• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Metropolis

Ilmu Falak Tetap Diajarkan di Pesantren Mahika Sidoarjo

Ilmu Falak Tetap Diajarkan di Pesantren Mahika Sidoarjo
Alat Rubu' Mujayyab digunakan untuk praktek ilmu falak oleh santri Mahika Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)
Alat Rubu' Mujayyab digunakan untuk praktek ilmu falak oleh santri Mahika Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.(Foto: NOJ/Yuli Riyanto)

Sidoarjo, NU Online Jatim

Ilmu falak (astronomi) merupakan ilmu yang khusus mempelajari tentang tata lintas benda-benda angkasa (bumi, bulan, dan matahari) secara sistematis dan ilmiah, demi kepentingan umat manusia.

 

Ilmu falak mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Di antaranya adalah untuk menentukan awal waktu shalat, arah kiblat, rukyatul hilal, dan untuk mengetahui kapan terjadinya gerhana matahari atau bulan.

 

Sejak awal perkembangannya di Indonesia, ilmu falak tidak bisa dipisahkan dari dunia pesantren. Para ulama terdahulu membawa ilmu falak setelah mereka belajar kepada guru-guru mereka yang ada di dalam maupun luar negeri, kemudian mengajarkan kepada santri-santrinya melalui pesantren.

 

Dewasa ini ilmu falak mulai langka dipelajari serta kurang diminati di dunia pesantren. Ilmu falak kalah populis dengan ilmu-ilmu lain seperti ilmu nahwu, saraf, tahfidz Al-Qur’an ataupun hadits. Sebagian elemen menganggap ilmu falak sebagai sebuah ilmu yang sulit untuk dipelajari, karena identik dengan matematika dan rumus-rumus perhitungan seperti halnya ilmu fara'idl (hukum waris).

 

Salah satu pesantren yang masih istiqamah mengajarkan dan melakukan pengembangan ilmu falak kepada santri-santrinya adalah Pesantren Manba'ul Hikam (Mahika) Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

 

H Agus Arifuddin atau Gus Agus, selaku guru pengajar ilmu falak di Pesantren Mahika menuturkan, ilmu falak adalah ilmu langka yang harus dilestarikan dan dikembangkan karena memiliki peranan penting bagi umat Islam.

 

“Salah satu upaya mempertahankan ilmu falak di Pesantren Mahika dengan memasukkan ilmu falak ke dalam kurikulum pendidikan pesantren yakni untuk santri kelas IV, V, VI madrasah diniyah. Ilmu falak adalah ilmu yang langka jadi ada semangat untuk mempertahankannya,"  tuturnya kepada NU Online Jatim, Selasa (07/09/2021).

 

Dijelaskannya, pesantren yang didirikan sejak tahun 1984 oleh almaghfurlah KH M Chozin Mansur, salah satu murid Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari tersebut memberikan pendidikan ilmu falak sejak awal berdirinya pesantren.

 

Adapun kitab-kitab falak yang diajarkan di Pesantren Mahika hingga saat ini di antaranya adalah Kitab Durusul Falakiyyah yang masih mempertahankan alat yang biasa disebut Rubu' Mujayyab. Alat ini digunakan untuk menghitung sudut benda-benda langit, menghitung waktu, menentukan waktu shalat, kiblat, dan posisi matahari dalam berbagai macam kontelasi (rasi) sepanjang tahun.

 

“Selain itu ada Kitab Fathu Ro'ufil Mannan, dan Ephemeris. Adapun kitab tambahan untuk menambah khazanah ilmu falak sekaligus memperdalam ilmu tersebut yakni Kitab Sullamun Nairoini, Faidhul Karim Ar Rouf, Durrul Aniq, Tsamrotul Fikr, dan beberapa kitab lainnya,” jelas alumni Pesantren Mahika yang pernah diasuh langsung oleh KH M Chozin Mansur tersebut.

 

Menurutnya, untuk mengembangkan ilmu falak perlu dipadukan dengan ilmu astronomi modern. Untuk saat ini, ilmu falak klasik juga banyak berkreasi, salah satunya mengkombinasikan dengan data astronomi modern sehingga akurasi perhitungan juga semakin presisi.

 

“Alhamdulillah, ilmu falak dewasa ini berkembang lebih pesat, seperit adanya aplikasi waktu shalat digital, aplikasi kalender Islam, aplikasi arah kiblat, dan yang lainnya. Itu juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah lewat BHR-nya (Badan Hisab Ru'yat) yang bersinergi dengan lembaga falak organisasi keislaman seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan lainnya,” ujar Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Sidoarjo ini.

 

Gus Agus mengungkapkan, awalnya ilmu falak di Pesantren Mahika memiliki dua sanad, yakni Kiai Chozin Mansur dari KH Abd Mu'thi Bangil (Kitab Sullamun Nayroin) dan Buya juga Abah Mursyidin beserta santri senior lainnya belajar kepada KH Mahfudz Anwar Jombang (Kitab Fathur Ro'ufil Mannan).

 

“Selanjutnya terus berkembang lewat keikutsertaan pada diklat kader ulama falak nasional dan  Jatim. Banyak alumni Pesantren Mahika yang saat ini masih aktif menjadi pengurus PC LFNU Sidoarjo seperti Ustadz Khoirul Anam, Ustadz M Makmur, dan Ustadz Sirojul Munir,” ungkapnya.

 

 

Menantu KH Achmad Noer Mansur Ketegan ini berharap, kedepan lahir generasi-generasi baru yang kreatif, agar ilmu falak semakin mudah dipelajari, sehingga lebih banyak peminatnya dan lebih maslahat untuk umat.

 

Editor: Romza


Editor:

Metropolis Terbaru