• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Mei 2022

Opini

Membincang Makna Setan Dibelenggu Saat Ramadlan

Membincang Makna Setan Dibelenggu Saat Ramadlan

Oleh: Mufti Shohib

 

Bukankah katanya setan-setan dibelenggu ketika memasuki bulan Ramadlan? Lantas mengapa kemaksiatan masih banyak dijumpai? Orang mengaji masih merasakan malas apakah akibat godaan setan?

 

Pertanyaan atau kejanggalan seperti ini sangat populer di bulan Ramadlan. Ternyata hal tersebut bukan kejanggalan baru. Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqallany (1372-1448 M) pernah mengutip statemen al-Qurtubi yang mengilustrasikan pertanyaan atau kejanggalan itu dalam kitab Fath al-Bari

 

Ibn Hajar pun sudah membahasnya secara detail dari berbagai perspektif para pakar dalam Syarah Shahih Bukhari tersebut. Maklum, sumber primer keterangan 'setan dibelenggu di bulan Ramadlan' adalah hadits yang terkodifikasi dalam Shahih Bukhari.

Berikut redaksi haditsnya dalam Shahih Bukhari:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ»

Artinya: Rasullullah SAW bersabda: Jika telah masuk bulan Ramadlan, maka pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.

 

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Para muhaddits, berdasarkan hadits maupun dalil yang lain, memaknai 'pintu langit' dalam hadits tersebut sebagai 'pintu surga'. Jadi, kalau masuk bulan Ramadlan, maka pintu surga terbuka sedangkan neraka tertutup dan setan dibelenggu.

 

Secara umum, ada dua model sudut pandang para ulama dalam menafsiri maksud hadits di atas: Pertama, kalangan ulama yang memaknai secara redaksional sesuai makna dlahir hadits. 

 

Kedua, kalangan ulama yang memaknai hadits di atas secara rasional sesuai makna yang bisa diindera oleh manusia karena bahasa hadits di atas tidak lain adalah bahasa majaz. Dua sudut pandang interpretasi hadits ini diurai oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

 

Syaikh Izzuddin ibnu Abdissalam (1181-1262 M) merupakan ulama besar yang turut andil memopulerkan gagasan kedua: memaknai hadits secara rasional. Hal demikian ditulis dalam kitabnya, Maqashidus Shaum (filosofi puasa) bahwa kalimat dalam hadits merupakan deskripsi perumpamaan. 

 

‘Pintu surga dibuka’ adalah deskripsi atas perumpamaan dari banyaknya ketaatan yang menjadi faktor terbukanya pintu surga. Lalu, berkurangnya kemaksiatan orang yang berpuasa di bulan Ramadlan yang menjadi faktor selamat dari neraka dalam hadits dideskripsikan dengan ‘pintu neraka ditutup’. Sedangkan kalimat ‘setan-setan dibelenggu’ adalah deskripsi perumpamaan dari tidak adanya pengaruh godaan setan di mana orang yang berpuasa tidak tergoda oleh ajakan melakukan kemaksiatan yang menjadi tipu daya setan. 

 

Maka, berdasarkan perspektif yang diutarakan oleh Syaikh Izzuddin ibnu Abdissalam, implementasi makna hadits di atas dalam kehidupan sehari-hari di bulan suci Ramadan ini sangat bergantung kepada individu umat Islam: semakin baik kualitas puasanya maka kian terbuka pintu surganya. Demikian pula semakin tertutup pintu neraka baginya dan semakin pula setan terbelenggu tidak punya daya untuk menggodanya. Dan begitu sebaliknya.

 

Sehingga kalau di bulan Ramadlan masih mewabah kemaksiatan, itu artinya kualitas puasa masih sekadar menahan lapar dan dahaga. Wallahu A'lam.

 

Penulis adalah santri Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil Demangan Barat Bangkalan Madura.


Editor:

Opini Terbaru