• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Tapal Kuda

Wakil Rais NU Lumajang Berikan Resep Jitu Mencetak Generasi Al-Qur'an

Wakil Rais NU Lumajang Berikan Resep Jitu Mencetak Generasi Al-Qur'an
KH Ahmad Qusyairi, Wakil Rais PCNU Lumajang saat memberikan resep jitu menceyak Generasi Al-Qur'an.
KH Ahmad Qusyairi, Wakil Rais PCNU Lumajang saat memberikan resep jitu menceyak Generasi Al-Qur'an.

Lumajang, NU Online Jatim
KH Ahmad Qusyairi, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lumajang memberikan resep jitu mencetak generasi Al-Qur'an yang hebat.
 

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber di program spesial Ramadhan Kurma (Kajian Keutamaan Ramadhan) pada Jumat (15/04/2022) di studio Media Center An-Nahdloh (MCN) Gedung NU 1 Jalan Alun-alun Timur Lumajang.
 

Menurut Kiai Kelahiran Banyuwangi ini, menjadikan seorang anak sebagai generasi Al-Qu'ran tidak bisa instan. Hal itu perlu dipersiapkan sejak anak masih dalam kandungan seorang ibu dengan berbagai upaya dan usaha.
 

Kiai Qusyairi mencotohkan sosok Imam Syafi'i yang dalam usia sangat belia bisa hafal dan paham isi Al-Qur'an.
 

"Itu berkat luar biasanya tirakat kedua orang tuanya. Tirakat dilakukan kedua orang tua Imam Syafi'i sejak Imam Syafi'i di dalam kandungan, yaitu dengan terus melantunkan ayat Al-Qur’an yang kemudian berdampak anaknya masih kecil sudah sangat mencintai Al-Qur'an," jelas alumni Pondok Pesantren Sarang ini.
 

Kiai Qusyairi menambahkan, peran kedua orang tua terutama ayah harus dimaksimalkan betul saat anaknya ada di dalam kandungan. Sebab doa ayah sangat berdampak kepada anaknya saat itu, baru setelah lahir peran ibulah yang sangat berperan.
 

"Ini yang pernah saya praktikkan, waktu istri saya hamil dulu tahun 1997. Saya berusaha terus membacakan Al-Qur'an kepada anak saya yang masih di dalam kandungan setiap saat. Namun karena saya tidak hafal Al-Qur'an, terkadang bosan itu ada, maka saya putarkan kaset ngaji dengan tape kecil," lanjutnya.
 

Harapan besar Kiai Qusyairi dengan begitu dapat meneladani apa yang dilakukan orang tua-orang tua para Ulama terdahulu sehingga dapat menjadikan anaknya ketika lahir bisa mencintai Al Qur'an sehingga bisa hafal dan memahami isinya dengan benar.
 

"Alhamdulillah yang saya rasakan, ternyata semenjak kecil anak saya ini memang sudah senang belajar Al-Qur'an dan ketika selepas MI dia sudah minta mondok di pondok Al-Qur'an. Setelah mencari info, saya mendapat rekomendasi Pesantren Al-Munawwariyah Malang. Alhamdulillah anak saya di sana," cerita Kiai Qusyairi.
 

Yang tak kalah penting, peran kedua orang tua adalah mencarikan lembaga pendidikan Al-Qur'an yang benar-benar bersanad. Hal ini dimaksudkan agar kelak anak tidak hanya memahami isi Al-Qur'an secara tekstual, namun bisa memahami kandungannya secara luas.
 

"Niatnya bagus tapi akhirnya salah tempat, pada akhirnya menjadi orang yang dikhawatirkan oleh baginda Nabi yaitu mereka banyak yang hafal Al-Qur'an tapi tidak memahami dengan semestinya, yang akhirnya dikatakan bahwa Al-Qur'an hanya sampai di tenggorokannya saja," tandasnya.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru