• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Matraman

Bom di Tebuireng dan Kisah Mbah Hasyim Ditawari Jadi Presiden RI

Bom di Tebuireng dan Kisah Mbah Hasyim Ditawari Jadi Presiden RI
Serangkaian kegiatan yang digelar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. (Foto: NOJ/M Syafik Hoo).
Serangkaian kegiatan yang digelar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. (Foto: NOJ/M Syafik Hoo).

Jombang, NU Online Jatim

Momentum bulan Agustus menjadi kado istimewa bagi Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, karena di bulan tersebut ada tiga agenda yang bakal dihelat. Kegiatan tersebut melliputi peringatan Tahun Baru Islam 1443 Hijriah, refleksi Kemerdekaan RI, dan hari lahir pesantren.

 

Acara yang dipusatkan di serambi Masjid Tebuireng tersebut bisa diikuti melalui kanal youtube official Tebuireng. Acara diikuti seluruh santri Pesantren Tebuireng dengan menerapkan protokol kesehatan.

 

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfud mengatakan, kemerdekaan RI yang diperingati setiap 17 Agustus ini menurutnya tidak lepas dari sumbangsih Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari dalam perjuangannya melawan dan mengusir penjajah.

 

"Mbah Hasyim di samping berjuang melawan penjajah, beliau juga berupaya untuk menyatukan umat Islam untuk bersatu dan tidak terkotak kotak sebab adanya beberapa aliran yang masuk pada saat itu," ujarnya dikutip dari kanal yuotube, Selasa (17/08/2021).

 

Gus Kikin, sapaan akrabnya, juga menceritakan perihal Pesantren Tebuireng yang dijadikan markas dalam menyusun strategi dan kekuatan bagi umat Islam melawan penjajah yang dikomandani Mbah Hasyim.

 

Hal senada juga disampaikan KH Ahmad Mustain Syafii yang didapuk sebagai pembicara dalam acara tersebut. Disebutkan bahwa Pesantren Tebuireng pernah dibom oleh penjajah Belanda.

 

“Secara logika bom tersebut bisa menghancurkan pesantren, namun bom tersebut ternyata malah ‘mlingsih’ dan meledak di tempat lain,” urainya.

 

Ia juga menceritakan akan kegigihan Mbah Hasyim menolak ajakan untuk bergabung dalam lingkaran politik Belanda. Bahkan tak tanggung-tanggung, Mbah Hasyim sempat ditawari untuk menjadi Presiden RI pertama di masa penjajahan Jepang. Namun, dengan tegas Mbah Hasyim menolaknya.

 

Maka, sebagai bentuk refleksi kemerdekaan atas perjuangan yang dilakukan muassis, santri Pesantren Tebuireng harus bangkit dan semangat belajar, serta tidak melanggar aturan pesantren. Dengan ini, insyaallah jadi orang bermanfaat di masyarakat sebagaimana yang didoakan Mbah Hasyim.

 

 

"Santri itu harus rajin (shalat) jamaah, ngaji, dan rutin ke maqbaroh Mbah Hasyim. Bila demikian, insyaallah tidak akan ada kata untuk sulit dalam menjalani kehidupan," pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Matraman Terbaru