• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 5 Juli 2022

Metropolis

Pemikiran dan Kiprah KH Mahsun Mashudi Dibedah di Gresik

Pemikiran dan Kiprah KH Mahsun Mashudi Dibedah di Gresik
Bedah pemikian KH Mashun Mashudi oleh PC Lakpesdam NU Kabupaten Gresik. (Foto: NOJ/Syafik H)
Bedah pemikian KH Mashun Mashudi oleh PC Lakpesdam NU Kabupaten Gresik. (Foto: NOJ/Syafik H)

Gresik, NU Online Jatim

Para ulama dan kiai memiliki kiprah yang patut menjadi teladan generasi saat ini. Dengan mempelajari sepak terjang mereka yang dilandasi ilmu dan kearifan lokal, maka akan ditemukan formula terbaik dalam berperan di masa kini.

 

Semangat itu juga yang mengemuka pada kajian yang digelar Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Gresik, Sabtu (5/9/2020).

 

Kegiatan bertajuk bedah perjuangan dan pemikiran KH Mashun Mashudi tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Mambaul Ihsan, Banyuurip, Ujungpangkah, Gresik. Acara merupakan sesi pertama dari 15 rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan di berbagai tempat.

 

Direktur the Habibie Center, Moh Hasan Ansori lewat pemaparan virtual menggambarkan sosok Kiai Mahsun sebagai kiai ndeso yang memiliki pandangan progresif. Terutama yang berkaitan dengan pengembangan santri dan masyarakat.

 

“Siapa sangka di balik kesahajaan dan kesederhanaannya, beliau memiliki pandangan yang modern,” katanya.

 

Wakil Rektor Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang yakni H Miftahur Rohim lebih menggali sisi keunikan figur KH Mahsun Mashudi sebagai ulama yang selain ahli fiqih juga muhaddits dan sufi.

“Bila bertemu, saya minta beliau membaca Ihya. Saya lihat, ternyata fiqihnya Kiai Mahsun integratif dengan tasawuf. Begitupun saat membackup dengan kitab yang lain, ternyata menyertai dengan hadits. Biasanya ulama lain dengan ushul,” katanya, juga melalui online.

 

Sedangkan Rektor Inaifas, Kencong, Jember, Rijal Mumazziq Z menyampaikan kesan bertemu dengan Kiai Mahsun. Bahwa kendati hanya bertemu sebentar, perjumpaan demikian membekas karena banyak ilmu dan hikmah yang didapatkan.

 

Gus Rijal, sapaannya kemudian lebih mengulik kisah hidup Kiai Mahsun selama mondok di Pare dan Lasem yang banyak memanfaatkan waktu untuk berkhidmah kepada kiainya.

 

“Pelajaran yang didapat dari Kiai Mahsun, apa pun kebaikan yang kita lakukan di pondok tidak akan sia-sia,” kata Gus Rijal kepada santri yang hadir.

 

Sedangkan putra Kiai Mahsun, H Jazilus Sakhok yang saat ini sebagai Wakil Rektor UNU Yogyakarta menjelaskan bahwa ayahnya adalah kiai ndeso yang progresif.

 

“Beliau memang kiai ndeso, dalam arti berakar pada lokalitas, tapi cara pandangnya global dan progresif. Beliau tidak terkungkung dengan lokalitasnya,” kata dia.

 

Meskipun tinggal di kawasan paling ujung dari pulau Jawa, tapi mampu out of the box. Bahwa ayahnya berpandangan bagaimana tradisi harus dijadikan sebuah akar tapi menjadi modal perubahan, sehingga tidak terjebak, tapi progresif.

 

Kegiatan dibuka oleh KH Mahfudz Ma’shum selaku Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Gresik. Dilanjutkan dengan pembacaan tahlil oleh KH Ahmad Niam Karimi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars Syubbanul Wathan dan mahallul qiyam. Acara dilanjutkan dengan sambutan.

 

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua PC Lakpesdam NU Gresik, Shohib yang menyampaikan bahwa gagasan untuk membedah pemikiran kiai NU sebenarnya sudah sejak lama dicanangkan, namun baru bisa terwujud saat ini.

 

“Diharapkan ke depannya acara seperti ini bisa terus berlanjut yakni membedah pemikiran kiai dan berusaha agar NU Gresik menjadi percontohan,” katanya.

 

Salah seorang putra KH Mahsun Mashudi, Gus Nafisul Atho menyampaikan bahwa rencananya PC Lakpesdam NU Gresik akan mengkaji sedikitnya 15 kiai NU di Kabupaten Gresik.

 

“Lakpesdam akan maraton. Setelah acara ini, bulan depan insyaallah kita ke Kiai Umar Burhan di Kota Gresik, setelah itu ada Kiai Ma’shum, Dukun, ada Kiai Zaini Rosyid, dan masih banyak lagi,” ujarnya.

 

Disampaikan bahwa kurang lebih 15 kiai yang akan dibahas kiprahnya dan berjalan selama enam bulan ke depan. Dalam roadshow ini juga menggandeng PC Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) supaya pemikiran dan kiprah para kiai bisa langsung dibukukan dan diterbitkan.

 

Hal ini juga yang diamini Ketua PCNU Gresik, KH Chusnan Ali. Bahwa dirinya berharap kegiatan nanti bisa didokumentasikan dengan baik. Apalagi dari pertemuan nanti bisa diwujudkan dalam bentuk risalah, meskipun mungkin hanya sederhana.

 

“Tapi setidaknya layak untuk dibaca dan disosialisasikan kepada generasi sesudahnya. Ini menjadi penting untuk menyambung mata rantai pemikiran dan perjuangan para ulama kita yang telah mendahului kita,” katanya.”

 

Acara kemudian ditutup doa oleh KH Mahfudz Ma’shum selaku Rais PCNU Kabupaten Gresik.

Editor: Syaifullah


Editor:

Metropolis Terbaru