• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 25 April 2024

Khutbah

Khutbah Jumat Singkat: 2 Cara Menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan

Khutbah Jumat Singkat: 2 Cara Menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan
2 cara yang dapat dilakukan agar senantiasa menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan. (Foto: NOJ/NU Network)
2 cara yang dapat dilakukan agar senantiasa menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan. (Foto: NOJ/NU Network)

Naskah khutbah Jumat singkat ini memberikan penjelasan bagaimana cara yang dapat dilakukan agar bisa menghadirkan Rasulullah SAW dalam kehidupan. Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan agar umat Islam bisa menghadirkan Nabi, yakni dengan menjalankan beragam sunahnya, juga membaca shalawat dalam keseharian.

Senyampang berada di bulan Rabiul Awwal atau Maulid, maka umat Islam mendapatkan momentum yang tepat untuk selalu menghadirkan Nabi dalam kehidupan harian. Dengan demikian, maka akan semakin banyak insan di alam raya ini yang meneladani akhlak dan kebaikan Nabi Muhammad SAW.

Semoga naskah khutbah Jumat ini dapat menambah pandangan dan sudut pandang umat Islam khususnya dalam mengisi bulan Rabiul Awwal yang demikian istimewa. (Redaksi)

 

Khutbah I

 

 الْحَمْدُللهِ الْقَوِيّ سُلْطَانُهْ. اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهْ. اَلْمَبْسُوْطِ فِى الْوُجُوْدِ كَرَمُهُ وَاِحْسَانُهْ. تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظُمَ شَانُهْ. خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَهْ. وَطَوَى عَلَيْهَاعِلْمَهْ. وَبَسَطَ لَهُمْ مِنْ فَائِضِ الْمِنّةِ مَاجَرَتْ بِهِ فِى اَقْدارِهِ الْقِسْمَهْ


أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَه


اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَستَغفِرُونَ

 

Jamaah yang Dirahmati Allah SWT

Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih diberikan rahmat, hidayah, serta inayah oleh Allah SWT sehingga masih bisa mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat wal afiat. Sebagai wujud rasa syukur, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan. Yaitu dengan cara imtitsâlu awâmirillâh wajtinâbu nawâhîhi, yaitu menjalankan apapun yang diperintahkan oleh Allah dan berupaya dengan sungguh-sungguh menjauhi yang dilarang. Sebab dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: 


  إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

 

Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. (QS Al-Hujurat: 13)

 

Hadirin yang Berbahagia

Di antara nikmat agung yang dianugerahkan Allah dan barangkali banyak dari kita yang tidak menyadari wujud nikmat itu adalah kita dipilih sebagai umat Rasulullah SAW. Keistimewaan menjadi umat Rasulullah yang tidak diberikan kepada ummat nabi sebelumnya yaitu Allah tidak akan memberikan adzab kepada umat Rasulullah selagi berada di lingkungannya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 33 sebagai berikut: 


 وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمۡ وَأَنتَ فِيهِمۡۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمۡ وَهُمۡ يَستَغفِرُونَ


Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.

 

Menurut salah satu riwayat yang dikemukakan oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya, ayat ini diturunkan sehubungan dengan Abu Jahal melantunkan doa: 


 ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمطِرۡ عَلَينَا حِجَارَةٗ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيم

 

Artinya: Ya Allah, jika betul (Al-Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.


Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengutip perkataan Ibnu Abbas RA bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan adzab kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka.


Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Ayat ini memberikan gambaran, jika bisa menghadirkan Rasulullah dalam kehidupan kita, maka Allah SWT tidak akan menurunkan adzab. Lalu pertanyaannya, bagaimana cara kita menghadirkan Rasulullah dalam kehidupan saat ini?


Pertama, adalah dengan istiqamah menghidupkan sunnah-sunnahnya. Karena dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Rasulullah bersabda: 


 من أحيا سنّتي فقد أحياني ومن أحياني كان معي في الجنّة

 

Artinya: Barang siapa menghidupkan sunnahku, maka ia benar-benar menghidupkan aku, dan barang siapa menghidupkan aku, maka ia bersamaku di surga. (HR At-Tirmidzi)


Kata “menghidupkan aku” dalam teks hadits ini tentu yang dimaksud bukanlah secara zhahir Rasulullah SAW kembali hidup secara kasat mata di hadapan kita. Akan tetapi secara maknawi, Nabi selalu tergambar sebagai teladan dalam segala bentuk dan gerak aktivitas keseharian kita. Maka dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya, sama dengan sedang menghadirkan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita.


Jamaah yang Dimuliakan Allah SWT

Kemudian cara menghadirkan Rasulullah yang kedua adalah dengan memperbanyak ucapan salam penghormatan. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan dalam al-Qur’an: 


 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS: Al-Ahzab ayat 56)


Selain keutamaan shalawat yang begitu besar, ucapan salam juga memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana disabdakan dalam sebuah hadits: 


 مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

 

Artinya: Tidaklah seseorang memberikan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan nyawaku hingga aku membalas salamnya. (HR Abu Daud No.1745)

 


Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW setelah wafatnya masih dapat memberikan salam yang merupakan doa kepada umatnya. Sehingga kalau kita cermati, setiap redaksi salam, lebih banyak menggunakan dhamir mukhatab atau orang yang diajak bicara yang menyiratkan kedekatan Nabi Muhammad dengan kita. Seperti saat duduk tahiyat dengan ucapan salam “assalamu ‘alaika ayyuhan nabi” atau redaksi nasyid “Ya nabi salam ‘alaika” atau “assalamu ‘alaik zainal anbiya”. Hal ini juga yang menjadi landasan keyakinan bahwa Rasulullah SAW senantiasa hadir dalam majelis-majelis maulid yang diisi dengan bacaan shalawat dan salam untuknya dan kita berdiri menyambutnya.


Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Semoga Allah SAW senantiasa memudahkan kita untuk menghidupkan sunnah-sunnah nabi-Nya dan Allah membersamakan kita dengan Rasulullah di surga-Nya, amin ya rabbal ‘alamin..

 

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْأنِ اْلعَظِيْم، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْم، وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُم تِلاَوَتَهُ ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ


أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا


 أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ،


إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Khutbah Terbaru