• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Madura

Fitnah-fitnah yang Serang para Kiai NU, Mbah Hasyim hingga Gus Dur 

Fitnah-fitnah yang Serang para Kiai NU, Mbah Hasyim hingga Gus Dur 
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim, di acara pelantikan PSNU Pagar Nusa Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jatim, di acara pelantikan PSNU Pagar Nusa Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, mengatakan bahwa menjadi penggerak dan pengurus NU sangat mungkin akan menjadi sasaran fitnah, terutama dari pihak yang tidak senang dengan NU. Itu berlaku sejak dulu, dari masa Mbah Hasyim Asy'ari hingga sekarang. Harus kuat dan jangan keluar dari NU. 

 

“Kurang apa alimnya Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari, beliau difitnah pro-Jepang. Bahkan sekelas KH Abd Wahab Chasbullah difitnah PKI. Katanya, jika surban beliau dibuka, maka ada gambar palu arit di kepalanya,” kata Kiai Marzuki dalam acara pelantikan Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Sumenep di aula Pondok Pesantren Nasyrul Ulum Aengdake, Bluto, Ahad (23/01/2022).

 

“KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur difitnah liberal dan sekuler. KH Ahmad Hasyim Muzadi yang alumni Gontor difitnah Muhammadiyah. KH Said Aqil Siroj difitnah Syiah. Entah sekarang mau difitnah apa lagi,” imbuh Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyah Gasek, Malang, itu.

 

Dijelaskan pula, dari masa KH M Hasyim Asy’ari hingga sekarang, NU tetap mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam akidah. Di bidang fiqih bermazhab secara qauli dan manhaji kepada salah satu al-Mazahib al-Arba’ah. Sedangkan di bidang tawasuf mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali.

 

“Dari Aceh hingga Papua, kurikulum pondok pesantren masih tetap seperti dulu. Karena dari Sabang sampai Merauke, pesantren masih baca Taqrib, Aqidatul Awam, Nurud Dholam, dan masih banyak lagi kitab-kitab klasik termasyhur. Intinya, siapa pun ketuanya, tidak mungkin berubah qunutnya,” ungkap Kiai Marzuki.

 

Dia menegaskan, seumpama salah satu pengurus dan warga NU tidak cocok dengan rais dan ketua di kepengurusan NU, itu urusan pribadi. Dia berpesan pribadi-pribadi yang berseteru itu jangan sampai mengajak warga lainnya keluar dari NU. Sebab, dia mencontohkan, bila hanya satu orang itu tak mungkin mengubah keputusan hasil bahtsul masail yang dihadiri oleh ratusan kiai.

 

“Jika kalian tidak setuju dengan ketua, jangan keluar dari NU. Tidak mungkin gara-gara satu  orang yang tidak disukainya, NU berubah. Ingat, tak mudah mengubah satu ayat dalam AD/ART. Untuk mengubahnya, butuh Konferensi Besar (Konbes) yang melibatkan seluruh Rais dan Ketua PWNU se-Indonesia dan pengasuh pondok pesantren terkemuka,” ujar Kiai Marzuki.

 

Kiai Marzuki lantas mencontohkan cerita KH R As’ad Syamsul Arifin yang pernah tidak sepakat dengan Gus Dur. Tetapi Kiai As’ad tidak keluar dari NU. Bahkan tetap datang di acara-acara rapat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

 

“Jika ada angin tidak sedap yang mengatakan Ketua NU anu, itu gorengan, agar kalian keluar dari NU dan berkumpul sama golongannya. Jika terjadi, visi-misi nya berubah drastis,” tandasnya.


Madura Terbaru