• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 6 Oktober 2022

Metropolis

Nahdliyin di Pesisir, BMKG Bilang Gerhana Bulan Total Berpotensi Banjir Rob

Nahdliyin di Pesisir, BMKG Bilang Gerhana Bulan Total Berpotensi Banjir Rob
Super Blood Moon. (Foto: Okezone)
Super Blood Moon. (Foto: Okezone)

Surabaya, NU Online Jatim

Gerhana Bulan Total (GBT) yang diperkirakan terjadi pada Rabu (26/05/2021) petang hingga malam nanti akan terlihat jelas dari bumi, termasuk dari seluruh wilayah di Indonesia. Namun yang harus diketahui, terutama oleh warga yang tinggal di pesisir pantai, GBT berpotensi menimbulkan banjir rob karena daya tarik Matahari dan Bulan saat sejajar berpengaruh pada tingginya pasang laut.

 

“GBT berpengaruh terhadap ketinggian pasang di mana gaya tarik bulan dan matahari yang sejajar dapat meningkatkan terjadinya pasang tinggi yang dapat menimbulkan terjadinya banjir rob,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Teguh Tri Susanto melalui pesan singkat kepada NU Online Jatim.

 

Sementara untuk gelombang laut, Teguh mengatakan GBT tidak menimbulkan pengaruh. Gelombang laut, lanjut dia, dibangkitkan oleh angin sehingga tidak terdampak langsung oleh adanya GBT.

 

Teguh menjelaskan, GBT terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar. Hal ini membuat Bulan masuk ke umbra Bumi. Gerhana ini dapat disebut sebagai Gerhana Bulan Total Perige atau dikenal pula sebagai Super Blood Moon, karena saat fase totalitas Bulan akan terlihat kemerahan.

 

GBT nanti akan terlihat jelas jika kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan. Kemungkinan, kata Teguh, GBT nanti akan bisa disaksikan di seluruh wilayah di Jawa Timur mulai pukul 18.09. WIB saat mulai fase gerhana total. GBT diperkirakan akan selesai pada pukul 20.51 WIB.

 

Sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jatim KH Shofiyulloh alias Gus Shofi menjelaskan, dalam Ilmu Falak gerhana bulan dibedakan berdasarkan warna, yaitu merah dan hitam. Warna merah merujuk pada yang dalam Ilmu Astronomi modern disebut dengan Super Blood Moon. Sementara warna hitam adalah gerhana yang ketika itu terjadi waja bulan terlihat gelap (Super Dark Moon).

 

Super Blood Moon maksudnya itu, kan, merah. Itu menunjukkan bahwa bulan itu melewati bayangan inti bumi, tapi agak ke pinggir, sehingga atmosfer bumi membiaskan cahaya sehingga masuk ke permukaan bumi sehingga terlihat merah (disaksikan dari permukaan bumi),” ujar Gus Shofi.

 

Disebut ‘super’, lanjut dia, karena saat gerhana terjadi wajah bulan akan terlihat lebih besar dari biasanya. Soal itu, Gus Shofi menuturkan bahwa itu terjadi karena bulan mengitari bumi secara elips, yaitu beredar melalui garis bundar lonjong.

 

“Karena elips, maka konsekuensinya ada titik terdekat da nada titik terjauh (dari bumi),” tandasnya.

 

Nah, saat GBT nanti, bulan berada di titik terdekat dari bumi, makanya wajah bulan akan terlihat besar. Karena itu GBT nanti dapat disaksikan dengan mata telanjang dari seluruh wilayah Indonesia tanpa dibantu peralatan khusus.

 

“Gerhana besok (hari ini, red) bulan berada di titik terdekat (dengan bumi) sehingga akan kelihatan besar, makanya dinamakan Super Moon,” kata Gus Shofi.

 

Editor: Nur Faishal


Metropolis Terbaru