• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Madura

Komisi Fatwa MUI Jatim Jelaskan Perintah Allah untuk Bertawasul

Komisi Fatwa MUI Jatim Jelaskan Perintah Allah untuk Bertawasul
Ilustrasi tawasul. (Foto: NU Online).
Ilustrasi tawasul. (Foto: NU Online).

Bangkalan, NU Online Jatim

Tawasul sebagai sebuah amaliah yang dilakukan warga Nahdlatul Ulama kerap dipermasalahkan oleh sebagian kalangan. Mereka menuduh hal tersebut sebagai laku yang sesat, haram, dan lain sebagainya.

 

Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur K Mukhtar Syafaat menjawab dan meluruskan tuduhan tersebut. Kiai Mukhtar menjelaskan, bahwa perdebatan dalam masalah tawasul sudah tidak perlu dibahas panjang lebar.

 

Sebab, menurut Kiai Mukhtar, Allah Swt telah memerintahkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 35, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya.”

 

“Kita diperintah oleh Allah swt untuk mencari wasilah dalam mendekatkan diri kepada-Nya, Cuma kemudian wasilah dalam ayat ini berbentuk apa?” ujarnya dilansir NU Online, Selasa (27/07/2021).

 

Menurut anggota tim perumus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Bangkalan itu, dalam hadis-hadis sahih dijelaskan bahwa wasilah dengan amaliah-amaliah yang baik itu tidak bisa dipungkiri (anjurannya).

 

Lebih lanjut, ia menceritakan tiga orang yang terkurung dalam sebuah goa, tertutup oleh batu yang sangat besar. Kemudian, mereka berwasilah dengan perbuatan-perbuatan baik yang pernah mereka lakukan. Akhirnya, mereka bisa lepas dari batu yang menutup gua tersebut.

 

“Kisah ini jelas membuktikan bahwa tawasul dengan perbuatan-perbuatan baik itu bukanlah suatu persoalan,” jelas Kiai Mukhtar.

 

Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Bangkalan itu juga menjelaskan, bahwa tawasul juga pernah dilakukan para sahabat Nabi. Salah satu cerita paling populer dan banyak disebutkan di dalam kitab adalah cerita tawasul para sahabat dengan paman Rasulullah Saw, ketika para sahabat saat itu dilanda kekeringan dalam satu masa.

 

“Dulu, di masa Rasulullah Saw, para sahabat langsung melakukan tawasul dengan Rasulullah. Namun, setelah Rasulullah wafat, para sahabat melakukan berdoa, dan doanya tidak Allah kabulkan. Kekeringangan tetap terjadi,” kisah Kiai Mukhtar.

 

Hingga kemudian, ada beberapa sahabat yang berinisiatif untuk tawasul dengan paman Rasulullah, yaitu Sayyidina Abbas. Akhirnya, ketika itu, salah satu dari para sahabat berdoa, “Kami bertawasul dengan Rasulullah dulu, engkau (Allah) hujani kami, dan sekarang kami tawasul dengan paman Rasulullah hujanilah kami kembali.” Setelah tawasul itu, akhirnya Allah mengabulkan doa tersebut dan para sahabat diberi hujan.

 

Menurut Kiai Mukhtar, tawasul semacam ini merupakan tawasul dengan dzat (benda) untuk dijadikan wasilah mendekatkan diri kepada Allah Swt.

 

 

“Hal seperti ini merupakan hal yang biasa. Wong memang oleh Allah sendiri juga diperintahkan, tinggal tawasulnya yang baik, jangan sampai menggunakan media-media diharamkan atau yang mengundang pada kesyirikan,” pungkasnya.


Madura Terbaru