• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 23 Mei 2024

Matraman

Tiga Potret Perjuangan Kiai Bisri Syansuri: Kiai, Pengabdi dan Politisi

Tiga Potret Perjuangan Kiai Bisri Syansuri: Kiai, Pengabdi dan Politisi
Gus Salam dalam acara haul puncak KH Bisri Syansuri di Pesantren Denanyar, Jombang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)
Gus Salam dalam acara haul puncak KH Bisri Syansuri di Pesantren Denanyar, Jombang. (Foto: NOJ/Sufyan Arif)

Jombang, NU Online Jatim

Siapa yang tidak mengenal KH Bisri Syansuri. Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini adalah pendiri Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang. Namun, selain sebagai kiai, ternyata sosok ulama kharismatik ini adalah politisi andal yang tak lelah memperjuangkan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.

 

Hal itulah yang disampaikan KH Abdus Salam Shohib atau yang biasa disapa Gus Salam saat malam puncak Haul ke-43 KH Bisri Syansuri di Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Kabupaten Jombang, pada Selasa, (01/02/2022) malam.

 

Gus Salam menuturkan, perjuangan dakwah Kiai Bisri sudah tidak diragukan lagi kegigihannya. Berbekal sebidang tanah yang diberikan Kiai Hasbullah Sa'id Tambakberas yang tak lain mertuanya sendiri, Kiai Bisri mulai merintis pesantren di Denanyar pada tahun 1917 yang lokasinya ada di dekat pabrik gula.

 

"Dahulu, setiap tempat yang dekat dengan pabrik itu rawan kriminalitas, termasuk prostitusi. Beliau pertama kali datang ke sini dari satu pintu ke pintu mengajak warga untuk shalat dan belajar shalat. Bukan sambutan baik yang diterima beliau, malah kadang-kadang dilempar kotoran kuda. tapi tidak pernah putus asa. Besoknya datang lagi mengajak masyarakat Denanyar menjadi Muslim yang benar," cerita Gus Salam.

 

Selain kegigihannya dalam berdakwah, Kiai Bisri cinta pada ilmu. Hal itu dia buktikany dengan mewakafkan Pesantren Mambaul Ma'arif rintisannya. Bahkan, dia berpesan kepada keturunannya untuk mau berjuang di pesantren tersebut.

 

"Pada saat menjelang wafat, beliau memanggil salah satu santri, namanya Kiai Kholil, menyampaikan dengan bahasa Jawa yang intinya semua tanah yang dimiliki Kiai Bisri di Denanyar ini diwakafkan untuk pesantren. Keturunan beliau tidak boleh menjualnya, bahkan yang mau menempatinya harus mau ngajar di pondok," imbuh Gus Salam.

 

Cucu Kiai Bisri itu melanjutkan, potret kedua dari sosok kakeknya adalah loyalitas dan pengabdiannya kepada NU yang tidak pernah pudar. Bahkan, perbedaan pendapat dengan Kiai Wahab Chasbullah tak membuat Kiai Bisri hengkang dari NU. Kiai Bisri mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU hingga wafat.

 

"Pada tahun itu, Bung Karno membubarkan DPR dan akan membuat DPR yang langsung ditunjuk Bung Karno. NU yang saat itu menjadi partai ditawari oleh Bung Karno. Lah, ini ada dinamika sangat keras yang berbeda antara Mbah Wahab dan Mbah Bisri. Mbah wahab menyatakan mau ikut dengan tawaran Bung Karno dengan membentuk dan menyetorkan nama anggota DPR tanpa melalui pemilu," ungkap Gus Salam.

 

Perbedaan antardua ulama besar itu tentunya memiliki alasan dan hujjah. Gus Salam mengatakan, Kiai Wahab berasalan jika masuk terlebih dahulu, amar ma'ruf nahi mungkar bisa semakin mulus, nanti jika gagal tinggal keluar saja sudah beres. Sedangkan Kiai Bisri yang dikenal sebagai ahli fiqih yang konsisten dengan pendapatnya beralasan, DPR sesuai namanya adalah wakil rakyat yang harus dipilih rakyat.

 

"Maka menurut Mbah Bisri, itu termasuk ghasab atau menguasai hak orang lain. Tapi karena waktu, maka NU harus mengambil keputusan yang pada akhirnya Mbah Wahab mengambil keputusan ikut dengan tawarannya Bung Karno," ucap Gus Salam.

 

Keputusan itu tak lantas membuat Kiai Bisri kecewa. Gus Salam menyimpulkan, Kiai Bisri meskipun berbeda pendapat dengan Kiai Wahab tetap mendukung arah kebijakan organisasi. Sehingga, putri Kiai Bisri sendiri, Nyai Solichah, yang tak lain ibunya Gus Dur ditunjuk Kiai Wahab untuk masuk di DPR. Kiai Bisri tak melarang bahkan memberikan semangat.

 

"Kepentingan pribadi beliau singkirkan dan sam'an wa ta'atan terhadap organisasi," tegas Gus Salam.

 

Potret ketiga dari sosok Kiai Bisri adalah politisi andal yang memperjuangkan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah. Gus. salam menuturkan, sebagai anggota DPR waktu itu, peninggalan perjuangan Kiai Bisri bisa dirasakan manfaatnya hingga hari ini oleh masyarakat Indonesia.

 

"Undang-undang Perkawinan itu adalah hasil bahtsul masail dan hasil rembukannya Mbah Bisri dengan ulama se-Jombang untuk menyusun rancangan Undang-undnag Perkawinan kemudian disetorkan ke DPR dan menjadi keputusan," pungkas Gus Salam.


Matraman Terbaru