• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 26 November 2022

Metropolis

Ketum MUI Jatim: Mbah Hasyim Inspirator Bung Karno Rumuskan Pancasila

Ketum MUI Jatim: Mbah Hasyim Inspirator Bung Karno Rumuskan Pancasila
Ketum MUI Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah. (Foto: NOJ)
Ketum MUI Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Bahkan, poin-poin yang terkandung di dalam Pancasila mengandung nilai-nilai Islam.

 

“Pancasila bukan agama, tapi tidak bertentangan dengan agama. Bahkan poin-poinnya Pancasila itu islami karena konseptornya memang ulama-ulama,” kata Kiai Mutawakkil dikutip dari akun Instagram resmi MUI Jatim, Selasa (01/06/2021).

 

Soekarno atau Bung Karno, lanjut Kiai Mutawakkil, menelurkan poin-poin Pancasila berdasarkan hasil galian dari budaya bangsa dan insipirasinya ialah dari Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

 

“Itu diakui oleh Bung Karno bahwa beliau mendapatkan inspirasi tentang fondasi Negara ini dari kiai, kata Pak Karno. Saya cinta ke NU dan saya akan berangkat, akan datang ke muktamar walau pun saya harus merangkak dan merayap, karena kecintaan saya ke NU,” ujar Kiai Mutawakkil menirukan Bung Karno.

 

NU sendiri menerima Pancasila sebagai ideologi Negara dan dikukuhkan di Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Pondok Pesantre Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo, tahun 1983, dan ditegaskan di Muktamar ke-27 setahun berikutnya di tempat yang sama.

 

KH Abdul Muchit Muzadi dalam NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran (2006) menyampaikan tiga alasan NU menerima Pancasila. Pertama, NU saat pendiriannya tidak mencantumkan asas organisasi, melainkan langsung menyebut tujuannya. Hal ini berubah ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1952 dengan mencantumkan asas Islam, sebagaimana partai lain mencantumkan ideologinya.

 

Kedua, Islam bukanlah ideologi, melainkan agama. Ideologi, jelasnya, merupakan hasil pemikiran manusia, sementara Islam langsung dari Allah swt. Tuhan semesta alam. Ketiga, lanjutnya, asas organisasi tidak harus agama, bisa berdasarkan nilai-nilai universal seperti keadilan, kerakyatan, kekeluargaan, dan sebagainya.

 

Senada dengan Kiai Muchit, KH Saifuddin Zuhri dalam Mengamalkan Pancasila Tanpa Melepas Islam (1980) menulis bahwa Pancasila lahir dari pemikiran dan hasrat sedalam-dalamnya atau populer disebut falsafah, sedangkan Islam berasal dari Ilahi tanpa campur tangan manusia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelahiran Pancasila tidak menafikan agama. Hubungan keduanya tidak antagonistik, dalam arti tidak saling bertabrakan.

 

Pancasila memiliki nilai-nilai yang universal, seperti kemanusiaan, keadilan, dan kerakyatan. Universalitas Pancasila, sebagaimana disebutkan KH Masdar Farid Mas'udi dalam Syarah Konstitusi UUD 1945 dalam Perspektif Islam, merupakan wujud keimanan kepada Allah swt. Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu, menurutnya, sejalan dengan ikrar kepasrahan total yang biasa dilafalkan dalam shalat, tepatnya pada doa iftitah, bahwa segala ibadah dilakukan hanya kepada Allah SWT.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru