• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Khutbah

Ini Bahaya yang Mengancam Pegiat Media Sosial

Ini Bahaya yang Mengancam Pegiat Media Sosial
Hendaknya ekstra waspada saat bermedia sosial. (Foto: NOJ/Bf)
Hendaknya ekstra waspada saat bermedia sosial. (Foto: NOJ/Bf)

Khutbah Jumat NU Online Jatim kali ini mengangkat tema tentang anjuran untuk ekstra waspada dalam menggunakan medis sosial. Keberadaan teknologi dengan segala pirantinya hendaknya dapat dipergunakan untuk kebaikan dan sarana dakwah, bukan sebaliknya. Pada momentum khutbah ini adalah saat penting untuk saling mengingatkan umat Islam agar terus menjaga takwa dan berupaya menjadi muslim ideal.

Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bawah artikel ini. Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang menjaga lidah berjudul "Ini Bahaya yang Mengancam Pegiat Media Sosial". Semoga bermanfaat. (Redaksi)

 

Khutbah Pertama 

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا محمَّدٍ الصَّادِقِ الْوَعْدِ الْأَمِيْنِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِدِنَا محمَّدٍ قَائِدِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ [ق: ١٨]. وقال النبي ﷺ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ [رواه البخاري]   

 

Hadirin Hafidzakumullah
Meskipun masih dalam suasana kian menyebarnya virus Corona, pada siang ini kita masih diberikan kemauan dan digerakkan hati untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Ini tiada lain sebagai pengejawantahan takwallah atau takut kepada Allah. Menghadiri Jumat merupakan perwujudan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Semoga seiring dengan berjalannya waktu, kita selalu diberikan kekuatan untuk istikamah menjalankan ini.

 

Jamaah Rahimakumullah
Saat ini kita berada di zaman informasi tanpa sekat ruang dan waktu. Sebuah kejadian di belahan bumi yang lain, misalnya di Amerika, Jepang dan sebagainya, pada menit itu pula bisa kita mengakses informasinya tanpa menunggu beberapa hari kemudian. Hal ini tercipta dengan mudah setelah berkembangnya teknologi informasi dan media sosial (Medsos) di tangan mayoritas masyarakat dunia.

 

Bagai pedang bermata dua, di satu sisi, atas segala kemudahan penyebaran informasi, kita patut bersyukur karena media mencari informasi keilmuan terbuka luas, komunikasi bisnis sangat terbantu. Namun di satu sisi, lewat Medsos pula, orang bisa menjadi mudah melanggar norma-norma agama maupun tatanan sosial masyarakat. 

 

Dahulu orang hanya bisa membicarakan keburukan orang lain harus menunggu bertemu dan bertatap muka dengan lawan bicaranya terlebih dahulu, bicaranya terbatas dengan waktu dan itu pun pendengarnya hanya terbatas beberapa orang saja. Kini, dengan hadirnya Medsos, seseorang bisa menceritakan kekurangan orang lain hanya dengan apa yang ada dalam genggaman tangan, melalui tulisan, gambar, atau video yang bisa diproduksi dalam hitungan menit. Dalam waktu sebentar saja konten itu lalu menyebar ke mana-mana. Jutaan orang bisa mengakses dan hebatnya lagi, gunjingan di Medsos tidak akan pernah hilang sebelum dihapus. 

 

Menceritakan keburukan orang lain, dalam agama Islam dikenal dengan istilah ghîbah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah diceritakan, suatu ketika Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat, apakah kalian tahu apa itu ghibah? Maka para sahabat menjawab bahwa Allah dan Rasulnya yang lebih tahu. Kemudian Nabi menjawab: Ghibah adalah ketika kamu mengisahkan teman kamu tentang suatu yang tidak ia sukai. Lalu ada yang bertanya kepada Nabi, bagaimana kalau yang dikatakan memang sesuai fakta? Ya, kalau memang yang kamu katakan itu fatka, berarti kamu menggunjingnya. Namun jika yang kamu bicarakan tidak sesuai fakta, maka kamu membuat kedustaan terhadap dirinya. (HR Muslim).   

