• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Metropolis

Hari Batik Nasional, Mahasiswa Unusida Sosialisasi Pengolahan Limbah Tekstil

Hari Batik Nasional, Mahasiswa Unusida Sosialisasi Pengolahan Limbah Tekstil
Mahasiswa Unusida saat sosialisasi. (Foto: Maschan Yusuf).
Mahasiswa Unusida saat sosialisasi. (Foto: Maschan Yusuf).

Sidoarjo, NU Online Jatim

Tanggal 2 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Tentang batik, terdapat pengrajin yang membuat sebuah kain biasa menjadi sebuah karya seni yang memiliki nilai budaya serta estetika serta nilai jual tinggi.

 

Di satu sisi, semakin banyaknya pengrajin batik saat ini ternyata juga menimbulkan dampak negatifnya. Yaitu limbah cair tekstil yang dihasilkan, baik berupa zat warna, naptol, indigosol, maupun logam berat yang dapat mencemari lingkungan.

 

Menyikapi hal itu, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) menggelar sosialisasi tentang pengolahan limbah cair tekstil yang dipusatkan di salah satu rumah warga pengrajin batik, Kampung Jetis, Kelurahan Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (02/10/2021).

 

Sosialisasi tersebut merupakan tindak lanjut dari Program Hibah Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) yang sebelumnya dinyatakan lolos dalam tahap pendanaan.

 

Turut hadir Wakil Rektor Unusida, Hadi Ismanto, Kepala Biro Kemahasiswaan, Ali Masykuri, Dekan Fakultas Teknik Unusida, Luqman Hakim, Pembimbing tim PHP2D Fakultas Teknik, Listin Fitrianah, serta Hesti Kurniahu, Fitoteknologi Universitas PGRI Ronggolawe Tuban yang menjadi narasumber.

 

Hadi Ismanto menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung langkah mahasiswa Fakultas Teknik Unusida yang dapat menerapkan hasil belajarnya dengan melakukan pengabdian di masyarakat.

 

Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada mitra yang telah memberikan kepercayaan penuh kepada mahasiswa sehingga dapat menerapkan hasil belajarnya untuk membantu meningkatkan kualitas UMKM batik serta mengatasi permasalahan lingkungan di masyarakat.

 

"Saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut untuk belajar saja, akan tetapi juga dituntut untuk dapat menerapkan hasilnya di masyarakat, ini yang menjadi nilai plus dari seorang mahasiswa," ujarnya.

 

Sementara itu, Hesti Kurniahu menjelaskan metode yang ditawarkan oleh mahasiswa Unusida ini merupakan cara yang sebenarnya semua orang dapat melakukannya secara mandiri. Karena cukup menggunakan peralatan yang sederhana serta tumbuhan yang dapat dijangkau dengan mudah. Di antaranya eceng gondok, tanaman tasbih, Alang-Alang Air, Melati Air, teratai dan lain sebagainya.

 

"Sebenarnya metode fitoremidiasi ini adalah suatu cara yang mudah, murah, serta tidak membutuhkan tempat yang luas, akan tetapi tidak banyak orang mengetahui manfaat lebih dari tumbuhan disekitar kita," jelas Hesti.

 

Tampak antusiasme warga di Kampung Jetis yang diperkenalkan sebuah reaktor dengan menggunakan metode fitoremidiasi dengan memanfaatkan tumbuhan disekitar yang dapat menyerap dan menetralisir kontaminan atau zat pencemar yang selama ini menimbulkan pencemaran akibat tidak diolah menjadi benar.

 

Ketua tim, Khilyatul Afkar mengatakan selama 6 bulan ini timnya akan memfasilitasi 12 reaktor untuk para perajin batik di Kampung Jetis dan sekitarnya. Selain itu, ia bersama tim akan melakukan pendampingan secara rutin guna memastikan para warga dapat mengolah limbah dengan benar.

 

"Kami akan pantau secara rutin setiap 2 minggu sekali untuk melihat perkembangan pengolahan limbah tekstil di kampung batik ini. Selain itu, kita juga menyediakan grup WhatsApp untuk para mitra sebagai wadah konsultasi secara daring," ungkapnya.

 

 

Karena bertepatan dengan hari batik nasional, Khilya berharap batik tidak hanya dikenal dunia sebagai nilai budaya dari Indonesia, akan tetapi limbah batik juga harus ramah dengan lingkungan sekitar untuk menjaga agar selalu bersih dan asri.

 


Editor:

Metropolis Terbaru