• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Keislaman

Tidak Semua Hasud adalah Negatif

Tidak Semua Hasud adalah Negatif
Perasaan ini sering menyusup dalam sanubari ketika rasa tidak suka pada orang lain menyelimuti diri (Foto:NOJ/Madaninews.id)
Perasaan ini sering menyusup dalam sanubari ketika rasa tidak suka pada orang lain menyelimuti diri (Foto:NOJ/Madaninews.id)

Iri (hasud) merupakan salah satu kotoran hati (radzail) yang hinggap pada siapa pun. Perasaan ini sering menyusup dalam sanubari ketika tidak suka melihat kesuksesan, kelebihan orang lain, baik harta maupun karir. Kotoran hati ini dapat mempengaruhi manusia untuk melakukan perbuatan buruk. Bahkan Nabi menegaskan iri dapat menghanguskan kebaikan.
 

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ


Artinya: Dari sahabat Anas ra. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Sifat iri akan menyebabkan pahala amal kebaikan itu hangus sebagaimana api melahap kayu bakar (Sunan Ibn Majah)
 

Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menguraikan bahwa iri (hasud) terdiri atas tiga macam;

1. Seseorang yang tidak senang jika orang lain mendapat nikmat dan ia mengharapkan nikmat itu akan berpindah kepada dirinya.

2. Seseorang yang tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat dan ia berharap nikmat itu hilang dari pemiliknya; Ketiga, seseorang yang tidak suka apabila orang lain memiliki kenikmatan yang melebihinya. 
 

3. Macam hasud ini memiliki kecenderungan negatif, dapat membahayakan dirinya dan orang lain. Sebab dominasi ketidaksukaan membutakan mata hatinya.
 

Akan tetapi adakah iri yang diperbolehkan dan berdampak positif? Ternyata ada. Rasulullah  bersabda:

 

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

 

Artinya: Tidak boleh ada rasa iri kecuali kepada dua golongan orang, yakni orang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya untuk kebenaran dan orang yang diberikan Allah suatu hikmah (ilmu) lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.
 

Golongan pertama, yaitu orang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya untuk kebenaran, untuk sesuatu yang maslahat dan manfaat ini identik dengan orang kaya yang bersyukur “ghaniy syakir”. Hartanya didermakan untuk kebaikan, tidak untuk berfoya-foya (mubazir).
 

Melalui kelebihan hartanya, ia nafkahi keluarga sekaligus menyejahterakan umat. Orang seperti ini boleh untuk dihasudi, agar memotivasi orang lain untuk menjadi kaya dan bersyukur.
 

Sedangkan golongan kedua yaitu orang yang diberikan ilmu oleh Allah lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Maksudnya adalah ilmu yang didapat tidak digunakan untuk hal-hal negatif, seperti menipu, manipulasi, membodohi orang lain. Ilmu hikmah di sini mampu memberikan petunjuk kebaikan bagi dirinya dan orang lain.
 

Memang, iri adalah sifat tercela dan hadis ini bukan berarti anjuran untuk berbuat hasud. Namun lebih kepada anjuran untuk mengedepankan husnudzan, berpikir positif, optimis akan kemampuan diri dengan menjadikan dua orang dalam hadis di atas sebagai contoh dan panutan untuk berlomba dalam kebaikan, kesuksesan, meningkatkan kualitas diri dan tentunya untuk menebarkan kebaikan di tengah masyarakat, baik dari sisi materi maupun intelektualitasnya.


Editor:

Keislaman Terbaru