• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 21 Mei 2022

Matraman

Kader Rijalul Ansor Nganjuk Diminta Jadi Pewaris Risalah Kenabian

Kader Rijalul Ansor Nganjuk Diminta Jadi Pewaris Risalah Kenabian
Acara silaturahim kader alumni dirosah di Pondok Pesantren Baabus Salam Jabon (Foto: NOJ/Haafidh Nur Siddiq Yusuf)
Acara silaturahim kader alumni dirosah di Pondok Pesantren Baabus Salam Jabon (Foto: NOJ/Haafidh Nur Siddiq Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim

Pimpinan Cabang (PC) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Nganjuk menggelar silaturahim Kader Alumni Dirosah dan Pembacaan Maulid Simtuddurror. Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Baabus Salam Jabon, Desa Drenges Kecamatan Kertosono, Ahad (23/01/2022)..

 

Ketua PC MDS Rjalul Ansor Nganjuk, Agus Nasih Basthomi mengatakan, kegiatan itu merupakan sarana mempererat tali persaudaraan sesama kader dan pemantapan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

 

“Semoga keberadaan MDS Rijalul Ansor akan lebih bisa mewarnai peran pondok pesantren sebagai generasi penerus perjuangan para masyayikh dalam bertabarruk dan berkhidmah di Nahdlatul Ulama,” ungkapnya kepada NU Online Jatim.

 

Gus Nasih menuturkan, kegiatan tersebut bakal digelar secara rutin. Hal itu untuk menjembatani para kiai muda berperan aktif menjadi pelayan umat, pelanjut generasi para ulama, serta dapat belajar berorganisasi sesuai dengan aturan.

 

“Kader Rijalul Ansor haruslah memiliki komitmen sebagai pemegang risalah Walisongo, dalam hal ini adalah risalah kenabian yang diwariskan oleh Rasullullah SAW,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk tersebut.

 

Para Walisongo, lanjut Gus Nasih, adalah tokoh yang sangat piawai meletakkan moderasi demi mewujudkan toleransi di tengah kemajemukan masyarakat Nusantara saat itu. Karena zaman terus berubah, tantangannya pun berbeda.

 

“Gerakan ulama Ahlussunah wal Jamaah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama adalah lanjutan dari gerakan-gerakan para kiai sebelumnya,” imbuhnya.

 

Jika saat itu sebelumnya hanya melalui pesantren saja, para kiai mencoba dengan mendirikan organisasi. Ini hanyalah soal sistem, tetapi intinya adalah mempertahankan Islam itu sendiri.

 

“Buktinya, selain menggerakkan pesantren para kiai juga turut mengaktifkan organisasi. Dan bagi para gawagis, alumnus pondok pesantren atau mutakharrijin juga dapat mengikuti kegiatan ini,” sambungnya.

 

Diketahui, kegiatan ini diikuti sebanyak 180 orang. Hadir dalam kegiatan ini di antaranya Habib Ali bin Hasan Baharun, Pengasuh Pondok Pesantren Baabus Salam KH Asrori Arif, Pengurus dan kader Rijalul Ansor se-Kabupaten Nganjuk.


Matraman Terbaru