• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 3 Desember 2022

Madura

Ikatan Keluarga Santri Annuqayah Raas Selenggarakan Sekolah Organisasi

Ikatan Keluarga Santri Annuqayah Raas Selenggarakan Sekolah Organisasi
Sekolah organisasi digelar Ikatan Keluarga Santri Annuqayah Raas Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Sekolah organisasi digelar Ikatan Keluarga Santri Annuqayah Raas Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Banyak cara yang dilakukan organisasi sosial keagamaan yakni Ormas untuk mengenalkan pesantren sebagai rahim Nahdlatul Ulama kala itu. Dimana pesantren sejak dulu hingga sekarang menjadi pusat penyiaran Islam dan  tempat pendidikannya kaum sufi.

 

Hal ini tidak terkecuali sebagaimana dilakukan Ikatan Keluarga Santri Annuqayah Raas Sumenep yang menggelar sekolah organisasi, Kamis (19/3). Kegiatan dipusatkan di ruang tamu Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, guna mengenalkan pesantren yang perkembangannya baru diketahui setelah abad ke-16.

 

Herdiyanto selaku panitia pelaksana menghadirkan aktivis NU Guluk-guluk yakni Firdaus untuk memberikan materi kepesantrenan kepada para peserta.

 

"Pesantren adalah lembaga yang berfungsi untuk membentuk para anggotanya agar bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana didirikannya masjid yang berfungsi untuk membangun ketakwaan bagi setiap Muslim," kata Ustadz Firdaus.

 

Dirinya menegaskan bahwa pesantren didirikan sebagai media pengabdian kepada Allah SWT untuk menjunjung tinggi agama atau li i'la'i kalimatillah guna membangun peradaban Islam. Hal tersebut sebagaimana kondisi pesantren zaman dahulu yang mencerminkan kesederhanaan secara menyeluruh.

 

"Pesantren mengajarkan kesederhanaan kepada santri. Hal ini dapat dilihat dari segi fisik bangunan, metode, bahan kajian dan perangkat belajar lainnya. Rasa keikhlasan yang dimiliki oleh kiai dan santri sangat terasa, hingga hubungannya melebihi dari orang tua,” jelasnya. 

 

Karenanya, tidak heran santri kerasan walaupun berjibaku sendiri memenuhi kebutuahan sehari-harinya, seperti menanak nasi, mencuci baju, kadang diminta untuk memperbaiki salah satu gedung yang sudah reot dimakan usia dengan alat sekadarnya. 

 

Dijelaskan juga bahwa masa pendidikannya tidak tertentu, kelulusannya berdasarkan keputusan kiai kadang pula atas kemauan santri. Ketika santri dinyatakan tamat oleh kiai, dirinya diminta untuk mengamalkan ilmu di daerahnya masing-masing. 

 

“Sebelum berangkat, kiai membekalinya dengan ijazah,” ungkapnya.

 

Disampaikannya juga keunggulan pesantren dapat diukur dari kegiatan santri dan keberhasilan alumni di masyarakat. Seperti santri selalu berpartisipasi dalam pendidikan formal dan non formal.

 

Demikian pula santri selalu melakukan hal positif untuk membekali dirinya di masa mendatang. Termasuk alumninya mengabdikan ilmu yang diperoleh untuk membangun masyarakat.

 

“Serta alumninya dapat diterima di masyarakat dan menjadi perekat umat, hingga para alumni dapat melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi di dalam atau luar negeri,” ungkapnya.

 

Di akhir acara, Faisol Akbar selaku moderator memberikan penegasan bahwa jati diri santri adalah moralitas dan kiai sebagai simbol kepemimpinan spiritual.

 

Acara bertambah sakral ketika acara ditutup dengan membaca shalawat burdah. Hal tersebut untuk mempererat ukhuwah an-Nahdliyah, islamiah dan wathaniah hingga dihindarkan dari bahaya dan wabah penyakit.

 

Kontributor: Firdausi
Editor: Syaifullah
 


Editor:

Madura Terbaru