• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Pantura

Penjelasan Ning Imaz Cara Menghindari Ghibah bagi Perempuan

Penjelasan Ning Imaz Cara Menghindari Ghibah bagi Perempuan
Ning Imaz Fatimatuz Zahra Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Ihsan Lirboyo Kediri. (Foto: NOJ/ Rifqi)
Ning Imaz Fatimatuz Zahra Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Ihsan Lirboyo Kediri. (Foto: NOJ/ Rifqi)

Lamongan, NU Online Jatim
Ning Imaz Fatimatuz Zahra Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Ihsan Lirboyo Kediri menyampaikan bahwa menjadi muslimah harus memiliki komitmen yang kuat. Yakni memematuhi dan taat segala perintah dari Allah SWT serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Selain itu, Ning Imaz juga memaparkan cara menghindari ghibah bagi perempuan. 

 

Pernyataan tersebut disampaikan Ning Imaz saat acara Bincang NU Online Jatim Ramadhan (Binnur) dengan tema "Menjadi Muslimah Terbaik di Bulan Ramadhan" pada hari Sabtu (16/04/2022).

 

"Menjadi muslimah juga harus bisa menjaga diri dan menahan diri, apa yang memang dilarang oleh agama dan juga hal-hal yang membahayakan marwahnya diri sendiri. Jadi wanita harus bisa menjaga dari izzah dan iffah," ujarnya.

 

Ia juga tidak menampik bahwa wanita itu sering ghibah karena kebutuhan berbicaranya lebih banyak dari pada laki-laki.
 

Menurutnya cara menguranginya yakni dengan sering membaca buku pengembangan diri dan filsafat. Sebab dengan membaca buku tersebut otak lebih aktif. 

 

"Menurut saya tidak perlu terlalu kritis terhadap urusan orang. Kita harus betul-betul mengetahui mana nih urusan saya dan mana bukan. Kalau bukan ya bukan ranah saya untuk mengomentari, sehingga kita akan terhindar dari ghibah karena pikiran kita positif dan akan menarik orang-orang positif serta akan menghasilkan lingkungan positif juga," ungkapnya.

 

Ia juga menjelaskan, aurat perempuan menurut madzhab Imam Syafi’i adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
 

Namun untuk masalah aurat di Indonesia ini menggunakan Imam Hanafi untuk batasan auratanya yakni tangan sampai siku dan kaki sampai betis. Sebab perempuan mempunyai mobilitas tinggi dan memiliki tugas untuk memasak serta mencuci baju yang tidak perlu ditutupi. 

 

"Jika ingin mengikuti Imam Syafii dalam aurat silahkan dan seharusnya bercadar, atau memilih lebih madzhab yang lebih moderat yang lebih santai untuk kehidupan sehari hari tidak masalah, sehingga perbedaan itu tidak saling menyalahkan dan kita bisa memilih mana yang lebih relevan untuk diri kita sendiri," ulasnya.


Editor:

Pantura Terbaru