribadian yang luhur. 
 

Argumentasi Aswaja terkait definisi sahabat di atas berdasarkan Al-Qur’an surah Al-Fath ayat 18:
 

لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ
 

Artinya: Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.
 

Dari sini dapat dipahami bahwa sahabat adalah mereka yang mendapat keistimewaan sebab bisa bertemu langsung dengan Rasulullah dan menyatakan Islam hingga akhir hayatnya, sehingga derajat kemuliaan mereka ibarat bintang yang senantiasa menyinari kegelapan.


Keislaman Terbaru