• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 4 Maret 2024

Keislaman

Sya’ban; Bulan yang Tidak Seharusnya Diabaikan

Sya’ban; Bulan yang Tidak Seharusnya Diabaikan
Ilustrasi bulan Sya'ban (Foto:NOJ/ bahrululumid)
Ilustrasi bulan Sya'ban (Foto:NOJ/ bahrululumid)

Oleh: Muhammad Nurravi Alamsyah*


Secara definitif, Sya’ban memiliki beragam takrif; ada yang menyebut, Sya’ban berasal dari “Sya’a Bana” yang berarti masyhur dan jelas; ada yang menyebut, Sya’ban berasal dari kata “al-Syibu” yang memiliki makna “jalan di pegunungan”; ada yang menyebut “al-Sya’bu”, yang berarti menambal, yakni Allah mengganti di dalam bulan itu atas hati-hati yang sedang pecah. (Alawi al-Maliki, Ma Dza Fi Sya’ban, 5) 


Menyoal tentang kualitas Sya’ban, Nabi Saw. pernah memproklamirkan, bahwa bulan Sya’ban adalah bulan beliau sendiri, dengan sabdanya; “Wa Sya’banu Syahrii”, yaitu Sya’ban adalah bulanku.  Secara implisit, pesan evokatif dari sabda Nabi Saw. adalah, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya saat memasuki bulan Sya’ban melelaui jalur syafaat agung Nabi Saw. (Al-Fasyni, Tuhfah al-Ikhwan, 13).  Bulan Sya’ban adalah bulan yang penuh keberkahan dan bertabur nilai positif. Bulan ini merupakan momentum yang tepat untuk bertaubat. Sehingga siapapun yang beramal baik di bulan Sya’ban, niscaya dia akan beruntung di bulan Ramadhan. (Abdul Hamid, Kanz al-Najah wa al-Surur, 149)


Meski Sya’ban adalah bulan yang penuh keutamaan, namun dalam realitanya, Sya’ban adalah bulan yang acapkali tidak diindahkan. Artinya, tidak sedikit umat Islam menanamkan mindset bahwa bulan ini adalah bulan prasaja (biasa-biasa saja), sehingga banyak umat Islam yang loyo atau dekandensi spiritual di bulan ini. Hal ini selaras dengan keprihatinan Nabi Saw. tentang Sya’ban:


ذَاكَ شَهْرٌ ‌يَغْفُلُ ‌النَّاسُ ‌عَنْهُ ‌بَيْنَ ‌رَجَبٍ ‌وَرَمَضَانَ


Artinya: “Yaitu bulan (Sya’ban) yang orang-orang sering lupa, yang terletak antara Rajab dan Ramadhan”


Menyelami maksud sabda Nabi Saw., alasan orang-orang mengabaikan Sya’ban adalah karena posisi bulan ini terletak di antara dua bulan yang keistimewaannya menggema di telinga masyarakat, yaitu Syahr al-Hurum “Rajab” dan Syahr al-Shiam “Ramadhan”. Walhasil, inilah salah satu faktor mengapa orang-orang lebih memprioritaskan dan menyibukkan diri untuk menekuni ibadah di dua bulan tersebut secara penuh, sehingga mereka abai dengan bulan Sya’ban. (Al-Qisthalany, Irshad al-Sari, 3/401).


Pada dasarnya, antara Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, ketiganya merupakan trilogi yang memiliki interelasi kuat satu sama lain. Hal ini seperti tamsil yang disampaikan oleh Ulama:
 

شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر للسقي و رمضان شهر حصاد الزرع


Artinya: Bulan Rajab adalah masa menanam, Bulan Sya’ban adalah masa memupuk/merawat, dan Bulan Ramadhan adalah masa memanen”.


Ilustrasi di atas menyodorkan pesan mendalam, bahwa sinergitas ketiga bulan tersebut merupakan satu kesatuan komplementer yang sama-sama harus diupayakan secara maksimal. Ibaratnya, jika seseorang menanam dengan baik, namun saat masa perawatan tidak di rawat dengan baik atau tidak dirawat sama sekali, maka saat panen tentu hasilnya tidak akan baik, atau bahkan tidak ada hasil yang dituai. Itulah refleksi Sya’ban, bahwa Sya’ban adalah momen terbaik untuk merawat dan memupuk. Tentunya, masa inilah yang menjadi periode inti untuk menentukan, apakah pada musim panen mendapat hasil yang baik atau tidak sama sekali.


Untuk menepis stigmatisasi terhadap Sya’ban, setidaknya ada beberapa alasan mengapa Sya’ban adalah bulan istimewa yang patut untuk mendapatkan atensi besar dari umat Islam:


Pertama, puasa. Telah masyhur, bahwa pada bulan Sya’ban, konon, Nabi Saw. melakoni puasa lebih banyak dibanding bulan-bulan lain. Tentu apa yang dilakukan Nabi Saw. memiliki nilai aksiologis yang tinggi. Hal ini sesuai narasi Ulama:


أما شهر شعبان: فكان يكثر فيه -صلى الله عليه وسلم- من الصيام؛ وذلك إما تعظيمًا لشهر رمضان وصومه، وجعل الصيام فيه كالراتبة قبل الفريضة في الصلاة، ولعلَّ من الحكمة في ذلك التمرن والاستعداد لصيام رمضان، فلا يأتي والنفس لم تعتد الصيام


