• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 8 Februari 2023

Madura

Kali Ini Harlah NU di Pragaan Sumenep Dimeriahkan Lomba Tumpeng

Kali Ini Harlah NU di Pragaan Sumenep Dimeriahkan Lomba Tumpeng
Salah satu kontingen sedang menyelesaikan tumpeng pada lomba yang digelar dalam rangka hartlah dan pekan rajabiyah di MWCNU Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Salah satu kontingen sedang menyelesaikan tumpeng pada lomba yang digelar dalam rangka hartlah dan pekan rajabiyah di MWCNU Pragaan, Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Nusantara kaya dengan kearifan lokal. Salah satunya cara masyarakat Jawa dan Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama dalam mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT dengan menyuguhkan nasi tumpeng.

 

Karenanya, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Pragaan, Sumenep menyempurnakan Pekan Rajbiyah dan Hari Lahir ke-97 Nahdlatul Ulama dengan mengadakan lomba nasi tumpeng.

 

Pesertanya tentu saja kalangan perempuan mulai dari Muslimat NU, Fatayat NU, hingga ibu nyai pun ikut andil dalam memeriahkan acara ini. Festival nasi tumpeng dipusatkan di auditorium Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Pragaan, Rabu (11/3).

 

“Secara historis, lomba nasi tumpeng sebagai bagian dari ritual masyarakat Jawa saat mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Sehingga keberadaannya masih dirasakan dan dilestarikan oleh generasi muda NU Pragaan sebagai kebudayaan lokal Indonesia,” kata Ny Hj Dina Kamilia.

 

Ketua PAC Fatayat NU Pragaan ini mengemukakan bahwa sajian nasi tumpeng dibuat saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. 

 

“Pada awalnya nasi tumpeng dibuat untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayamnya para arwah leluhur. Hal ini erat kaitannya dengan keadaan alam Indonesia yang dipenuhi oleh gunung berapi,"ujarnya.

 

Menurutnya, bahwa tumpeng bukan sekadar makanan dengan tampilan yang menarik dan kaya dengan rasa lezat. Kehadiran nasi tumpeng berbentuk kerucut disertai lauk pilihan begitu sarat makna filosofis yang indah.

 

"Nasi tumpeng merupakan bentuk representatif hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya. Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang mengerucut sebagai simbol serta mengarah kepada Allah SWT,” pungkasnya.

 

Para peserta membuat nasi tumpeng sangat beragam. Umumnya diolah dengan nasi kuning, sebagian peserta juga kerap menggunakan nasi putih atau nasi uduk sebagai bahan dasar.

 

Ibu Camat Pragaan selaku juri pada lomba ini, membacakan kriteria penilaian, antara lain makanan beragam danberimbang. Hasil karya sendiri, kaya dengan cita rasa, keindahan maupun kreasi, kerapian.

 

Setiap peserta menyetorkan biaya Rp50.000, dihias di lokasi, serta setiap kelompok terdiri dari tiga orang.

 

Pemenang lomba langsung diumumkan oleh dewan juri setelah melakukan penilaian. Hadiahnya berupa tropi dan uang pembinaan.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 


Editor:

Madura Terbaru