• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Metropolis

Independent Woman dalam Islam, Mandiri Secara Mental dan Moral

Independent Woman dalam Islam, Mandiri Secara Mental dan Moral
Ning Imaz. (Foto: NOJ/tvone)
Ning Imaz. (Foto: NOJ/tvone)

Surabaya, NU Online Jatim
Independent woman bagi kalangan umum sering diartikan sebagai perempuan mandiri yang cenderung dapat memenuhi segala keinginannya sendiri. Mereka biasanya memiliki karakteristik mandiri, tidak bergantung dengan orang lain, disiplin, tegas, pekerja keras, dan bisa melakukan segala sesuatunya sendiri.

 

Menurut Ning Imaz Fatimatuz Zahra, pendakwah asal Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, independent woman dalam perspektif Islam adalah perempuan yang memiliki kemandirian secara mental dan moral sehingga sadar tidak akan menggantungkan eksistensinya pada pandangan orang lain. 

 

"Dia memiliki ilmu, prinsip, sikap yang jelas, memiliki keberanian dan juga memiliki kejujuran. Sehingga apapun yang dilakukan itu berdasarkan atas apa yang dipelajari dan atas prinsip yang dipegang teguh,” katanya, Kamis (22/09/2022).

 

Ia menjelaskan, cara mengaplikasikan karakteristik independent woman dalam kehidupan sehari-hari yakni harus mempelajari lingkungan dan tantangan yang ada. 

 

"Sebelum melangkah kita harus melihat medan apa yang ada di sekitar kita. Kita harus memiliki kepekaan sosial dalam lingkungan kita," terangnya.

 

Ning Imaz mengungkapkan bahwa sejarah mengenai perempuan tidak banyak ditulis sehingga perempuan terbatas dalam mengetahui itu. Kendati demikian, ada beberapa perempuan yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban dunia yakni Sayyidah Khadijah, Sayyidah Aisyah, Sayyidah Fatimah dan Sayyidah Nafisah. 

 

"Sayyidah Nafisah merupakan guru dari Imam Syafii dan Imam Ahmad Bin Hanbal. Banyak yang meriwayatkan beliau sering melakukan diskusi dengan Imam Syafii. Bahkan sebelum Imam Syafii wafat, beliau berpesan agar jenazahnya dilewatkan di depan rumah Sayyidah Nafisah agar disholati oleh gurunya itu. Ini menunjukkan bahwa perempuan sangat berpengaruh dalam peradaban dunia," pungkasnya.
 
Penulis: Laila Anindhita Abidah


Metropolis Terbaru