Artinya: Adapun pada bulan Sya’ban, konon Nabi Muhammad memperbanyak puasa di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk memuliakan bulan setelahnya dan puasa di dalamnya, yaitu Ramadhan. Dengan demikian, posisi puasa Sya’ban itu seperti Sholat Rawatib sebelum Fardhu (Qabliyyah). Bisa jadi, hikmah puasa Sya’ban Nabi Saw. adalah sebagai ajang eksamen dan latihan diri untuk puasa di bulan Ramadhan. Jika sudah begini, maka akan lebih siap untuk menjalani puasa di bulan Ramadhan.” (Al-Bassam, Taudhih al-Ahkam, 3/538) 


Berpuasa satu bulan penuh tentu tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, baik dari lahir maupun batin. Dengan demikian, Nabi Saw. mengajarkan bahwa Sya’ban adalah momentum yang tepat untuk melatih diri agar terbiasa berpuasa sehingga dapat merasakan nikmat berpuasa. Dengan demikian, harapan dari latihan diri adalah agar umat Islam dapat berpuasa dengan energik di bulan Ramadhan.” (Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif, 134)


Kedua, Alquran. Terdapat sebagian atsar yang menamai bulan Sya’ban dengan Syahr Alquran. Memang benar, bahwa membaca Alquran adalah ibadah yang dianjurkan setiap waktu. Hanya saja, anjuran itu lebih ditekankan pada momen tertentu yang memiliki nilai sakral dan keberkahan di dalamnya; seperti di masa Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat tertentu seperti di Makkah dan Raudhah. (Alawi al-Maliki, Ma Dza Fi Sya’ban, 44).


Secara genealogis, asal mula penamaan Sya’ban dengan bulan Alquran adalah pengaduan Sya’ban. Kisah ini pernah disampaikan oleh Ulama sebagai berikut:


قال شعبان : يارب جعلتني بين شهرين عظمين فما لي ؟ قال : جعلت فيك قراءة القرأن


Artinya: Sya’ban bertanya: Tuhanku, engkau menjadikanku di antara dua bulan mulia, lantas apa yang Engkau istimewakan untukku? Tuhan menjawab: Aku telah menjadikan dirimu sebagai bulan untuk membaca Alquran.”


Status Sya’ban sebagai persiapan menyambut Ramadhan menjadikan apa yang disyariatkan di bulan Ramadhan juga disyariatkan di bulan Sya’ban, misalnya seperti: puasa, membaca Alqur’an, sholat, dsb. Hal ini dalam rangka ancang-ancang agar mampu mengejawantahkan segala ragam ketaatan spiritual secara total di bulan Ramadhan.


Mengenai keutamaan Alquran pada bulan Sya’ban, Konon, Habib bin Abi Tsabit saat memasuki bulan Sya’ban beliau berkata: “Bulan Sya’ban adalah bulan bagi orang-orang yang membaca Alquran”. Kemudian Amr bin Qais, konon, saat memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup kedainya, dan menghabiskan waktunya untuk membaca Alquran. (Ibnu Rajab, Lathaif al-Ma’arif, 135) 


Ketiga, nisfu Sya’ban. Setiap masing-masing bulan pastinya memiliki intrinsik klimaks atau priority power dalam aspek keunggulan. Abu Bakar al-Farafuri menyitir Abdul Hamid, beliau mengutarakan: 


فضل رجب في العشر الاول لاجل فضل اول ليلة منه, و فضل شعبان في العشر الاوسط لاجل ليلة النصف منه, و فضل رمضان في العشر الاخيرة منه لاجل ليلة القدر


Artinya:Keutamaan bulan Rajab adalah pada sepuluh malam pertama karena Inti keutamaannya pada awal rajab. Keutamaan Sya’ban adalah pada sepuluh hari pertengahan karena Inti keutamaanya pada pertengahan Sya’ban (nisf al-Sya’ban), sedangkan keutamaan Ramadhan adalah pada sepuluh terakhir karena Inti keutamaanya pada Lailatul Qadr.” (Al-Farafuri, Al-Yaqut Wa al-Marjan Fi Fadha’il Syahr Sya’ban, 54) 


Nisfu Sya’ban memiliki keunggulan yang luar biasa. Selain memiliki beragam titel, seperti lailah mubarakah (malam penuh berkah), lailah bara’ah (malam pembebasan dosa), dan lailah ijabah (malam pengabulan doa). Salah satu nas keunggulannya, bahwa malam nisfu Sya’ban merupakan salah satu dari lima kategori malam yang berpotensi besar akan terkabulkan doanya. Sebagaimana hadis Nabi Saw. tentang doa di malam nisfu Sya’ban:


خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة اول ليلة من رجب و ليلة النصف من شعبان و ليلة الجمعة و ليلة الفظر


Artinya: “Lima malam di mana doa yang tidak tertolak pada malam-malam itu; Malam Rajab, Malam pertengahan Sya’ban, Malam Jum’at, dan Malam Idul Fitri.” (HR. Ibnu ‘Asakir)


Dengan demikian, sudah semestinya masyarakat Islam untuk proaktif dalam menjalani ibadah di bulan Sya’ban. Bukan malah kendor atau apatis terhadap Sya’ban. Sebab, selain untuk mempersiapkan diri untuk menyongsong Ramadhan, mengoptimalkan ibadah di bulan Sya’ban adalah dalam rangka meraup ganjaran-ganjaran momen penting dalam bulan Sya’ban.
 

*Mahasiswa UIN SATU, Santri Hidayatul Mubtadi'in Tulungagung


Keislaman Terbaru