 

Jamaah yang Berbahagia
Dalam pergaulan kekeluargaan dan masyarakat, kemungkinan besar akan menemukan kekurangan orang di sekitar kita. Dan itu wajar, karena di sekeliling kita adalah manusia. Tak ada manusia tanpa kekurangan di dunia ini. Jika harus menuntut adanya manusia suci tanpa salah, seharusnya tuntutan tersebut terlebih dahulu untuk diri kita sendiri ketimbang orang lain. Apabila kita kerap mengaku, “Wah, saya ini manusia biasa yang terkadang tergelincir pada salah dan dosa,” seharusnya seperti ini pula kita bersikap kepada orang lain. Jangan kalau kita melakukan kesalahan minta dianggap wajar, tapi giliran orang lain yang melakukan kesalahan, tidak kita salahkan dan gunjing habis-habisan.   

 

Seseorang yang tidak mudah menganggap wajar kesalahan orang lain, ia akan mudah menceritakan kesalahan mereka. Sekarang, fasilitas yang paling praktis untuk menceritakan orang lain cukup banyak, mulai dari WA, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya. Peluang untuk mengungkapkan isi hati atau menceritakan kekurangan orang lain menganga besar.   

 

Pergunjingan kini tak hanya berupa pembicaraan secara lisan melainkan pula bisa berupa tulisan atau konten lainnya. Selama sarana tersebut efektif untuk menyampaikan keburukan, selama itu pula dosa mengalir. Artinya, dosa ghibah bukan hanya bersumber dari lidah tapi juga bisa tangan. 
Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil dalam kitab Is’adur Rafiq juz 2, hal. 105 menyatakan:   

 

وَمِنْهَا كِتَابَةُ مَا يَحْرُمُ النُّطْقُ بِهِ   

 

Artinya: Di antara maksiat tangan adalah menuliskan satu hal yang haram diucapkan. (Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil, Is’adur Rafiq, juz 2, hal. 105).   

 

Lebih jauh disampaikan bahwa menggunjing dan jenis dosa menulis yang lain justru dosanya lebih besar dan lebih langgeng. Sebab apa? Karena potensi jangkauan maksiat tersebut lebih luas, dan tidak akan bisa hilang dalam sekejap. Berbeda dengan ucapan, sekali disampaikan, langsung tidak ada bekasnya. Walaupun kebencian yang ditebar juga tetap berbahaya. Karena itu, baik melalui chat, telepon, video, sepanjang ada unsur menggunjingnya, hukumnya adalah haram. Keharaman ini berlaku baik menggunjing sesama muslim atau pun menggunjing non-muslim yang mereka tidak menyakiti kita.   

 

Hadirin Rahimakumullah 
Dalam bermedsos, di antara kita banyak pula yang menjadi silent reader atau pembaca pasif. Tidak pernah menuliskan status di Facebook, tidak pernah berkomentar di WA grup, namun aktif membaca ke sana kemari. Menjadi silent reader pun tak lantas terbebas dari jeratan ghibah. Sebagai silent reader, kita juga harus berhati-hati dalam memilih berteman, mem-follow atau men-subscribe siapa? Karena apabila kita salah memilih teman, berada pada grup yang keliru, men-subscribe orang-orang yang gemar menggunjing pihak lain, maka kita akan dengan mudah menjadi otomatis membaca berita gunjingan mereka.   

 

Dalam konteks Medsos, apabila ada postingan yang arahnya membicarakan keburukan orang lain, segera pindah ke konten lain yang lebih bermanfaat. Jangan justru gunjingan tersebut dibaca sampai selesai. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:  

 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ   

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurat: 12).   

 

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:  


 يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»   

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya" (HR Abu Dawud).

 

Akhirnya, marilah kita ekstra waspada di era yang serba cepat ini. Pandai dan selektif memilah pertemanan di media sosial agar terhindar dari hal yang menjerumuskan.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا،  ـ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ  

 


Editor:

Khutbah Terbaru