• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Opini

Benarkah Kiai Wahab Lahir 31 Maret 1888?

Benarkah Kiai Wahab Lahir 31 Maret 1888?
Hari lahir Kiai Wahab masih menjadi perdebatan. (Foto: NOJ)
Hari lahir Kiai Wahab masih menjadi perdebatan. (Foto: NOJ)

Hari ini, Rabu (31/03/2021) di NU Online Jatim pada rubrik opini melansir artikel berjudul ‘Ingat, Hari Ini KH Abd. Wahab Chasbullah Dilahirkan’. Artikel tersebut menyebut bahwa KH Abdul Wahab Chasbullah, atau akrab disapa Kiai Wahab, lahir pada 31 Maret 1888. Benarkah demikian?

 

Para penulis biografi Kiai Wahab berbeda pendapat mengenai angka tahun kelahiran Kiai Wahab. Aboebakar Atjeh berpendapat tahun 1888; Greg Fealy dan Barton: kisaran tahun 1883-1884, Choirul Anam: 1887, dan Tim Sejarah Tambakberas: 1886. Para penulis di atas hanya mencantumkan angka tahun kelahiran. Sebagian literatur lainnya mencantumkan 31 Maret sebagai tanggal dan bulan kelahiran Kiai Wahab.

 

Dari uraian di atas, ada dua hal yang menjadi topik diskusi para penulis biografi Kiai Wahab. Pertama, tahun kelahiran. Kedua, tanggal dan bulan kelahiran. Mengenai tahun kelahiran, penulis lebih cenderung pada pendapat Anam yang menyebut 1887 sebagai angka tahun kelahiran Kiai Wahab. Klaim ini didasarkan pada sejumlah data otentik yang penulis temukan saat melakukan riset disertasi tentang Kiai Wahab.


Pertama, dalam majalah Suara NU Nomor 3 bulan Maulud 1346 H (1927 M) Kiai Wahab melaporkan bahwa pada 23 Safar 1346 H (22 Agustus 1927) dirinya diundang oleh pemerintah Hindia-Belanda datang ke Batavia. Tujuannya adalah membahas rancangan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda tentang ordonansi perkawinan tercatat dan ketakmiran. Undangan itu juga dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto (Sarekat Islam), KH Mas Mansur (Muhammadiyah), KH Abdul Halim (Persatuan Ulama Majalengka), dan lain-lain. Saat peristiwa itu terjadi, usia Kiai Wahab adalah 40 tahun sebagaimana akunya, sama persis dengan KH Abdul Halim Majalengka. Jika dihitung mundur: 1927-40, maka kita dapati angka 1887 M atau 1305 H sebagai angka tahun kelahiran. Hal ini terkonfirmasi dengan data KH Abdul Halim Majalengka yang dalam sejumlah literatur disebutkan juga terlahir pada tahun 1887.      


Kedua, KH Abdul Halim (Leuwimunding) dalam bukunya ‘Sejarah Hidup dan Perjuangan KH Abdul Wahab’ menulis bahwa pernah sekali Kiai Wahab tidak hadir dalam acara Kongres NU, yaitu tahun 1351 H. Hal itu dikarenakan ayah Kiai Wahab, yakni Kiai Chasbullah, wafat. Pada saat itu, Kiai Wahab berusia 46 tahun menurut penanggalan hijriah. Jika dihitung mundur: 1351-46, maka kita dapati angka 1305 H sebagai angka tahun kelahiran Kiai Wahab, atau 1887 M jika dikonversikan ke penanggalan masehi.

 

Biografi Kiai Wahab yang ditulis oleh KH Abdul Halim adalah otentik. Sebab, sebelum dicetak, buku beraksara Arab pegon tersebut terlebih dahulu disowankan kepada Kiai Wahab di kediamannya di Tambakberas untuk ditashih.


Lalu, bagaimana dengan tanggal dan bulan kelahiran Kiai Wahab? Menurut sejarawan NU, Choirul Anam, tidak ditemukan data otentik yang menerangkan bahwa Kiai Wahab lahir pada 31 Maret. Data otentik yang ditemukan oleh Anam berupa kartu keanggotaan Kiai Wahab sebagai anggota dewan yang juga dibubuhi tanda tangan langsung dengan hanya menyebut angka tahun 1887, tanpa menyertakan informasi tentang tanggal dan bulan kelahiran. Alhasil, tulisan ini hanyalah sebagai pembanding tentang informasi biografi Kiai Wahab, khususnya tentang kepastian tahun kelahirannya. Di luar itu, kita sama-sama mengagumi dan meneladani sosok Kiai Wahab sebagai inisiator, pendiri, dan penggerak NU.

 

Wallahu a’lam bisshawab.

 

Ustadz Miftakhul Arief adalah doktor alumni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan pengajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.  


Editor:

Opini Terbaru